Prinsip Kesebelas

Prinsip Kesebelas :Manhaj Ahlus Sunnah Dalam Bersikap dan Berakhlak

Termasuk dari prinsip ‘aqidah Salafush Shalih, Ahlus Sunnah wal Jama’ah:

Bahwa mereka memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar (amar ma’ruf wa nahi munkar). (Ada beberapa syarat dalam merubah kemunkaran, di antaranya:1. Orang yang melarang dari perbuatan kemungkaran harus mengetahui terhadap apa yang dicegahnya. 2. Agar meneliti lebih lanjut (agar pasti) bahwa perbuatan ma’ruf telah ditinggalkan sedang kemungkaran dipraktekkan. 3. Tidak merubah kemungkaran dengan kemungkaran lain. 4. Hendaknya jangan menyebabkan berubahnya kemungkaran yang kecil kepada kemungkaran yang lebih besar).Mereka percaya bahwa kebaikan ummat ini akan senantiasa tetap ada dengan ciri khas ini (amar ma’ruf dan nahi munkar), bahkan ciri khas ini merupakan syi’ar Islam yang paling agung dan merupakan sebab terpeliharannya kesatuan dalam Islam. Amar ma’ruf adalah kewajiban sesuai dengan kondisi, dan kemaslahatan dipertimbangkan dalam hal itu. Allah Ta’ala berfirman, “Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepad ayang ma’ruf, dan mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah ….”(Ali Imran:110)

Nabi saw bersabda, “Barangsiapa diantara kalian melihat suatu kemunkaran, maka hendaknya ia merubahnya dengan tangannya; jika ia tidak mampu maka dengan lisannya; dan jika ia tidak mampu pula maka dengan hatinya; yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mendahulukan dakwah dengan cara yang lembut, baik berupa perintah maupun larangan, dan menyeru dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Allah Ta’ala berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan rabb mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik …” (An-Nahl : 125).

Mereka memandang wajibnya bersabar bersabar atas semua gangguan manusia dalam amar ma’ruf nahi munkar, berdasarkan firman Allah Ta’ala, “……. Suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungghnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Luqman : 17).

Ahlus Sunnah, ketika menjalankan amar ma’ruf nahi dan nahi munkar merekapun konsisten dengan prinsip lain yaitu menjaga kesatuan jama’ah, menarik dan mempersatukan hati serta menjauhkan perselisihan dan perbedaan.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah : Memandang perlunya nasehat-nasehati bagi setiap muslim dan tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa. Nabi saw bersabda, “Agama itu adalah itu nasehat “Kami (para sahabat) bertanya : Untuk siapakah nasehat tersebut ? Beliau menjawab “ Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin dan ummat manusia” (HR. Muslim) (HR. Muslim no.55, Abu Dawud no.4944, an-Nasa-i no.4199, 4200, dan Ahmad (IV/102-103) dari Sahabat Abu Ruqiyah Tamim bin ‘Aus ad-Daari Ditakhrij secara lengkap oleh Syaikh al-Albani dalam Irwaa-ul Ghalil no.26.

Ahlus sunnah wal Jama’ah senantiasa menjaga untuk tetap menegakkan syiar-syiar Islam seperti mendirikan shalat Juma’at, shalat jama’ah, haji, jihad dan merayakan hari lebaran (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama para pemimpin yang baik maupun yang jahat, berbeda dengan ahlul bid’ah.

Mereka bergegas dalam mendirikan shalat yang fardhu dan pelaksanaanya tepat diawal waktunya dengan berjama’ah. Awal waktu shalat tentu lebih baik daripada akhirnya kecuali shalat ‘Isya’. Dan menyuruh agar khusyu’ dan thuma’ninah dalam shalat; berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (Al-Mukminuun : 1-2).

Mereka saling menasehati untuk mendirikan shalat malam, karena ini dari petunjuk Nabi saw dan bahkan Allah Ta’ala menyuruh Nabi-Nya saw agar mendirikan shalat malam dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada-Nya.

