Surah Ali Imran Ayat 58, 65, 72 dan 77

Ayat 58, yaitu firman Allah ta’ala,

“Demikianlah (kisah ‘Isa), Kami membacakannya kepada kamu sebagian dari bukti-bukti (kerasulannya) dan (membacakan) Al Qur’an yang penuh hikmah.” (Ali Imran: 58)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Hasan al-Bashri, dia berkata, “Pada suatu hari Rasulullah didatangi dua orang pendeta dari Najran. Lalu salah satu dari keduanya bertanya kepada beliau, ‘Siapa Isa?’ Rasulullah tidak menjawab langsung pertanyaan itu untuk menunggu perintah Allah . Lalu turunlah firman Allah,

“Demikianlah (kisah ‘Isa), Kami membacakannya kepada kamu sebagian dari bukti-bukti (kerasulannya) dan (membacakan) Al Qur’an yang penuh hikmah. Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” (Ali Imran: 58)

Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan dari jalur al-Aufi dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Beberapa orang Najran yang di antara mereka terdapat para tuan (orang-orang terhormat) dan orang-orang bawahan mendatangi Rasulullah. Lalu mereka berkata, ‘Apa urusanmu menyebut Shahib kami.’ Beliau balik bertanya, ‘Siapa dia?’ Mereka menjawab, ‘Isa. Bukankah engkau katakan dia adalah hamba Allah.’ Rasulullah menjawab, ‘Ya.’ Lalu mereka berkata, ‘Apa engkau pernah melihat orang seperti Isa atau engkau diberitahu tentangnya?’

Kemudian mereka pergi meninggalkan beliau. Lalu Rasulullah didatangi Jibril dan berkata, “Jika mereka datang lagi kepadamu, katakan kepada mereka,’ ‘Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) ‘Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam… agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.’ “ (Ali Imran: 59-61)

Al-Baihaqi juga meriwayatkan dalam Dalaa’ilun Nubuwwah dari jalur Salamah bin Abdi Yasyu’ dari ayahnya dari kakeknya bahwa sebelum turun firman Allah, “Thaasiin Sulaiman, ” Rasulullah menulis surat untuk orang-orang Kristen Najran, “Dengan nama Tuhan Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub, dari Muhammad, seorang Nabi….” dan seterusnya.

Di antara isi hadits tersebut adalah mereka mengutus Syarahbil bin Wada’ah al-Hamadani, Abdullah bin Syarahbil al-Ashbahi dan Jabbar al-Haritsi. Lalu ketiga orang itu mendatangi Nabi saw.. Kemudian Rasulullah berdiskusi dengan mereka. Ketiga orang itu bertanya kepada Rasulullah, “Apa yang kau katakan tentang Isa?”

Beliau menjawab, “Saya tidak mempunyai jawaban untuk itu hari ini. Tinggalah kalian di sini hingga saya memberitahu kalian tentang jawabannya.” Keesokan harinya, Allah telah menurunkan kepada beliau firman-Nya,

Kemudian mereka pergi meninggalkan beliau. Lalu Rasulullah didatangi Jibril dan berkata, “Jika mereka datang lagi kepadamu, katakan kepada mereka,’ ‘Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) ‘Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam… agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.’ “ (Ali Imran: 59-61)

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dalam kitab ath-Thabaqat dari al-Azraq bin Qais, dia berkata, “Pada suatu hari Uskup Najran dan bawahannya mendatangi Nabi saw.. Lalu Nabi saw. mengajak mereka masuk Islam. Maka keduanya menjawab, ‘Kami adalah orang-orang muslim sebelum kamu.’

Rasulullah bersabda,

‘Kalian bohong. Sesungguhnya ada tiga hal yang membuat kalian tidak dalam Islam. Yaitu keyakinan kalian bahwa Allah mempunyai seorang anak, makanya kalian daging babi, dan sujud kalian terhadap patung.'”

Maka keduanya bertanya kepada beliau, “Kalau demikian, siapa ayah Isa?” Rasulullah tidak menjawab pertanyaan mereka hingga Allah menurunkan firman-Nya,

‘Sesunggunya perumpamaan (penciptaan) ‘Isa bagi Allah,…’ hingga firman-Nya, ‘dan sungguh Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.‘ (Ali Imran: 59-62)

Lalu beliau mengajak mereka untuk mula’anah. Namun keduanya menolak dan lebih memilih untuk membayar jizyah, lalu keduanya kembali.”

