Umat Islam Indonesia Sepakat Tolak dan Bubarkan Sekte Sesat Syi’ah

Upaya sekte Syi’ah Indonesia untuk menghapus jarak antara faham sesat Syi’ah dengan akidah Islam mainstream (Ahlussunnah Waljama’ah/Sunni) berbuah blunder.

Untuk membuat opini bahwa Syi’ah adalah salah satu mazhab Islam yang bisa berdamai dengan umat Islam lainnya, para tokoh Syi’ah yang tergabung dalam Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) merekayasan ormas Majelis Ukhuwah Sunni—Syi’ah Indonesia (MUHSIN) yang mencatut nama Sunni.

Selain mencatut nama Sunni, mereka juga menyalahgunakan nama institusi Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI) yang diklaim sebagai pendiri mewakili pihak Sunni.

Uniknya, deklarasi MUHSIN di Masjid Agung Kemayoran, Jakarta, Jumat (20/5/2011) ini dihadiri oleh Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), ormas yang masih bergelimang dengan warisan sekte sesat Islam Jama’ah (IJ) yang memiliki doktrin mengafirkan umat Islam yang tidak berbaiat pada kelompoknya.

Buntut dari pencatatan nama PP DMI, umat Islam makin terbuka dengan cara-cara kotor dalam perjuangan Syi’ah. Beberapa hari setelah deklarasi MUHSIN, Ketua Umum PP DMI Prof KH Tarmizi Taher mengeluarkan pernyataan sikap bahwa pencantuman institusi DMI dalam deklarasi MUHSIN adalah ilegal karena tanpa sepengetahuan dan tidak mendapatkan rekomendasi dari PP DMI.

Kini, ormas-ormas Islam Indonesia menyatakan sikap tegas menolak Syi’ah dan menuntut pembubaran Syi’ah.

Pernyataan sikap itu ditandatangani oleh ormas-ormas Islam mainstream di Indonesia, setelah menggelar Tabligh Akbar “Ahlussunnah Bersatu Menolak Syiah” di Masjid Al-Furqan DDII, Jalan Kramat Raya 45 Jakarta Pusat, Jum’at (10/6/2011).

Dalam sambutannya selaku Keynote Speaker, KH. A. Cholil Ridwan dari Mejelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menyampaikan fakta dan data seputar kesesatan dan bahaya Syi’ah, mulai dari akidah dan ibadah hingga kesesatan muamalat dalam pelacuran berkedok kawin Mut’ah yang berakibat maraknya penyakit kelamin.

Karenanya, pendiri Pesantren Husnayain yang juga Ketua BKSPPI itu mengimbau kepada umat Islam untuk membentengi diri dan keluarga dari sekte Syi’ah. “Allah memerintahkan ‘quu anfusakum wa ahlikum naron.’ Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Karena sekte Syi’ah jelas sesat dan menyesatkan, maka Syi’ah termasuk ‘naron.’ Jagalah diri dan keluarga dari Syi’ah,” urainya.

Di akhir sambutannya, Kiyai Cholil, demikian biasa disapa, mengingatkan bahwa Syi’ah adalah gerakan politik untuk mengejar kekuasaan. “Syi’ah adalah aliran atau gerakan politik yang targetnya adalah kekuasaan,” tegasnya.

Para narasumber lain yang tampil dalam acara tersebut di antaranya: Habib Achmad Zein Al-Kaf (Yayasan Al-Bayyinat dan PWNU Jatim), Ustadz Agus Tri Sundani (Majelis Tabligh PP Muhammadiyah), Idrus Ramli (Bahtsul Masail PWNU Jatim dan Ponpes Sidogiri Jatim), Tiar Anwar Bachtiar (Persatuan Islam), dll.

Usai tabligh akbar, para utusan ormas Islam menandatangani Pernyataan Bersama Menolak Syi’ah yang berisi lima sikap:

1. Ahlussunnah tidak dapat dipersatukan dengan Syi’ah, karena berbeda dalam Ushuluddin (Aqidah/Tauhid).

2. Syi’ah berbahaya bagi agama, bangsa dan negara.

3. Mendesak MUI untuk mengeluarkan fatwa lagi tentang sesatnya Syi’ah secara tegas.

4. Mendesak Pemerintah agar melarang Syi’ah dan aktivitasnya di seluruh wilayah Indonesia, agar tidak timbul konflik seperti di Irak, Yaman, Pakistan dan Negara lain.

5. Kami Ahlussunnah (Muslimin Indonesia) sangat menolak keras MUHSIN (Forum Ukhuwah Sunni-Syi’ah Indonesia) yang digagas beberapa waktu yang lalu oleh aktivis-aktivis Syi’ah dan oknum yang mengatasnamakan Muslimin Indonesia di Jakarta.

Acara berlangsung sukses dengan dihadiri ratusan masa dari berbagai ormas Islam, meski usai acara sempat terjadi insiden tertangkapnya dua aktivis Syi’ah yang menyebarkan selebaran membela Syi’ah. Kegaduhan kecil bisa diatasi oleh beberapa Laskar FPI wilayah Jakarta Timur. Dua orang yang diindikasi Syi’ah diinterogasi, sedang dua orang lainnya kabur terbirit-birit keluar masjid tanpa sempat mengenakan sendalnya. (Fani/Vis)