Asbabun Nuzul Surah al-Mu’minuun

Ayat 2, yaitu firman Allah ta’ala,

“(yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya.(al-Mu’minuun: 2)

Sebab Turunnya Ayat

Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah, apabila shalat, mengangkat kepalanya memandang ke arah langit. Maka turunlah ayat, “(yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya.” Maka beliau menundukkan kepalanya. (366)

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dengan lafazh, “Rasulullah dahulu menoleh pada waktu shalat.”

Sa’id bin Manshur dan Ibnu Sirin meriwayatkan secara mursal dengan lafazh, “Beliau dahulu membolak-balikkan pandangannya, maka turunlah ayat ini.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Sirin secara mursal, “Para sahabat dahulu memandang ke arah langit pada waktu shalat, maka turunlah ayat ini.” (367)

Ayat 14, yaitu firman Allah ta’ala,

“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (al-Mu’minuun: 14)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Umar berkata, “Aku betulan cocok dengan Tuhanku dalam empat ayat yang turun. Ketika turun ayat, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah,” (al-Mu’minuun: 12) aku berucap, “…Mahasuci Allah, pencipta yang paling baik.” (368)

Ayat 67, yaitu firman Allah ta’ala,

“Dengan menyombongkan diri terhadap Al Qur’an itu dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya di waktu kamu bercakap-cakap di malam hari.(al-Mu’minuun: 67)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Sa’id ibnuz-Zubair bahwa dahulu Quraisy biasa bercakap-cakap di malam hari di sekitar Ka’bah. Mereka tidak berthawaf, hanya menyombongkan diri. Maka Allah menurunkan ayat, “Dengan menyombongkan diri terhadap Al Qur’an itu…” (369)

Ayat 76, yaitu firman Allah ta’ala,

“Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka , maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.(al-Mu’minuun: 76)

Sebab Turunnya Ayat

An-Nasa’i dan al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Abu Sufyan datang menemui Nabi saw. lalu berkata, “Muhammad, ingatlah Allah dan hubungan kekerabatan kita! Kita sampai makan ‘ilhiz campur darah!” Maka Allah menurunkan ayat, “Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka , maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.” (370)

Al-Baihaqi meriwayatkan dalam ad-Dalaa’il dengan lafazh, “Ketika Tsumamah bin Atsal al-Hanafi dihadapkan kepada Nabi saw. sebagai tawanan, beliau melepaskannya dan dia kemudian masuk Islam. Lalu dia pergi ke Mekah, kemudian kembali ke Yamamah. Dia lalu menghalangi datangnya bahan makanan ke Mekah dari Yamamah, hingga orang-orang Quraisy terpaksa makan ‘ilhiz. Maka Abu Sufyan datang menemui Nabi saw. dan berkata, ‘BUkankah kamu mengatakan bahwa kamu diutus sebagai rahmat bagi alam semesta?’ Beliau menjawab, ‘Ya’. Kata Abu Sufyan, ‘Kamu bunuh orang-orang tua dengan pedang, dan kamu bunuh anak-anak dengan kelaparan!’ Maka turunlah ayat ini.” (371)

365. Kata al-Qurthubi (6/4635), “Ia surah Makkiyyah seluruhnya menurut seluruh ulama.”

366. Shahih. Al-Hakim (2/393), seraya mengatakan, “Shahih, memenuhi syarat Syaikhain.”

367. Kata al-Qurthubi (6/4636), “Dalam riwayat Hasyim, dahulu kaum muslimin menoleh dan memandang pada waktu shalat, hingga Allah menurunkan ayat 1 hingga firman-Nya ayat 2. Setelah itu, mereka kalau shalat, memandang ke depan.” Ia menambahkan dalam riwayat Ibnu Sirin, “Maka Rasulullah memandang ketika sujud.” Kata Ibnu Katsir (3/337), “Mereka menundukkan pandangan ke tempat sujud.”

368. Kata al-Qurthubi (6/4643), “Dalam musnad ath-Thayalisi disebutkan, ‘Dan turun ayat 12, ketika ayat ini turun, aku (yakni Umar) berkata, (ayat 14). Diriwayatkan bahwa yang mengucapkan ini adalah Mu’adz bin Jabal. Ada pula yang mengatakan bahwa dia Abdullah bin Abi Sarh, dan karena inilah dia menjadi murtad, dia katakan, ‘Aku pun dapat mendatangkan seperti apa yang dibawa Muhammad.” Riwayat ini lemah. Yang lebih Shahih darinya adalah riwayat yang disebutkan oleh Hasyim dari Humaid dari Anas dari Umar, dia berkata, “Aku kebetulan cocok dengan Tuhanku dalam tiga (bukan empat) ayat.” Dalam riwayat yang disebutkan oleh pengarang terdapat Ali bin Zaid bin Jad’an, seorang yang lemah.

369. Disebutkan oleh Ibnu Katsir (3/353). Kata al-Qurthubi (6/4671), “Dahulu Quraisy biasa bercakap-cakap di dekat Ka’bah, membicarakan kebatilan dan kekafiran mereka. Maka Allah mengecam perbuatan mereka itu.”

370. Shahih. An-Nasa’i (372) dalam at-Tafsiir dan al-Hakim (2/428). Al-‘Ilhiz adalah adonan yang membuat mereka buat dari darah dan bulu unta lalu dipanggang dengan api; ini dilakukan pada musim paceklik untuk dimakan.

371. Shahih. Al-Haitsami (7/73) dalam Majma’uz Zawaa’id. Di dalamnya terdapat Ali ibnul-Husain bin Waqid, yang dinyatakan tsiqah oleh an-Nasa’i tapi dianggap dhaif oleh Abu Hatim. Ibnu Katsir (3/356) menyebutkan kisah ini. Katanya, “Rasulullah mendoakan kecelakaan atas Quraisy tatkala mereka membangkang. Ucap beliau, ‘Ya Allah, tolonglah aku atas mereka dengan menimpakan tujuh tahun seperti tahun Yusuf atas mereka.'” Hadits di atas asalnya terdapat dalam al-Bukhari (4693) dalam at-Tafsiir dan Muslim (2798) dalam Shifatul Qiyaamah. Al-Qurthubi menyebutkan, di antaranya bahwa Tsumamah berkata, “Demi Allah, tidak sebiji pun gandum yang akan sampai ke tangan kalian dari Yamamah.” Juga di sana disebutkan bahwa Allah mengazab Quraisy dengan paceklik dan kelaparan sampai-sampai meeka terpaksa makan bangkai, anjing, dan ‘ilhiz. Lihat al-Qurthubi (6/4676-4677).

Sumber: Diadaptasi dari Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, atau Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie (Gema Insani), hlm. 384 – 387.