Surah Al-Baqarah Ayat 99-100, 102, 104, 106 dan 108

Ayat 99-100, yaitu firman Allah ta’ala,

“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik. Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? Bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman.” (al-Baqarah: 99-100)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Sa’id atau Ikrimah dari Ibnu Abbas, dia berkata,

“Ibnu Shuriya berkata kepada Nabi saw. ‘Wahai Muhammad, engkau tidak datang dengan apa yang kami ketahui. Dan Allah tidak menurunkan ayat yang jelas kepadamu.’ Maka Allah menurunkan firman-Nya,

“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik.(al-Baqarah: 99)

Ketika Rasulullah diutus dan beliau menyampaikan tentang perjanjian yang ditetapkan atas mereka dan kewajiban yang ditetapkan atas mereka terhadap Nabi Muhammad, Malik Ibnush Shaif berkata, “Demi Allah, tidak ada yang ditetapkan atas kami terhadap Muhammad dan tidak ada perjanjian yang ditetapkan atas kami.” Maka Allah ta’ala menurunkan firman-Nya,

“Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? Bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman.” (al-Baqarah: 100)

Ayat 102, yaitu firman Allah ta’ala,

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu jangnalah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya . Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (al-Baqarah: 102)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Syahr bin Hausyab, dia berkata, “Orang-orang Yahudi berkata, ‘Perhatikanlah Muhammad, dia mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan. Dia mengatakan bahwa Sulaiman adalah nabi seperti nabi-nabi yang lain, padahal Sulaiman adalah seorang penyihir yang dapat terbang di atas angin.’

Maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan…'” (al-Baqarah: 102)

Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan dari Abul Aliyah bahwa dalam waktu yang cukup lama, orang-orang Yahudi menanyakan beberapa hal di dalam Taurat kepada Nabi saw.. Tidak satupun pertanyaan yang mereka sampaikan, kecuali Allah menurunkan kepada beliau jawabannya. Ketika melihat kondisi yang demikian, mereka berkata, “Orang ini lebih tahu dari kita tentang kitab yang diturunkan kepada kita.”

Dan mereka pun menanyakan tentang sihir dan berusaha memojokkan beliau, maka Allah menurunkan firman-Nya

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir)…”

(al-Baqarah: 102)

Ayat 104, yaitu firman Allah ta’ala

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.” (al-Baqarah: 104)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnul Mundzir meriwayatkan dari as-Suddi, dia berkata, “Ada dua orang Yahudi yang bernama Malik ibnush-Shaif dan Rifa’ah bin Zaid. Setiap kali bertemu Nabi saw., mereka berkata kepada beliau, Raa’ina pendengaranmu dan dengarlah sedangkan kamu tidak mendengarnya,’ Orang-orang muslim mengira itu adalah sesuatu yang mereka gunakan untuk mengagungkan nabi-nabi mereka sehingga mereka mengatakan hal itu kepada Nabi saw.. Maka Allah swt. menurunkan firman-Nya,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.” (al-Baqarah: 104)

Di dalam Dalaa’ilun Nubuwwah Abu Nu’aim meriwayatkan dari jalur as-Suddi ash-Shaghiir dari al-Kalbi dari Shaleh dari Ibnu Abbas, dia berkata, Raa’ina dalam bahasa Yahudi adalah sebuah celaan yang buruk. Ketika orang-orang Yahudi itu mendengar para sahabat Rasulullah berkata, ‘Perdengarkanlah kata-kata itu kepada Nabi saw..’ Sedangkan orang-orang Yahudi mengatakan hal itu dan tertawa-tawa setelah mengatakannya. (Lalu turunlah firman Allah di atas.) Ketika mendengar kata-kata itu dari mereka, Sa’ad bin Mu’adz berkata, “Wahai musuh-musuh Allah, jika saya mendengar lagi kata-kata itu dari salah seorang kalian setelah majelis ini, sungguh saya akan penggal lehernya.'”

Ibnu Jari meriwayatkan dari adh-Dhahhak, dia berkata, “Dulu seseorang dari kalangan Yahudi berkata, ‘Ar’ini pendengaranmu.’ Maka turunlah ayat 104 surah al-Baqarah.”

Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari Athiyyah, dia berkata, “Dulu beberapa orang Yahudi selalu berkata kepada Nabi saw., ‘Ar’inaa pendengaranmu,’ hingga beberapa orangg muslim ikut mengucapkannya. Sedangkan hal itu tidak disukai oleh Allah. Maka turunlah ayat 104 surah al-Baqarah.”

Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari Qatadah, dia berkata, “Dulu orang-orang berkata, ‘Ra’inaa pendengaranmu.’ Lalu orang-orang Yahudi datang kepada Rasulullah dan mengatakan hal itu, maka turunlah ayat 104 surah al-Baqarah.”

Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari Atha’, dia berkata, “Dulu itu adalah kata-kata dalam bahasa orang-orang Anshar ketika masih jahiliah. Lalu turunlah ayat 104 surah al-Baqarah.”

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abul Aliyyah, dia berkata, “Dulu, ketika berbicara kepada temannya, orang-orang Arab berkata, ‘Ar’ini pendengaranmu.’ Lalu mereka pun dilarang mengatakannya.”

Ayat 106, yaitu firman Allah ta’ala,

“Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” (al-Baqarah: 106)

Sebab Turunnya Ayat

Ibu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Ikrimah dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Terkadang turun wahyu kepada Nabi saw. pada malam hari, namun ketika siang tiba beliau lupa, maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘Ayat mana saja yang Kami nasakhkan….'” (al-Baqarah: 106)

Ayat 108, yaitu firman Allah ta’ala

“Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada jaman dahulu? Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.” (al-Baqarah: 108)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Sa’id atau Ikrimah dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Rafi’ bin Huraimalah dan Wahab bin Zaid berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Muhammad, datangkanlah kitab yang kau turunkan kepada kami dari langit dan bisa kami baca. Atau pancarkanlah sungai-sungai untuk kami, maka kami akan mengikuti dan membenarkanmu.’ Maka Allah menurunkan firman-Nya tentang hal itu,

“Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada jaman dahulu? Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.” (al-Baqarah: 108)

Huyay bin Akhtab dan Abu Yasir bin Akhtab adalah dua orang Yahudi yang sangat iri kepada orang-orang Arab karena Allah mengutus Rasul-Nya pada kalangan mereka. Keduanya berusaha sekuat tenaga untuk membuat orang-orang meninggalkan Islam. Maka, Allah menurunkan firman-Nya pada keduanya,

“Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan…” (al-Baqarah: 109)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Mujahid, dia berkata, “Orang-orang Quraisy meminta Nabi Muhammad saw. untuk mengubah bukit Shafa menjadi emas. Maka Nabi saw. menjawab, ‘Saya akan melakukannya, dan ia akan menjadi seperti makanan yang diturunkan dari langit kepada Bani Israel jika kalian menjadi kafir.’ Orang-orang Quraisy pun tidak menyanggupi syarat tersebut dan mereka menarik kembali permintaan itu. Maka turunlah firman Allah,

‘Ataukah kamu hendak meminta kepada Rasulmu (Muhammad)….'” (al-Baqarah: 108)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari as-Suddi, dia berkata, “Orang-orang Arab meminta Nabi Muhammad saw. untuk mendatangkan Allah sehingga mereka dapat melihat-Nya dengan jelas. Maka turunlah firman Allah ayat 108 surah al-Baqarah.”

Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari Abul Aliyyah, dia berkata, “Seorang lelaki berkata kepada Nabi saw., ‘Wahai Rasulullah, coba kafarat kita seperti kafarat Bani Israel.’ Nabi saw. menjawab, ‘Apa yang diberikan Allah kepada kalian adalah lebih baik. Dulu orang-orang Bani Israel, jika salah seorang dari mereka melakukan sebuah dosa, maka dia akan menemukan dosa itu tertulis di daun pintu rumahnya beserta kafaratnya. Apabila dia menebusnya, maka itu adalah kehinaan di dunia. Namun jika tidak menebusnya, maka itu akan menjadi kehinaan baginya di akhirat. Sungguh Allah telah memberi kalian hal yang lebih baik dari itu. Allah ta’ala berfirman,

‘Dan barangsiap berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya,….” (an-Nisaa’: 110)

Dan shalat lima waktu serta hari Jumat ke Jumat lainnya adalah kafarat untuk dosa-dosa yang dilakukan di antara keduanya.’ Maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘Ataukah kamu hendak meminta kepada Rasulumu (Muhammad)….”” (12)

12. HR Muslim dalam Kitabuth Thahaarah (14-16), at-Tirmidzi dalam Kitabush Shalat (214).

Sumber: Diadaptasi dari Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, atau Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie (Gema Insani), hlm. 40 – 46.