Surah Al-Baqarah Ayat 120, 125, 130, 135 dan 142-144.

Ayat 120, yaitu firman Allah ta’ala,

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (al-Baqarah: 120)

Sebab Turunnya Ayat

Ats-Tsa’labi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Dulu orang-orang Yahudi Madinah dan orang-orang Nasrani Najran berharap agar Rasulullah shalat menghadap ke arah kiblat mereka. Ketika Allah mengubah kiblat ke arah Ka’bah, mereka pun tidak suka dan putus asa untuk membuat beliau mengikuti agama mereka. Maka turunlah firman Allah ta’ala,

‘Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu….'”

Ayat 125, yaitu firman Allah ta’ala,

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud.” (al-Baqarah: 125)

Sebab Turunnya Ayat

Al-Bukhari dan yang lainnya meriwayatkan dari Umar, dia berkata, “Secara tidak sengaja, tiga hal yang saya katakan sesuai dengan firman Allah. [Pertama], ketika saya berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, coba kita jadikan tempat berdiri Nabi Ibrahim sebagai tempat shalat.’ Maka turunlah firman Allah,

‘Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat shalat.” (al-Baqarah: 125)

[Kedua], ketika saya berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya yang mendatangi para istrimu ada orang yang baik dan ada juga yang jahat. Coba seandainya engkau perintahkan mereka untuk memakai hijab.’ Maka turunlah ayat hijab.

[Ketiga], pada suatu ketika para istri Rasulullah melampiaskan rasa cemburu mereka kepada beliau. Maka saya katakan pada mereka, ‘Bisa-bisa Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian.’ Maka, turunlah firman Allah dalam hal ini.” (15)

Riwayat di atas mempunyai jalan periwayatan yang banyak, di antaranya sebagai berikut.

Pertama, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih dari Jabir, dia berkata, “Ketika Nabi saw. melakukan tawaf, Umar berkata kepada beliau, ‘Apakah ini tempat berdiri ayah kami, Ibrahim?’ Beliau menjawab, ‘Ya’. Umar kembali bertanya, ‘Mengapa tidak kita jadikan tempat shalat?’ Maka Allah menurunkan firman-Nya, ‘Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat shalat.'” (al-Baqarah: 125)

Kedua, Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari jalur Amr bin Maimun dari Umar ibnul-Khaththab bahwa dia berdiri di tempat berdirinya Nabi Ibrahim, lalu dia bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, bukankah kita sedang berdiri di tempat berdirinya Kekasih Tuhan kita?” Rasulullah menjawab, “Benar.” Maka Umar bertanya lagi, “Mengapa tidak kita jadikan tempat untuk shalat?” Lalu tidak lama dari itu turnlah firman Allah,

“Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat shalat.” (al-Baqarah: 125)

Secara zhahir dari riwayat ini dan yang sebelumnya bahwa ayat tersebut turun pada haji wada’.

Ayat 130, yaitu firman Allah ta’ala,

“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (al-Baqarah: 130)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Uyainah berkata, “Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Salam mengajak kedua keponakannya, Salamah dan Muhajir, untuk masuk Islam. Dia berkata kepada keduanya, ‘Telah kalian berdua ketahui bahwa Allah berfirman di dalam Taurat, ‘Sesungguhnya Aku akan mengutus seorang Nabi yang bernama Ahmad dari keturunan Isma’il. Barangsiapa beriman kepadanya, maka dia mendapatkan petunjuk dan berada dalam kebenaran. Dan barangsiapa tidak beriman kepadanya, maka dia akan terlaknat.'” Maka Salamah pun masuk Islam, namun Muhajir, saudaranya tidak mengikuti jejaknya. Lalu turunlah firman Allah ta’ala di atas.

Ayat 135, yaitu firman Allah ta’ala,

“Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah : “Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik.” (al-Baqarah: 135)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Sa’id atau Ikrimah dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Ibnu Shuriya berkata kepada Nabi saw., ‘Petunjuk itu hanyalah apa yang kami ikuti. Oleh karena itu ikutilah kami wahai Muhammad agar engkau juga mendapatkan petunjuk.’ Orang-orang Nasrani juga mengatakan hal yang serupa. Maka Allah menurunkan firman-Nya untuk mereka,

‘Dan mereka berkata, ‘Jadilah kamu (penganut) Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk’….'”

Ayat 142-144, yaitu firman Allah ta’ala,

“Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberei petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus “. Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit , maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (al-Baqarah: 142-144)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Ishaq berkata, “Isma’il bin Khalid memberi tahu saya dari Abu Ishaq dari al-Barra’, dia berkata, ‘Dulu Rasulullah shalat menghadap ke arah Baitul Maqdis. Ketika itu beliau sering melihat ke arah langit menanti-nanti perintah Allah. Maka, Allah ta’ala menurunkan firman-Nya,

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit , maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram….” (al-Baqarah: 144)

Lalu seorang muslim berkata, ‘Kami ingin tahu tentang orang-orang muslim yang telah meninggal sebelum kiblat kita berubah dan bagaimana shalat kita ketika kita masih menghadap ke arah Baitul Maqdis?’ Maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘…Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu….” (al-Baqarah: 143)

Namun orang-orang yang akalnya kurang berkata, ‘Apa yang membuat mereka meninggalkan kiblat mereka sebelumnya?’ Maka Allah menurunkan firman-Nya, ‘Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata….’, hingga akhir ayat.”

Dan terdapat riwayat-riwayat lain yang sejenisnya.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari al-Baraa’, dia berkata, “Beberpa orang meninggal dan terbunuh sebelum arah kiblat diubah sehingga kami tidak tahu apa yang kami katakan tentang mereka.”

Maka Allah menurunkan firman-Nya,

“….Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu….” (al-Baqarah: 143) (16)

15. HR Bukhari dalam Kitaabush Shalat, No. 402, Muslim dalam Kitabu Fadhaa’ilish Shahaabah, No. 2399.

16. HR Bukhari dalam Kitaabut Tafsiir, No. 4486 dan Muslim dalam Kitaabul Masaajid No. 525.

Sumber: Diadaptasi dari Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, atau Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie (Gema Insani), hlm. 52 – 57.