Muslimah Latin Lebih Suka Poligami ketimbang Suami Selingkuh

REPUBLIKA – Banyak yang mengira problematika pasangan beda budaya akan menjadi hadangan utama dalam membina rumah tangga. Faktanya, budaya Arab dan budaya Barat bertolak belakang.

Sebagai contoh, perempuan Barat terbiasa dalam kemandirian ekonomi. Mereka bebas memilih pekerjaan. Dalam budaya Arab, pihak suami lah yang menafkahkan istri. Pihak istri hanya mengatur pengeluaran keluarga dan pribadi.

Terkait hal itu, Myriam mengatakan ini adalah rasa tanggung jawab. “Suamiku begitu perhatian. Ia mengatakan pekerjaan yang aku lakukan di rumah sudah cukup,” katanya Myriam (41 tahun), insinyur kimia asal Kolombia yang menikahi pria Mesir, seperti dikutip albawaba.com, Kamis (29/12).

Mencari pasangan melalui internet tengah menjadi tren di kalangan muslimah latin. Dalam prosesnya, mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk melenggang ke jenjang berikutnya. Biasanya, proposal pernikahan tiba dalam hitungan minggu.

Setelah mendapatkan pasangan yang tepat, biasanya mereka mengemas koper untuk hidup baru di luar negeri. Di awal, mereka menghadapi hambatan bahasa, ekonomi dan budaya. Namun, mereka mengaku bahagia kendati perbedaaan budaya berpotensi memicu konflik.

Isu Poligami
Selain persoalan budaya, masalah lain yang akan muncul dari pernikahan beda budaya adalah praktek poligami. Pada isu inilah, budaya Arab yang banyak terpengaruh nilai Islam itu berbenturan dengan budaya Barat. Dalam syarat tertentu, seorang pria Muslim diizinkan memiliki empat istri.

Mesir sendiri tidak melarang poligami. Namun, pemerintah Mesir memberikan syarat untuk pria Mesir berpoligami, yakni kesepakatan pra nikah antara suami dan istri untuk kemungkinan poligami.

Akan tetapi, kebijakan itu tidak dilaksanakan sepenuhnya lantaran sosialisasi dan kesulitan ekonomi. Lebih mengejutkan, perempuan latin lebih memandang poligami lebih baik ketimbang perselingkuhan. Alasanya, pria latin memiliki satu istri di rumah tetapi memiliki banyak hubungan terlarang di luar rumah.

“Memang benar pria latin memiliki satu istri, tapi tidak menjamin ia tidak memiliki banyak wanita di luar rumah. Biasanya, mereka juga tidak memiliki pekerjaan yang tetap. Mereka pun kerap lepas tanggung jawab,” ujar Stella, imigran asal Peru, yang telah menikah dengan pria Kairo.

Karena lepas tanggung jawag, pria latin seolah-olah melupakan anak-anakny. ”Jadi, jika poligami menjamin hak-hak perempuan dan anak, memang sangat sulit, tapi minimal saya tahu ia dengan siapa dan ia tidak membawa penyakit atau kejutan lainnya,” papar Stella. (Arbi)