Hukum Meyakini Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam Adalah Salah Satu Cahaya Allah

Bagaimana hukumnya orang yang meyakini bahwa Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam adalah salah satu cahaya Allah, bukan manusia, mengetahui alam ghaib, dapat dimintai pertolongan, dapat mendatangkan manfaat dan menolak bahaya? Bolehkan kita shalat di belakang orang seperti ini atau orang yang semisal dengannya? Jelaskan kami jazakumullah?

Jawaban:

Siapa yang meyakini bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam adalah cahaya Allah, bukan manusia dan mengetahui alam ghaib adalah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dia termasuk musuh Allah dan Rasul-Nya, bukan wali Allah dan Rasul-Nya, sedangkan orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya adalah kafir. Dalil yang menunjukkan bahwa tindakanna ini mendustakan Allah dan Rasul-Nya adalah firman Allah, “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Al-Kahfi: 110).

Kemudian firman Allah, “Katakanlah: “tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65).

Kemudian firman Allah, “Katakanlah: aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” (Al-An’am:50).

Serta firman Allah, “Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. dan Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (Al-A’raaf:188).

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya saya adalah manusia seperti kalian, saya lupa seperti kalian lupa, maka jika saya lupa, mereka mengingatkanku.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).

Siapa yang meminta pertolongan kepada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dengan meyakini bahwa beliau dapat memberi manfaat dan menolak mudharat, maka dia kafir dan telah mendustakan Allah serta menyekutukan-Nya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina”. (Ghaafir:60).

Kemudian Allah berfirman, “Katakanlah: “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. dan Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka Sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (Al-Jin: 22-23).

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda kepada kerabat-kerabatnya, “Saya tidak bisa menyelamatkan kalian dari adzab Allah sama sekali.” (HR Muslim).

Beliau mengatakan hal itu kepada Fatimah dan Shafiyah bibi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sendiri.

Dengan demikian shalat di belakang orang seperti itu dan orang yang semisal dengannya tidak diperbolehkan dan tidak sah shalat di belakangnya, serta tidak halal menjadikannya sebagai pemimpin umat Islam.

Sumber: Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, Fatawa arkaanil Islam atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, terj. Munirul Abidin, M.Ag. (Darul Falah 1426 H.), hlm 99 – 101.