Riwayat Gaddafi berakhir di Sirte

Berakhir sudah riwayat hidup pemimpin kuat Libya Moamar Gaddafi (69) yang tewas berlumuran darah mengenaskan akibat kena tembakan di kota kelahirannya, Sirte, pada Kamis (20/10) pagi.

Sirte, kota pesisir pantai Laut Mediterania di sebelah timur Tripoli itu belakangan ini menjadi titik perhatian dunia karena menjadi benteng pertahanan terakhir Gaddafi dan konco-konconya.

Dalam beberapa pekan terakhir, Kota Sirte dikepung pasukan pemberontak yang menamakan diri Dewan Peralihan Nasional (NTC) dibantu gempuran udara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Penguasa NTC dengan bangga mengumumkan kematian Gaddafi yang disiarkan langsung oleh berbagai jaringan televisi Arab.

Hampir semua jaringan televisi Arab menghentikan sementara tayangan regulernya untuk menyiarkan tewasnya Presiden Gaddafi.

“Pada kesempatan berbahagia ini kami mengumumkan kepada dunia bahwa Gaddafi telah tewas di tangan pasukan revolusi,” kata Komandan Lapangan Pasukan Revolusi NTC, Abdel Hafez Ghoga, dan menambahkan, “Salah satu putra Gaddafi, Mutassim, juga tewas di Sirte.”

Televisi Pan Arab Al Jazeera menayangkan gambar saat detik-detik tewasnya Gaddafi dengan baju berlumuran darah.

“Gaddafi tertembak di kepala dan beberapa bagian badannya,” kata reportes Al Jazeera dari Libya.

Menurut Al Jazeera, sebelum meninggal, Gaddafi sempat meminta agar ia tidak ditembak.

Menteri Pertahanan NTC Jalal Al Digheily, mengatakan tewasnya pemimpin Libya, Muamar Gaddafi, bukan akhir dari perjuangan untuk membebaskan Libya dari tirani kekuasaan.

“Perjuangan masih panjang meskipun Gaddafi telah tewas,” kata Dagheili dalam jumpa pers pertama pada Kamis dari markas NTC di Bengazi, Libya Timur, yang disiarkan langsung oleh berbagai televisi Arab, Kamis.

Dalam perang saudara itu, menurut pantauan Liga Arab, telah menewaskan lebih dari 26.000 orang.

Tewasnya pemimpin kelahiran 7 Juni 1942 itu sudah diperkirakan banyak orang setelah ia diyakini bersembunyi di kota kelahirannya tersebut menyusul jatuhnya ibu kota Tripoli pada Agustus lalu.

Gaddafi tewas setelah dinyatakan buron sejak Agustus lalu menyusul jatuhnya ibu kota Tripoli di tangan NTC.

Libya dilanda pertempuran hebat dalam tujuh bulan terakhir antara pasukan NTC dan tentara yang loyal terhadap rezim.

Perang saudara di Libya itu diilhami oleh revolusi di Tunisia dan Mesir yang berhasil menumbangkan rezim mereka.

Presiden Tunisia Zine Al Abidin Ben Ali ditumbangkan pada 14 Januari 2011 dan melarikan diri ke Arab Saudi, sementara Presiden Mesir Hosni Mubarak mengundurkan diri pada 11 Feberuari 2011 dan kini diadili di Kairo atas dakwaan penyalahgunaan kekuasaan.

Gaddafi bahkan sempat mencemooh pelarian Ben Ali keluar negeri sesaat setelah pengunduran dirinya.

“Ia (Ben Ali) terlalu cepat mengalah, seharusnya ia bisa mempertahankan kekuasaannya dari petualang politik,” kata Gaddafi ketika itu.

Spekulasi
Presiden berpangkat kolonel yang berkuasa sepanjang empat dasawarsa terakhir itu sejak Agustus lalu menghilang dari Trpoli.

Menghilangnya orang kuat bersama keluarganya itu menimbulkan banyak spekulasi.

Sebelum tewas, keberadaan Gaddafi masih simpang siur, ada yang mengadakan ia telah melarikan diri ke salah satu negara Amerika Latin, dan ada yang mengatakan ia di telah diterima di sebuah negara Afrika dan sebagian orang meyakini masih di persembunyiannya di Libya.

Dari tempat persembunyiaannya, Gaddafi sesekali mengeluarkan seruan perang melawan pemberontak dan imperialisme Barat, merujuk pada gempuran tanpa ampun NATO ke titik-titik pertahanan rezim.

Dua pekan lalu, dari tempat persembunyiannya lewat rekaman video, Gaddafi masih sesumbar menyatakan bahwa ia masih tetap memimpin negara Arab di Afrika Utara kaya minyak itu.

“Kami tidak akan terkalahkan, saya tetap memimpin, penjajah bakal kalah, kami menang, kami menang,” sesumbar Gaddafi.

Gaddafi dan Saiful Islam pada 27 Juni lalu oleh Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) dinyatakan sebagai tersangka genosida dan pelanggaran hak asasi manusia, merujuk pada serangan udara pasukan Gaddafi.

Hampir 42 tahun Gaddafi menjadi orang nomor wahid Libya sejak memimpin kudeta militer tak berdarah yang menumbangkan Raja Idris pada 1 September 1969.

Rezim Gaddafi pun mengubah bentuk negara dari kerajaan menjadi Republik Arab Libya.

Ia dikenal sebagai pemimpin nyentrik yang selalu tampil beda dengan pakaian khas badui Libya.

Berbeda dengan pemimpin Arab lain, dalam kunjungannya ke luar negeri Gaddafi selalu tinggal di kemah dan menolak tinggal di hotel.

Personel pengawal pemimpin flamboyan itu juga didominasi oleh wanita cantik, termasuk beberapa wanita asing, tulis wartawati Mesir, Mona Shahab.

Ia pernah menyebut Liga Arab sebagai “banci” dan pernah menarik Libya dari keanggotaan organisai regional Arab itu.

Gaddafi kerap terlibat percekcokan dengan kalangan pemimpin Arab termasuk Raja Arab Saudi Abdullah Bin Abdul Aziz.

Pengagum berat pemimpin Mesir, mendiang Gamal Abdel Nassir ini, semula menjadi penentang Barat terutama Amerika Serikat, namun belakangan ia menjalin hubungan dengan Barat setelah Presiden Irak Saddam Hussein ditumbangkan dalam agresi militer AS pada 2003.

Pengucilan dan embargo ekonomi PBB diakhiri setelah Gaddafi menyatakan perlucutan senjata nuklirnya pada 2001.

Peneliti sosial politik dunia Arab, Sameer Mohamed Said, mencatat bahwa Gaddafi memimpin Libya secara absolut dengan membungkam siapa saja yang berusaha menyaingi kekuasaannya.

“Tidak ada ruang bagi calon pemimpin yang membayangi kekuasaan Gaddafi, ia selalu membantai setiap tokoh yang membayangi kepemimpinannya,” tulis Said dalam bukunya, “Al Jamahiriyah Al Libyah”.

Said mencatat, selama kepemimpinannya, Gaddafi mengalami sedikitnya enam kali usaha pembunuhan terhadap dirinya, namun selalu gagal.

Analis militer, Hossam Rizq, mengatakan meskipun Gaddafi seorang militer, namun kepemimpinannya di militer sangat rapuh.

Alhasil, riwayat hidup berliku Gaddafi telah berakhir di kota kelahirannya, Sirte. (Arbi/antara)