Demi Piala, 10 Sutradara Anyaran Bikin Film Penyimpangan Seksual (LGBT)

VOA-ISLAM – Demi mengejar piala di bidang perfilman, sembilan sutradara anyaran membuat film bertema lesbian, gay, biseks, dan transgender (LGBT).

Bersama sembilan sutradara anyaran, aktris dan sutradara Lola Amaria, 35 tahun, tengah mempersiapkan proyek kumpulan film pendek berjudul Sanubari Jakarta. Film yang berterita tentang komunitas tertentu yang memiliki orientasi seksual menyimpang. Masing-masing sutradara membuat sejumlah film yang masing-masing berdurasi 10 menit.

Dalam film pendek ini, Lola menyutradarai satu cerita berjudul Lumba Lumba, yang mengisahkan seorang guru TK Lumba Lumba bernama Adinda yang menyukai sesama jenis (lesbi). Sebelumnya, Lola telah membuat film Minggu Pagi di Victoria Park yang bercerita tentang kehidupan TKW di Hong Kong.

Sedangkan Dinda Kanya Dewi menyutradarai Malam Ini Aku Cantik, tentang waria yang bekerja membiayai anak dan istri di desa. Kirana Larasati membuat Topeng Srikandi, kisah perempuan bernama Srikandi yang sakit hati dan memilih menjadi laki-laki.

Menurut Lola, sutradara film Minggu Pagi di Victoria Park, film ini bukan komersial yang diputar di bioskop. “Ini akan diikutsertakan ke festival film di dalam dan luar negeri,” kata wanita kelahiran 30 Juli 1977 itu.

Lola menambahkan, para sutradara baru dan tim produksi sengaja tidak menampilkan film ke pita seluloid, karena mereka sepakat tidak ingin ada sensor dalam cerita dan memilih jalur distribusi film di kampus-kampus dan komunitas tertentu.

Menurut Lola, isu penyimpangan seksual layak diangkat dalam film karena nyata terjadi di tengah masyarakat. Perilaku penyimpangan seksual dalam komunitas itu tidak boleh dihakimi dan dipinggirkan, karena hak asasi manusia.

“Mereka nyata ada di tengah kita dan kita sebagai manusia tidak boleh menghakimi. Kembali ke pribadi masing-masing karena itu hak asasi manusia,” ujarnya. “Sebenarnya tak banyak yang diharapkan komunitas itu, mereka hanya ingin tidak ada diskriminasi karena mereka juga sama dengan kita. Makanya film ini kita buat tanpa ada rasa diskriminasi terhadap pihak minoritas,” tambahnya. Pastinya, sebagai sineas muda, Lola mengaku sangat perhatian dengan tema-tema sosial seperti ini.

Proyek film penyimpangan seksual ini didukung oleh Kresna Duta Foundation, lembaga nonprofit didirikan oleh Lola bersama dua rekannya, Fira Sofiana (produksi film) dan Dimas Hary (pekerja sosial). “Yayasan ini peduli pada isu sosial, perempuan, hak asasi manusia, dan anak,” kata Lola.

Peduli sosial dan perempuan dengan cara mengeksploitasi penyimpangan seksual perempuan demi piala perfilman? (Arbi)