Surah al-Israa’ 4

Ayat 90-93, yaitu firman Allah ta’ala,

“Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dan bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca”. Katakanlah: “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?” (al-Israa’: 90-93)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur Ibnu Ishaq dari seorang syeikh penduduk Mesir dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, bahwa Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah Abu Sufyan, seorang lelaki dari Bani Abdud Daar, Abul Bakhtari (saudara Bani Asad), al-Awsae ibnul-Muththalib, Zam’ah ibnul-Aswad, al-Walid ibnul-Mughirah, Abu Jahal bin Hisyam, Abdullah bin Abi Umayyah, Umayyah bin Khalaf, al-‘Ash bin Wa’il, serta Nabih dan Munabbih (dua putra al-Hajjaj as-Sahmi) berkumpul dan berkata, “Hai Muhammad, kami tidak pernah menjumpai seseorang dari bangsa Arab yang mendatangkan kepada kaumnya seperti apa yang kamu datangkan kepada kaummu. Kamu caci leluhur, kamu hina agama, dan kamu cemooh tuhan-tuhan serta kamu pecah belah persatuan. Tidak ada satupun perbuatan yang tidak kamu lakukan. Kalau kamu membawa ajaran ini untuk mencari harta kekayaan, kami akan kumpulkan harta benda kami untukmu sehingga kamu menjadi orang terkaya di antara kami. Kalau yang kamu cari adalah kemuliaan di tengah kami, kami akan angkat dirimu menjadi pemimpin kami. Kalau kamu mau jadi raja, kami akan menobatkanmu menjadi raja kami. Kalau yang mendatangimu itu adalah mimpi yang membuatmu kesurupan, kami akan keluarkan harta kami untuk mencari obatnya untuk menyembuhkanmu, dan kami pun akan maklum akan keadaanmu.”

Rasulullah menjawab, “Aku tidak menghendaki seperti apa yang kalian katakan, tapi Allah mengutusku kepada kalian sebagai rasul, menurunkan kitab kepadaku, dan memerintahkan agar aku memberi peringatan dan kabar gembira kepada kalian.”

Mereka berkata, “Kalau kamu tidak menerima tawaran kami, kamu tahu bahwa manusia yang paling sempit negerinya dan paling sedikit hartanya serta paling sulit kehidupannya adalah kami. Karena itu, mintakan kepada Tuhanmu yang mengutusmu agar Dia menyingkirkan gunung-gunung itu yang mengurung kami, menghamparkan negeri kami, mengalirkan sunga-sungai di sana seperti sungai-sungai Syam dan Irak, dan membangkitkan leluhur kami yang telah meninggal dunia. Kalau kamu tidak melakukan hal itu, mintalah Tuhanmu mendatangkan malaikat yang membenarkan apa yang kamu katakan… Mintalah kepada-Nya taman-taman, harta karun, serta istana yang terbuat dari emas dan perak. Mintalah Dia menjadikanmu kaya raya seperti yang kami lihat kamu menginginkannya, di mana kamu berdagang di pasar dan mencari nafkah. Kalau kamu tidak melakukannya, timpakan langit berkeping-keping ke atas kami sebagaimana kamu klaim bahwa Tuhanmu menghendaki maka Dia akan melakukannya. Kami tidak akan beriman kepadamu kecuali kalau kamu melakukan hal tersebut.”

Akhirnya Rasulullah bangkit menjauhi mereka. Beliau diikuti oleh Abdullah bin Abi Umayyah, yang lalu berkata, “Hai Muhammad, kaummu memberi tawaran kepadamu tapi kamu tidak menerimanya. Lalu mereka meminta beberapa hal untuk diri mereka agar mereka mengetahui kedudukanmu di sisi Tuhanmu, tapi kamu juga tidak melaksanakannya. Kemudian mereka memintamu menimpakan azab yang kamu ancamkan kepada mereka. Demi Allah, selamanya aku tidak akan beriman kepadamu kecuali jika kamu membuat tangga untuk mendaki ke langit dan aku melihatnya, hingga kamu tiba di langit dan kembali sambil membawa satu kitab yang terbuka dan kamu diiringi empat orang malaikat yang bersaksi bahwa kamu memang benar seperti apa yang kamu klaim.” Maka Rasulullah pergi dengan bersedih hati. Maka Allah menurunkan kepada beliau berucap ucapan Abdullah bin Abi Umayyah itu, “”Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air …,'” hingga firman-Nya di ayat 93, “”Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?” (310)

Sa’id bin Manshur meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Sa’id ibnuz-Zubair mengenai firman-Nya, ‘”Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air …,'” dia berkata, “Ayat ini turun tentang saudara lelaki Ummu Salamah, yakni Abdullah bin Abi Umayyah. Riwayat ini mursal shahih, menjadi penguat riwayat sebelumnya, dan menggantikan rawi yang misterius dalam sanadnya.” (311)

Ayat 110, yaitu firman Allah ta’ala,

“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. (al-Israa’: 110)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Mardawaih dan lain-lain meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa pada suatu hari di Mekah Rasulullah berdoa. “Ya Allah Ya Rahman!” Maka orang-orang musyrik menukas, “Lihatlah orang murtad ini! Dia melarang kita berdoa kepada dua Tuhan sedangkan dia sendiri berdoa kepada dua Tuhan! Maka Allah menurunkan ayat, “Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik)…” hingga firman-Nya, “…dan janganlah kamu mengeraskan suaramu.” (312)