Dari ‘Aisyah ra bahwa Nabi saw shalat malam sampai kedua telapak kaki beliau pecah-pecah, lalu ‘Aisyah bertanya : “Kenapa engkau lakukan ini wahai Rasulullah, sedang Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” beliau menjawab, “Tidak bolehkan aku ingin menjadi seorang hamba yang bersyukur (kepada Allah)?” (HR. Al-Bukhari) (HR. Al-Bukhari no.4837 dan Muslim no.2820 dair ‘Aisyah..

Ahlus Sunnah wal Jama’ah tabah terhadap musibah, yaitu dengan bersabar ketika (mendapatkan) malapetaka, bersyukur ketika (mendapatkan) kenikmatan dan rela dengan pahitnya takdir. Allah Ta’ala berfirman, “… Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas.”(Az Zumar:10)

Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala itu (tergantung) dengan besarnya musibah. Sesuhngguhnya jika Allah mencintai suatu kaum pasti menguji mereka. Barangsiapa yang ridho, maka (Allahpun) ridha kepadanya. Dan barangsiapa murka, maka (allahpun) murka kepadanya.” (Shahih Sunan at-Tirmidzi oleh Imam al-Albani) (HR. at Tirmidzi no.2396, Ibnu Majah no.4031 dari sahabat Anas bin Malik. Imam At.Tirmidzi berkata : “Hadits hasan gharib” Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih sunan at-Tirmidzi (II/286) dan Silsilatull Ahaadiitsish Shahiihah, Jilid I bagian I hal.276, no.146.

Ahlus Sunnah tidak mengharap dan tidak meminta musibah kepada Allah, karena mereka tidak tahu : Apakah mereka bisa tabah atau tidak? Akan tetapi jika mereka diuji, maka mereka bersabar. Nabi saw bersabda, “Jangalah kamu berharap untuk bertemu dengan musuh, tetapi memohonlah keselamatan kepada Allah! Jika kamu berhadapan dengan mereka, maka bersahabatlah!” (muttafaq’alaih)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak berputus asa dari rahmat Allah ketika mendapatkan bencana, karena Allah Ta’ala telah mengahramkan hal itu. Tetapi mereka berharap solusi yang segera datang dan pertolongan (Allah) yang pasti disaat turun bala’; karena mereka percaya dengan janji-Nya dan mengetahui bahwa setelah kesulitan pasti akan datang kemudahan. Mereka mencari sebab terjadi malapetaka tersebut pada dirinya sendiri, bahkan mereka berpandangan bahwa melapetaka dan musibah itu tidak akan menimpanya kecuali karena ulah tangannya sendiri. Mereka mengetahui bahwa pertolongan terkadang terlambat datangnya disebabkan perbuatan maksiat dan kelalaian dalam beri’ttiba’. Berdasarkan firman Allah, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri ……” (Asy-Syura:30).

Dalam (menghadapi) cobaan dan pembelaan terhadap agama mereka tidak menggantungkan kepada sebab-sebab alami, tipu daya yang bersifat duniawi dan sunnah-sunnah kauniyyah, sebagaimana pula mereka tidak mengabaikan hal itu, sebelum itu mereka berpandang bahwa bertakwa kepada Allah Ta’ala dan istighfar dari dosa dan noda, bergantung kepada Allah dan bersyukur dikala gembira merupakan sebab yang penting dalam mempercepat tibanya kemudahan setelah kesusahan.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah takut dan cemas terhadap adzab karena kufur nikmat, oleh karena itu mereka termasuk manusia yang paling suka bersyukur dan memuji kepada Allah serta terus menerus bersyukur kepada setiap nikmat yang kecil maupun yang besar. Nabi saw bersabda, “Lihatlah kepada orang yang berada dibawahmu dan janganlah melihat kepada orang yang berada diatasmu; karena sesungguhnya hal itu lebih layak agar kamu tidak memandang rendah nikmat Allah atasmu.” (shahih Sunan at Tirmidzi, oleh al-Imam al Albani) (HR. Al-Bukhari no.490, Muslim no.2963 (9), at-Tirmidzi no.2513, dan Ibnu Majah no.4142 dari Sahabat Abu Hurairah.)

