Gawat! Ada Mafia Bisnis di Balik Tawuran Pelajar

JAKARTA (voa-islam.com) – Kasus tawuran antara SMA 6 dan SMA 70 Bulungan, Jakarta Selatan, sudah berlangsung cukup lama, ada dugaan hal ini ditunggangi pihak ketiga yang punya kepentingan. Guru-guru SMA 6 menduga ada pihak ketiga yang mengincar lokasi sekolah karena letak atau wilayahnya tergolong strategis dan tidak jauh dari pusat perbelanjaan.

”Ada pihak ketiga yang menginginkan sekolah SMA 6 atau SMA 70 karena di sini daerahnya sangat strategis. Kami belum tahu itu perusahaan atau apa, tapi yang jelas mereka salah satu penyebab tawuran,” ucap Guru SMA 6 Agustin Suwartini, saat dikunjungi Komite III DPD RI di SMA 6 Jakarta, Jakarta, Kamis (27/9/2012).

Untuk itu, tegasnya, pihak sekolah menolak untuk direlokasikan ke tempat lain. Bagaimanapun, gedung SMA 6 banyak menyimpan sejarah. “Kami tidak mau sekolah dipindahkan, karena banyak sejarah di sekolah ini,” lontar staf Kurikulum SMA 6 itu.

Selain itu, pihaknya juga menolak untuk dilakukan merger atau penggabungan antara SMA 6 dan SMA 70. Dirinya menilai, hal tersebut tidak tepat karena siswa dan siswi SMA 70 jumlahnya sangat banyak sehingga tidak efisien dalam belajar. “Jika dimerger apa jadinya sekolahnya nanti dengan jumlah siswa yang banyak,” terang Agustin.

Sementara itu, Ketua Komite II DPD RI Hardi Selamat Hood menambahkan oknum yang menginginkan adanya relokasi SMA 6 yang terletak di dekat Blok M Plaza perlu diantisipasi. “Ada oknum yang mendekati pihak SMA 6, ini yang harus diselidiki jangan sampai dimanfaatkan oleh pihak luar,” tutur dia.

Dengan demikian, lanjutnya, perlu koordinasi dan kerjasama dengan kepolisian dalam rangka deteksi dini dan pencegah agar tidak terjadi tawuran pelajar lagi. Pencegahan itu bisa saja dengan cara sosialisasi dan advokasi atas dampak negatif tawruan pelajar. “Kita perlu melakukan kerjasama dengan kepolisian agar tidak ada tawuran pelajar,” harap Anggota DPD RI asal Kepulauan Riau itu.

Selain itu, perlu juga melakukan cara ekstrim untuk menghilangkan tradisi tawuran. Salah satunya, mengeluarkan siswa yang terlibat tawuran, memindahkan sekolah, dan menggabungkan sekolah. “Mungkin cara ini bisa memutuskan rantai masalah tawuran pelajar selama ini,” ulas Hardi.

Bongkar Mafia di Balik Tawuran Pelajar

Hal senada juga disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhamamd Nuh yang curiga adanya pihak yang bermain terkait maraknya aksi tawuran antarpelajar akhir-akhir ini. Nuh meyakini ada mafia yang membuat tawuran antarpelajar kian marak.

“Kita tidak boleh putus asa. Kita bongkar siapa mafianya!” kata Mendikbud Mohammad Nuh di Gedung Kemdikbud Jakarta, Jumat (28/9).

Saat ini, Kemdikbud dan pihak sekolah masih membicarakan solusi atas tawuran antarpelajar. Nuh mengingatkan kepada sekolah untuk mendisiplinkan siswa-siswanya.

“Tegakan disiplin di setiap sekolah kalau ada anak sekolah yang melakukan pelanggaran harus out. Siapapun orang tuanya,” tegasnya. [Widad/jpnn]