Dua Tokoh Pesantren Kritik Pendidikan Indonesia

Hidayatullah.com — Berbicara pendidikan di Indonesia pasti akan mengkaitkan dengan para pendidik (guru), kurikulum dan para siswanya. Melalui diskusi yang diadakan oleh mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dua tokoh pesantren ternama Indonesia, Direktur Islamic Educational Institution Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, Fauziah Fauzan ELM., SE AKT., M.SI dan Dr. Hamid Fahmy Zarkasy, dari Pondok Pesantren Darussalam Gontor-Ponorogo, mengkritik istilah pendidikan karakter yang selama ini sering digunakan di Indonesia.

Menurut Fauziah Fauzan, pendidikan karekter harusnya berbasis akhlak. Ia memaparkan penerapan pendidikan karakter berbasis akhlak di pesantren yang dipimpinnya.

“Pendidikan 3 karakter bagi santri yaitu; ahli ibadah akhlakul karimah, kuat dan tegar sebagai mujahid Allah dan cerdas sebagai khalifah,” demikian ujarnya.

Selain itu, di pesantren yang dipimpinnya, ia sudah menerapkan konsep parenting atau sistem asuh. Dari sistem itulah ada tiga belas hal yang dilarang dilakukan oleh guru kepada santrinya.

“Kita sudah menerapkan konsep parenting atau sistem asuh. Jadi guru dilarang melakukan hal yang membuat memecah harga diri siswa, dilarang memperbandingkan, mempermalukan, menyindir, mencemoohkan, mengancam. Ada tiga belas hal yang dilarang dilakukan atau tidak boleh ada untuk menumbuhkan saling menghargai,” ungkap tamatan Pascasarjana Universitas Indonesia ini kepada peserta yang hadir.

Menurut Fauziah, guru adalah pengajar dan pendidik. Namun kebanyakan yang sekarang ada di negara ini adalah pengajar bukan pendidik. Padahal yang diperlukan sekarang adalah pendidik.

Sementara Dr. Hamid Fahmy Zarkasy mengkritik penggunaan kata ilmu agama dan ilmu khusus yang selalu dipakai untuk memisahkan pelajaran agama dan pelajaran bukan agama.

“Jadi tidak ada perbedaan antara ilmu agama dengan ilmu umum. Penggunaan ilmu agama dan umum itu sebenarnya sangat bermasalah. Seharusnya ilmu umum dan ilmu khusus atau ilmu agama dengan ilmu sekuler,” ungkapnya kepada para peserta.

Pendidikan Akhlak

Kepada hidayatullah.com, Direktur Eksekutif Insitute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) ini mengungkapkan, ada pengaruh globalisasi dan pengaruh liberalisasi dalam sistem pendidikan Indonesia. Pengaruh itu kemudian dampaknya pada orientasi pendidikan. Karena pengaruh globalisasi adalah industrialisasi pendidikan, maka arah pendidikan akhirnya untuk memenuhi tuntutan industri.

“Maka produknya adalah untuk memenuhi kapangan kerja. Karena untuk lapangan kerja maka nilai-nilai moral yang harus ditanamkan kepada anak-anak itu menjadi terlupakan sehingga orientasi fokus pendidikan itu hanya untuk memberikan skill saja.”

Tidak hanya itu, Hamid juga mengkritik istilah pendidikan karakter karena tidak adanya akhlak dan nilai-nilai tauhid di dalamnya.

“Kalau menggunakan akhlak, di dalamnya pasti adalah pengajara tauhid. Karena dalam akhlak sudah ada karakter sementara dalam karakter tidak ada akhlak. Jadi memang ini terminologi yang sengaja dijual oleh orang Barat yang kita terima begitu saja (taken for granted) tanpa mengkaji dan ini sebenarnya upaya Barat bagaimana pendidikan karakter ini bisa menggeser-menggeser pendidikan agama,” tambahnya.

Menurut Hamid, umat Islam harus waspada terhadap penggunaan-penggunaan istilah. Baginya, kalau orang berkarakter artinya dia tegas, disiplin tanggung jawab. Namun belum tentu dia memiliki akhlak. Namun sebaliknya, jika orang berakhlak dia pasti berkarakter,” demikian jelasnya kepada hidayatullah.com.*