Ahlus Sunnah menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia dan perbuatan yang baik. Nabi saw bersabda, “Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik budi pekertinya.” (Shahih Sunan at-Tirmidzi, oleh Imam al-Albani) (HR. at-Tirmidzi no.1162, Ahmad (II/250, 472), Abu Dawud no.4682 dan Al-Hakim (I/3), dari Sahabat Abu Hirairah. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahaadiitsish Shahiihah no.284).

Beliau juga bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling kucintai dan paling dekat tempat duduknya dariku di antara kalian pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya” (Shahih Sunan at-Tirmidzi, oleh Imam al Albani) (HR. At Tirmidzi (no.2018), ia berkata : Hadits hasan”. Dari sahabat Jabir ra Hadits ini ada beberapa syawahid, lihat Silsilatul Ahaadiitsish Shahiihah no.791.)

Sabdanya, “Tidak ada sesuatu yang diletakan di timbangan yang lebih berat daripada akhlak yang baik. Dan sesungguhnya orang yang berakhlak mulia pasti akan sampai pada drajat orang yang selalu puasa dan shalat.” (Shahih Sunan at Tirmidzi, oleh Imam al-Albani) (HR. at Tirmidzi no.2003 dari Sahabat Abu Darda’. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ish Shaghiir no.5726.

Beberapa Akhlak Salafush Shalih Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

·Ikhlas dalam berilmu dan beramal serta takut riya’. Allah Ta’ala berfirman :

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (Az-Zumar:3)

·Mengagungkan hal-hal yang dilarang oleh Allah Ta’ala, ghirah (cemburu) jika larangan-larangan-Nya dilanggar, membela agama dan syariat-Nya dan banyak memuliakan hak-hak kaum Muslimin serta senang kebaikan untuk mereka. Allah Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al Hajj:32)

·Berupaya meninggalkan nifaq, dimana penampilan lahir dan bathinnya sama dalam melakukan kebaikan, menganggap sedikit amalan yang mereka perbuat dan selalu mendahulukan amal akhirat daripada amal dunia.

·Lunak hatinya, banyak menangis atas yang mereka lalaikan dalam hak-hak Allah Ta’ala (dengan demikian) mudah-mudahan Allah memberikan rahmat-Nya kepadanya. Banyak mengambil pelajaran dan memperhatikan dengan urusan kematian. Mereka menangis jika melihat jenazah atau mengingat mati dan sakaratul maut serta su’ul khatimah (akhir hayat yang jelak) sehingga meruntuhkah hati mereka)

·Bertambah tawadhu’ setiap meningkat derajat kedetakannya kepada Allah Ta’ala.

·Banyak beraubat, istighfar siang malam karen apersaksian mereka bahwa mereka tidak dapat selamat dari dosa dan noda walaupun dalam ketaatannya. Lalu mereka memohon ampunan dari kekurangannya, senantiasa merasa diawasi Allah dalam (segala hal) dan tidak ujub dalam amal perbuatannya serta benci akan ketenaran bahkan mereka selalu mlihat kunga dan lalai dalam ketaatan (keapda-Nya), apalagi kejelakannya.

·Melaksanakan takwa kepada Allah dengan sangat cermat, tidak menganggap dirinya sebagai orang yang bertakwa. Mereka banyak takut kepada Allah Ta’ala.

·Sangat takut dari su’ul khatimah, tidak lalai berdzikir kepada Allah Ta’ala. Dunia dimata mereka sesuatu hal yang rendah dan sangat menolaknya. Tidak banyak menaruh perhatian terhadap pembangunan rumah kecuali jika diperlakukan tanpa dihiasi (yang berlebihan).

Nabi saw bersabda, “Demi Allah, tidaklah (kehidupan) dunia dibandingkan dengan (kehidupamn) akhirat melainkan seperti seseorang diantara kamu masukkan jarinya dalam laut; maka perhatikanlah apa yang dibawah kembali jari tersebut” (HR. Muslim). (HR. Muslim no.2858, at Tirmidzi no.2323 dan Ibnu Majah no. 4108 dari al-Mastaurid

