Mengapa Kita Kalah? Mengapa KIta Menang?

Oleh: Aidh Al-Qarni

Dahulu kita (umat Islam) selalu menang...

Kita menang di hari ketika syiar kita adalah “laa ilaah illallaah”, hari ketika tentara-tentara kita menundukkan wajah mereka bersujud kepada Allah sebelum perang, hari ketika tentara kita bertakbir di muka bumi dan malaikat pun bertakbir di langit, takbir yang menggetarkan gunung-gunung, menyiutkan hati musuh-musuh, hingga kita meraih kemenangan demi kemengangan.

Hari ketika Khalid bin Walid memimpin Perang Yarmuk melawan tentara Romawi yang jumlahnya bagaikan lautan bergelombang, berkatalah seorang prajurit kepada Khalid, “Hari ini wahai Khalid, hari ini kita harus lari ke gunung agar selamat.” Maka Khalid mengangkat jari telunjuk dan wajahnya menghadap langit seraya berkata, “Tidak, demi Allah kita tidak akan lari ke gunung untuk selamat, tapi kita akan lari memenuhi panggilan Allah.” Dari situlah, umat Islam meraih kemenangan yang nyata.

Ketika Qutaibah diikat bagaikan onta, seorang hamba sahaya mengangkat jarinya seraya berkata, “Yaa Hayyun Yaa Qoyyum (Wahai Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri), ” maka Qutaibah berkata, “Demi Allah, sesungguhnya jarimu itu lebih kuat bagiku dibandingkan seratus ribu pemuda perkasa, dan seratus ribu pedang tangguh.”

Hari ketika Abdul Aziz bin Abdurrahman berkata kepada salah satu pekerjanya, “Jika Allah bersamamu, siapa yang kamu takuti? Dan jika Allah menjadi lawanmu, kepada siapa kamu berharap?”

Kita menang pada hari ketika Umar dengan penuh tanggung jawab berkata di atas mimbar, “Demi Allah, aku tidak akan pernah kenyang sebelum anak-anak umat Islam kenyang.”

Kita menang di hari ketika kita menolong kaum lemah, mengasuh anak-anak yatim, menyayangi orang fakir miskin.

Kita menang di hari ketika kita selalu membawa Al-Qur’an di hati kita, kemulyaan pada wajah kita dan semangat di kepala kita.

Kita menang ketika keadilan bisa menumpas kedzaliman, kebebasan membersihkan penindasan, dan pikiran umat dikedepankan dari pada pikiran pribadi.

Kita menang ketika umat Islam banyak menghasilkan istana-istana pengetahuan dan menara-menara ilmu. Banyak dari kita yang menyuguhkan ilmu pada dunia, sebut saja Imam Syafi’i, Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan beribu-ribu ulama semacam mereka.

Kita menang pada hari ketika yang memimpin kita adalah sosok-sosok seperti Umar, Sa’ad, Khalid, Thariq serta Quthaibah, yang memimpin kita dengan Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.

Tetapi sekarang kita kalah...

Kita kalah ketika para pemimpin kita membuang Islam dengan terang-terangan, dan menganggap Allah hanya pada satu kelompok tertentu, mereka menyingkirkan “Laa ilaaha illallah”. Kita kalah di hari ketika kebanyakan kita menolak untuk sujud pada Allah, tapi malah dengan sukarela sujud pada syetan, berhala dan taghut.

Hari ini kita kalah..

Kita kalah ketika makanan kita adalah riba dan barang haram, kita banyak berdusta pada diri sendiri dan orang lain, mengkhianati satu sama lain, saling menumpahkan darah sesama saudara se-Islam, berbuat curang dalam timbangan bahkan korupsi.

Kita kalah ketika kita sudah tidak pernah membaca Al-Qur’an, meninggalkan membaca, menulis, membuat inovasi-inovasi dan karya baru. Tapi kita malah sibuk dengan hiburan-hiburan tak bermanfaat, nyanyian, lagu-lagu, slogan-slogan rasis, teriakan-teriakan fanatisme kelompok, senda gurau, kumpul-kumpul dengan pengangguran yang tidak jelas.

Kita kalah ketika pena kebebasan dibelenggu, lisan kejujuran disumbat, hak-hak rakyat dirampas, orang tak bersalah dipenjara dan dihukum, kebebasan berpendapat pun dicekal. Sebaliknya, kebanyakan kita malah gemar bermain dengan uang rakyat, rakyatnya pun disiksa bagaikan budak. Penjara-penjara tak berperi kemanusiaan tersebar di mana-mana, bahkan negara-negara Arab pun bagaikan penjara bagi penduduknya. Islam menjadi tertuduh, masjid-masjid ditinggalkan, mushaf Al-Qur’an diperlakukan seperti halnya majalah. Kebanyakan kita meninggalkan penelitian, penemuan dan kreativitas, bahkan kita malah rela dengan kehinaan dan kemunduran. Kita hanya disibukkan dengan tidur dan kemalasan.

Kita kalah di hari ketika kita terpecah belah menjadi banyak kelompok, organisasi, partai, jama’ah. Kelompok yang satu mencerca, mengkafirkan, menghalalkan darah kelompok lainnya. Para ulama, penulis, penceramah saling mencela, memfitnah, mengkafirkan satu sama lain. Justru kita malah lupa dengan tujuan hidup kita, padahal kita telah menjadi khoiru ummah (umat yang terbaik) karena keagungan dan kemuliaan risalah dakwah Rasulullah Salallahu alaihi wa sallam. Dakwah yang memiliki tujuan paling mulia, dengan manhaj paling bagus, syariat yang paling sempurna, dengan pemimpin yang paling tangguh, dengan generasi paling hebat dan dengan peradaban paling baik. Itulah Islam…

Maka, hanya kepada Allah lah kita mengadu, hanya kepada-Nya lah kita bertawakkal, kepada-Nya lah kita memohon pertolongan, kepada-Nya lah kita berserah dan dari-Nya lah sebaik-baik petunjuk.

Hasbunallah wa ni’mal wakiil… wa laa quwwata illa billah…

(Artikel ini bersumber dari www.iumsonline.org dan diterjemahkan oleh tim redaksi alislamu.com dengan sedikit editing)