Laporan dari Suriah: Jum’atan dalam Dentuman

JABAL AKROD (SALAM-ONLINE): Aku tulis berita ini di tengah dentuman meriam dan bazoka. Imam shalat Jum’at baru membaca fatihah, tiba-tiba terdengar gelegar suara memekakkan telinga. Gedung basement tempat kami shalat bergetar disambut gema suara panjang.

Tak sengaja, shalat yang seharusnya khusyu’, siang ini terganggu oleh radar pikiran yang mencari asal suara. Dentuman-dentuman itu kadang sangat dekat hingga kaca-kaca bergetar dan kadang jauh. Hampir setiap 15 detik, dentuman itu selalu hadir.

Imam mengucap salam. Seorang makmum memberi interupsi kepada Imam sebelum dilanjutkan ashar. Ia meminta waktu membuka sedikit kaca agar tidak pecah. Shalat dilanjutkan dengan iringan dentuman yang tiada henti.

Usai salam, seorang mujahid memberikan penjelasan bahwa bom-bom semacam ini hal biasa setiap Jum’at. Tentara Bashar selalu melemparkan bom saat rakyat Suriah melangsungkan shalat Jum’at. Salah satu sasaran bom Bashar adalah masjid-masjid Jami’ tempat umat Islam melangsungkan shalat. Sejak itu, masjid-masjid menjadi sepi. Mereka berpindah shalat ke lokasi-lokasi yang disepakati.

Tapi Bashar Assad tak kalah cerdik. Ia membayar orang untuk menjadi mata-mata. Spy inilah yang mengirimkan informasi ke rezim Bashar di mana lokasi shalat Jum’at dilakukan. Dan serangan seperti saat aku tulis berita ini, biasa menuju lokasi-lokasi itu.

Setelah mendapat penjelasan, kami berdzikir kepada Allah. Tak ada masa-masa kita begitu dekat dengan Allah kecuali seperti suasana siang ini. Kami diminta merapat ke perapian untuk menghangatkan tubuh. Dentuman tidak juga berhenti. Di depan saya, duduk pemuda yang dulu bersama Bashar Assad. Wahid memiliki spesialis ‘roket’ dalam barisan Assad masa lalu.

“Ini jenis senjata apa wahai Wahid?” tanyaku. Ia menjawab bahwa ada dua jenis senjata yang biasa digunakan; Canon dan Bazoka. Ia menjelaskan bahwa senjata semacam ini berbahaya jika mengenai gedung sebab bisa runtuh. Jika jatuh di tanah kosong, tidak terlalu membahayakan.

“Ini belum apa-apa dibanding birmil. Birmil suaranya lebih memekakkan telinga dan menggetarkan dinding. Tapi sangat indah,” guraunya. “Jadi apa tindakan yang paling tepat kita lakukan siang ini?” tanya kami.

“Sebaiknya kita berada di ruang di bawah minimal tiga lantai,” jawab Wahid. “Apa tidak ada perlawanan saat misalnya helikopter pembawa Birmil datang?” tanyaku. Wahid kembali menjelaskan bahwa perlawanan itu sering dilakukan dengan tembakan Klasinkov. Tapi tentu itu tak berpengaruh banyak sebab helikopter akan meninggi melewati jarak tembak efektif. “Lain halnya jika ada senjata anti pesawat,” tutupnya.

Dokter Romi, kepala masyfa maidani (rumah sakit lapangan) masuk ruangan. Ia bergabung bersama kami di perapian. “Ini kerja rezim zalim biadab,” makinya. “Alhamdulillah, mujahidin di depan sana juga menyerang dengan sorukh (roket).”

Semalam kami memang sempat berjalan-jalan ke lokasi yang dimaksud. Dari klinik hanya sekitar 700 meter. Dua ratus meter dari lokasi sudah dapat dilihat tank-tank rezim Bashar. Di sanalah banyak mujahidin berjaga untuk menghalangi tentara Bashar masuk.

Saya tertarik dengan cerita roket balasan. “Jadi mujahidin memiliki roket ?” tanyaku. “Ya, alhamdulillah, ikhwah Muslim dari Halb (Aleppo) yang membuat. Roket sejenis yang dipakai Hammas di Gaza,” ungkapnya.

“Kita makan dan para dokter siap-siap jika ada panggilan. Semoga tidak ada dari Muslim yang terkena peluru-peluru itu,” kata dr. Romi memberi instruksi. “Baik,” jawab kami. Segera digelar acara makan siang yang merangkap sarapan pagi.

Siang ini kami makan hubuz dicocol sarden dan sayur tomat. Syahi panas tetap hadir meski dentuman meriam tiada berhenti. kondisi ini semacam ini seperti biasa bagi mereka. Sesekali juru masak memekikkan takbir. Dokter Romi berdoa panjang, “Ya Allah, selamatkan kaum Muslimin. Jadikan peluru-peluru itu berbalik kepada mereka.”

Saat makan, dr. Romi mengutip hadits nasihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada Ibnu Abbas, “Wahai ghulam! Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau meminta tolong mintalah kepada Allah. Ingatlah, meskipun seluruh manusia berhimpun untuk membuatmu celaka ia tidak akan mampu, takdir telah dipastikan.”

Dokter Romi melanjutkan. “Jadi peluru-peluru itu sudah ada alamatnya. Kita tidak bisa mengelak. Hanya doa yang bisa mengubah sebagai bentuk ikhtiar. Itu pun endingnya sudah dicatat oleh Allah.”

Kuliah dr. Romi sangat berharga, untuk mengulang pelajaran-pelajaran teoritis malam ini. Saat usai kutulis berita ini, dentuman sudah banyak berkurang. Hanya sesekali terdengar ledakan ringan. Dari klinik dikabarkan, tidak ada korban siang ini. Semoga memang demikian. Hasbunallah Wani’mal Wakiil…

Jabal Akrod, ba’da Jum’ah, 20 Rabiul Awwal 1434 H/1 Februari 2013.

Abu Zahra, Tim Kelima Relawan HASI untuk Suriah