·Tidak ridha jika kesalahan terjadi pada agama maupun orang yang memeluknya, bahkan membantahnya dan mencari alasan bagi orang yang mengatakannya, jika orang tersebut bisa diterima alasannya. Banyak menutupi (aib) saudaranya sesama muslim, sering mengintrospeksi dirinya dalam hal wara’. Tidak senang menampakkan aib seseorang, menyibukkan diri dengan aibnya sendiri daripada aib orang lain, bersungguh-sungguh menutupi aib orang lain dan memegang rahasia. Tidak menyampaikan apa yang didengar tentang kehormatan seseorang, meninggalkan permusuhan terhadap orang. Banyak bersikap lembut dan tidak menghadapi seseorang dengan perilaku yang jelek. Jadi mereka tidak memusuhi seseorang pun. Nabi saw bersabda, “Tidak akan masuk surga tukang fitnah” (HR. Bukhari) (HR. Al-Bukhari no.105 (169, 170), at Tirmidzi no.2026, Abu Dawud no.4871 dan Ahmad (V/382, 389, 392), dari Sahabat Hudzaifah. “Tidak akan masuk surga tukang adu domba.” (HR. Muslim no.105 (168) dan Ahmad (V/391, 396, 398, 406), dari Sahabat Hudzaifah.

·Menutup pintu ghibah (penggunjingan) dalam majelisnya dan mereka menjaga lidahnya dari hal tersebut; agar majelisnya tidak menjadi majelis dosa. Allah Ta’ala berfirman, “…Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya ….” (Al-Hujuraat :12).

·Sangat pemalu, berbudi pekerti, berkasih sayang, tenang, berwibawa, sedikit bicara, sedikit tertawa, banyak diam, berbicara dengan hikmah untuk mempermudah orang yang mencari (informasi dan lain-lain), tidak riang dengan suatu urusan duniawi. Yang demikian itu karena kesempurnaan akal mereka. Nabi saw bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (Muttafaq’alaih) (Hr. Al-Bukhari no.6475, Muslim no.47 (74), at-Tirmidzi no.2500 dan Abu Dawud no.5154 dari Sahabat Abu Hurairah.)

Dan beliau juga bersabda, “Siapa yang (banyak) diam pasti selamat” (Shahih Sunan at-Tirmidzi no.2500 dan Abu Dawud no.5154 dari Sahabat Abu Hurairah).

·Pemaaf kepada setiap orang yang mengganggunya baik dengan memukul, mengambil hartanya maupun melecehkan kehormatannya atau yang semisalnya. Allah Ta’ala berfirman, “… Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran:134).

·Tidak lalai dalam memerangi iblis, bersungguh-sungguh untuk mengetahui tipu daya mereka. Tidak was-was saat wudhu’ shalat dan ibadah lainnya; karena semuanya itu (datangnya) dari syaitan.

·Banyak shadaqah siang-malam dari segala sesuatu yang lebih dari yang keperluan mereka, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Banyak menanyakan tentang keadaan teman-temannya. Yang demikian itu dengan tujuan untuk membantunya dari apa yang mereka perlakukan baik makanan, pakaian, harta, dan tidak berlebihan dalam hal yang halal bila mereka mendapatkannya.

·Mencela kekikiran, banyak bermurah hati dan dermanwan, mengeluarkan sebagian hartanya, membantu saudaranya di saat berpergian maupun tidak. Karena dengan demikian akan terjadi (satu sama lain) saling bahu menbahu dalam membela agama, di mana hal itu merupakan maksud dan tujuan mereka. Mereka sangat senang berbuat kebaikan kepada saudaranya, saling menyenangkan orang lain dan mendahulukan saudarannya dalam hal itu daripada dirinya sendiri.

·Menghormati tamu dan melayaninya dengan dilakukan sendiri kecuali kalau ada halangan. Kemudian mereka tidak berpandangan bahwa mereka telah membalas budi dan menjamunya dengan tinggal di rumahnya serta berhusnu dzhan (berbaik sangka) kepada tamu tersebut. Memenuhi undangan saudarannya kecuali kalau makanannya haram atau jika mengkhususkan undangan hanya untuk orang kaya tanpa mengundang orang miskin atau bila ditempat walimah ada suatu maksiat.

·Sopan santun terhadap anak kecil, apalagi kepada orang dewasa, juga terhadap orang yang jauh (hubungan kerabatnya) apalagi kepada orang yang dekat, serta terhadap orang yang jahil apalagi kepada orang yang alim.