Al-Bukhari dan lain-lain meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firman-Nya, “…dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu” katanya, “Ayat ini turun ketika Rasulullah masih dalam gerakan dakwah sembunyi-sembunyi di Mekah. Saat itu apabila shalat dengan para sahabat, beliau membaca Al-Qur’an dengan suara keras. Dan apabila mendengar bacaan Al-Qur’an, orang-orang musyrik pasti mencacinya, memaki Allah yang menurunkannya, serta memaki orang yang membawanya. Maka turunlah ayat ini.” (313)

Al-Bukhari juga meriwayatkan dari Aisyah bahwa ayat ini turun tentang doa. (314)

Ibnu Jarir meriwayatkan hal serupa dari jalur Ibnu Abbas. Kemudian beliau mentarjih riwayat yang pertama karena sanadnya lebih shahih. Demikian pula ditarjih oleh an-Nawawi dan lain-lain.

Kata al-Hafizh Ibnu Hajjar, “Akan tetapi bisa pula kedua riwayat tersebut dikompromikan, yaitu bahwa ayat ini turun tentang doa di dalam shalat.”

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah, katanya, “Rasulullah, apabila shalat di dekat Ka’bah, mengucapkan doa dengan surara keras. Maka turunlah ayat ini.” (315)

Ibnu Jarir dan al-Hakim meriwayatkan dari Aisyah, katanya, “Ayat ini turun tentang tasyahhud.” Riwayat ini menjelaskan maksud (Aisyah) dalam riwayat sebelumnya.

Ibnu Manii’ dalam Musnad-nya menyebutkan riwayat dari ibnu Abbas bahwa dahulu kaum muslimin mengucapkan doa dengan suara lantang, “Ya Allah, berilah aku rahmat!” Maka turunlah ayat ini, memerintahkan mereka agar tidak terlalu perlahan dan tidak terlalu keras (dalam mengucapkan doa). (316)

Ayat 111, yaitu firman Allah ta’ala,

“Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.(al-Israa’: 111)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan, “Allah mengambil anak.” Sementara orang-orang Arab mengatakan, “Kami penuhi panggilan-Mu! Tiada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu-Mu; Engkau memilikinya dan apa yang ia miliki.” Sedangkan orang-orang shaabi’ dan Majusi berkata, “Kalau bukan karena para wali Allah, niscaya Dia jadi hina.” Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya.” (317)

310. Dhaif, disebutkan Ibnu Jarir (15/110), dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Ishaq, seorang yang jujur tapi mudallis, dan dia meriwayatkan dengan cara ‘an’anah. Lebih dari itu jati diri syekhnya juga tidak diketahui. Dengan demikian hadits ini lemah.

311. Mursal, diriwayatkan oleh Ibnu Jarir (15/111). Al-Qurthubi menambahkan (5/4056) bahwa di antara orang-orang tersebut adalah an-Nadhr ibnul-Harits. Silahkan lihat al-Wahidi (hlm. 246-247).

312. Disebutkan oleh Ibnu Katsir (3/98) dan dinisbatkannya kepada Ibnu Jarir, dan riwayat ini lemah. Al-Qurthubi (5/4072) mengatakan bahwa orang-orang Yahudi berkata, “Mengapa di dalam Al-Qur’an kami tidak mendengar sebuah nama yang sering disebut di dalam Taurat?!” Yang mereka maksud adalah nama ar-Rahmaan. Maka turunlah ayat ini.

313. Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (4722) dalam at-Tafsiir.

314. Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (7526) dalam at-Tauhiid.

315. Disebutkan oleh al-Qurthubi dari Aisyah dan dinisbatkannya kepada Muslim (3/99). Menurut saya, hadits ini memang terdapat dalam shahih Muslim (446) dalam Kitaabush Shalaah.

316. Lihat Ibnu Jarir (15/112). Kata Ibnu Katsir (3/99), “Ibnu Jarir mengatakan… dari Muhammad bin Sirin, ‘Aku diberi tahu bahwa Abu Bakar, apabila shalat dan membaca ayat, merendahkan suaranya; sementara Umar malah meninggikan suaranya. Maka seseorang berakta kepada Abu Bakar, ‘Mengapa kamu berbuat demikian?’ Ia menjawab, ‘Aku bermunajat kepada Tuhanku, dan Dia sudah tahu hajatku.’ Orang tersebut mengatakan, ‘Bagus!’ Orang itu bertanya kepada Umar, “Mengapa engkau berbuat demikian?’ Ia menjawab, ‘Aku mengusir setan dan membangunkan orang yang tertidur.’ Kata orang itu, ‘Bagus!’ Maka turunlah ayat ini.'” Catatan penerjemah: melihat konteks percakapan di atas, terdapat kemungkinan bahwa yang berbicara kepada Abu Bakar dan Umar adalah Rasulullah sendiri.

317. Disebutkan oleh Ibnu Katsir (3/100), “Rasulullah menyebutnya ayat ‘al-Izz (keagungan). “Kata al-Qurthubi (5/4074), “Ayat ini membantah masing-masing perkataan orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Arab, ‘Uzair, Isa, dan para malaikat adalah keturunan Allah.’ Allah Mahatinggi dari apa yang mereka katakan.”

Sumber: Diadaptasi dari Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, atau Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie (Gema Insani), hlm. 352 – 357.