Israel Kembangkan 100 Metode Penyiksaan Terhadap Tahanan Palestina

Pusat Studi Tahanan (CPS) di Gaza mengungkapkan bahwa pasukan keamanan Israel telah mengembangkan lebih dari seratus metode penyiksaan mental dan fisik yang dirancang untuk mendapatkan pengakuan dari warga Palestina selama diinterogasi.

Israel menggunakan penyiksaan terhadap para tahanan dari mulai saat mereka ditangkap sampai ketika mereka dibiarkan bebas, kata direktur CPS Raafat Hamdouna, sembari mengutuk demokrasi Israel dan klaim HAM yang sering didengungkan Israel, dan menyerukan masyarakat dunia untuk memantau apa yang terjadi serta mengeluarkan dakwaan terhadap petugas keamanan Israel yang terlibat dalam penyiksaan para tahanan.

Hamdouna mengatakan bahwa setiap orang yang pernah masuk penjara-penjara Israel telah mengalami berbagai bentuk penyiksaan. Penyiksaan dimulai dari saat penangkapan, tindakan kebrutalan digunakan untuk menanamkan rasa takut terhadap keluarga para tahanan. Rumah penduduk yang ditargetkan biasanya dirusak dan diserang sebelum subjek diambil sebagai tawanan dari rumahnya, Hamdouna menambahkan.

“Langkah itu diikuti dengan ancaman pembunuhan, penyiksaan, penghancuran rumah, pemerkosaan atau penangkapan istri tahanan, menutupi kepala dengan karung kotor, tahanan dibuat kurang tidur, dilukai selama interogasi, menempatkan tahanan di dalam kulkas dan tahanan dibuat berdiri untuk waktu yang lama,” kata Hamdouna, sambil mendata lebih banyak tindakan penyiksaan.

Pakar tahanan ini juga mengutip beberapa metode yang digunakan di dalam penjara, mulai dari penggunaan kekuatan yang berlebihan, sehingga menyebabkan kematian, pembatasan pada penggunaan toilet yang telah menyebabkan tahanan harus menggunakan ember, menyebabkan tahanan hidup dalam busuk bau busuk.

Bentuk terburuk penyiksaan sampai saat ini adalah bahwa satu orang telah dipenjara selama 34 tahun dan kehilangan kebutuhan hak dasarnya, katanya, menambahkan bahwa para tahanan Palestina menjadi korban pendudukan Israel pada semua tingkatan, baik dari pengadilan sipil dan militer, yang menghukum mereka, atau dokter Israel yang memperlakukan mereka secara buruk atau penjaga penjara yang menyiksa mereka.

Hamdouna meminta Palang Merah dan PBB untuk mengambil sikap netral dalam laporan dan keputusan mereka, juga menarik negara-negara demokratis, Organisasi Konferensi Islam, dan Liga Arab untuk datang menyelamatkan para tahanan Palestina. (Fani/erm)