·Mendamaikan perselisihan karena hal itu termasuk sebaik-baik pintu kebaikan bahkan puncaknya, dan dikarenakan pula : mendamaikan orang yang berselisih itu akan merusak strategi dan rencana syaitan yang tujuannya menciptakan permusuhan, kebencian di kalangan kaum Muslimin dan merusak hubungan diantara mereka.

·Melarang dengki, iri hati, karena hal itu akan menimbulkan permusuhan, kebencian, kelemahan iman dan cinta dunia dan seisinya tanpa ada tujuan yang syar’’i.

·Menyuruh berbakti dan berlaku baik kepada kedua orang tua.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya…” (Al-Ankabuut:8)

·Memerintahkan agar berbuat baik kepada tetangga, belas kasihan sesama hamba Allah menghubungkan tali persaudaraan, menyebarkan salam, belas kasihan terhadap fakir miskin, anak yatim dan orang yang sedang bepergian.

·Melarang sikap sombong, congkak, ujub, lalim, dan sombong terhadap orang lain tanpa alasan yang benar dan menyuruh selalu bersikap adil dalam segala sesuatu.

·Tidak menyepelekan suatu kebaikan yang syari’at kita telah mengajurkan untuk melakukannya. Nabi saw bersabda, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun hanya dengan wajah yang berseri-seri ketika kamu bertemu suaramu.” (HR. Muslim) (HR. Muslim no.2626 (114) dan at-Tirmidzi no. 1833 dari Sahabat Abu Dzar al-Ghifari.

·Melarang su’uzdan (buruk sangka), memata-matai dan mencari-cari kekurangan (aib) kaum Muslimin karena yang demikian itu akan merusak hubungan kemasyarakatan, memecah belah diantar asaudara, menimbulkan kerusakan dan mereka tidak marah untuk dirinya sendiri karena mereka memahami fiqih marah.

Allah Ta’ala berfirman, “… dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memafkan kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” ( Ali Imran:134)

dan lain-lainnya dari akhlak Nabi saw. (Dakwah kepada manhaj Salafush Shalih bertujuan untuk membangun generasi yang sesuai dengan generasi pertama, dimana mereka didik oleh tangan Rasulullah saw. Allah Ta’ala telah memuji Rasul-Nya dalam firman-Nya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”(Al-Qalam:4)

maksudnya bukanlah hanya sekedar sesuai dalam masalah ‘aqidah saja walaupun tentunya aqidah merupakan pokok yang pertama dan paling penting, akan tetapi maksudnya agar kita sesuai dengan Salafush Shalih dalam segala urusan agama kita yang agung ini. Karena manhaj salaf itulah yang kita seru manusia kepadanya. Bukan hanya sekedar pengetahuan dalam pikiran saja; akan tetapi hendaknya manhaj mereka mencakup (urusan) aqidah, konsep, sikap dan akhlak. Sangat disayangkan, kami dapatkan di zaman serba moderen ini bahwa urusan yang penting dari manhaj salaf tidak mendapatkan perhatian, dan tarbiyyah. Sedang Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya tidaklah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Al –Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no.273 (shahih al Adabul Mufrad no.207), Ahmad (II/381), dan al-Hakim (II/613), dari Abu Hurairah ra. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahaadiitsih Shahihah no.45)

Maka salaf telah mencontoh Rasulullah saw, berakhlak sebagaimana akhlak Rasulullah dan menjalankan perintahnya. Keadaan mereka seperti yang difirmankan Allah, “Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia …” (Ali Imran:110).

Jika kita menghendaki keselamatan (dunia dan akhirat) maka kita hars (mengamalkan) seperti yang (diamalkan) Salafush Shalih ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in.

Sumber: Diadaptasi dari Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari, Al-Wajiiz fii Aqiidatis Salafis Shaalih (Ahlis Sunnah wal Jama’ah), atau Intisari Aqidah Ahlus Sunah wal Jama’ah), terj. Farid bin Muhammad Bathathy (Pustaka Imam Syafi’i, cet.I), hlm. 219 – 234.