Ayat 65, yaitu firman Allah ta’ala,

“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?” (Ali Imran: 65)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Ishaq meriwayatkan dengan sanadnya yang berulang-ulang dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Pada suatu ketika orang-orang Nasrani dari Najran dan para pendeta Yahudi berkumpul di tempat Rasulullah. lalu mereka berdebat di sisi beliau. Para pendeta Yahudi berkata, ‘Ibrahim tidak lain adalah seorang Yahudi.’ Orang-orang Nasrani membalas, ‘Ibrahim tidak lain adalah orang Nasrani.’ Maka Allah menurunkan firman-Nya, ‘Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu berbantah-bantahan…’ “

Ayat 72, yaitu firman Allah ta’ala,

“Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mu’min) kembali (kepada kekafiran).” (Ali Imran: 72)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Abdullah ibnush-Shaif, Adi bin Zaid, dan al-Harits bin Auf saling mengajak, ‘Mari kita beriman kepada apa yang diturunkan oleh Allah kepada Muhammad dan para sahabatnya di pagi hari, lalu kita kafir kepadanya di malam hari. Hingga kita merancukan agama mereka. Semoga mereka juga melakukan hal yang sama dengan apa yang kita lakukan sehingga mereka meninggalkan agama mereka itu.’ Maka Allah menurunkan firman-Nya atas mereka,

‘Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan,…’ hingga firman-Nya, ‘….Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”‘ (Ali Imran: 71-73)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari as-Suddi dari Abu Malik, dia berkata, “Dulu para pendeta Yahudi berkata kepada orang-orang yang mengikuti mereka, ‘Jangan kalian beriman kecuali dengan orang yang mengikuti agama kalian.’

‘…Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya petunjuk itu hanyalah petunjuk Allah….”‘ (Ali Imran: 73)

Ayat 77, yaitu firman Allah ta’ala,

“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.” (Ali Imran: 77)

Sebab Turunnya Ayat

Imam Bukhari, Imam Muslim, dan yang lainnnya meriwayatkan bahwa al-Asy’ats berkata, “Dulu saya dan seorang Yahudi mempunyai sebidang tanah milik bersama. Lalu dia mengkhianati saya, maka saya mengadu kepada Rasulullah. Lalu beliau bertanya kepada saya, ‘Apakah engkau mempunyai bukti?’ Saya jawab, “Tidak.’ Beliau berkata kepada orang Yahudi itu, “Bersumpahlah engkau.’ Maka buru-buru saya katakan kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah. Jika dia bersumpah, tentu dia akan membawa harta milik saya.’ Lalu Allah menurunkan firman-Nya,

‘Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga murah, hingga akhir ayat. (52)

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Aufa bahwa seorang lelaki menjual barang dagangannya di pasar. Lalu dia bersumpah atas nama Allah bahwa dia telah menerima barang dagangan tersebut dengan harga di atas harga yang dia tawarkan untuk membujuk seorang lelaki muslim. Maka turunlah firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji ALlah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga murah, “ hingga akhir ayat. (53)

Ibnu Hajar dalam syarah Bukhari berkata, “Tidak ada kontradiksi antara dua hadits ini, tetapi dapat dipahami bahwa sebab turun ayat ini adalah dua peristiwa.”

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ikrimah bahwa ayat ini turun pada Huyai bin Akhtab, Ka’ab Ibnul-Asyraf, dan orang-orang Yahudi lainnya yang menyembunyikan Taurat asli yang diturunkan oleh Allah. Lalu mereka mengubahnya dan bersumpah bahwa itu adalah dari Allah.

Al-Hafizh Ibnu Hajjar berkata, “Ayat ini mempunyai kemungkinan beberapa sebab, akan tetapi yang menjadi sandaran adalah yang disebutkan dalam Kitab Shahih.”

52. HR. Bukhari dalam Kitabul Musaaqaah, No. 2358 dan HR. Muslim dalam Kitabul Iman, No. 138.

53. HR. Bukhari dalam Kitabul Buyuu’, No. 1946.

Sumber: Diadaptasi dari Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, atau Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie (Gema Insani), hlm. 119 – 124.