Pakai Jilbab, Kulsum Tak Boleh Ikut Kompetisi Angkat Berat

Jilbab, masih jadi persoalan dalam bidang olahraga. Saat tim sepakbola perempuan Iran memperjuangkan jilbabnya karena tersandung aturan FIFA, di AS, seorang muslimah yang juga atlet angkatberat juga sedang memperjuangkan hal yang sama.

Kulsum Abdullah, muslimah AS keturunan Pakistan ini sudah menekuni olahraga angkat berat sejak tahun 2008. Muslimah asal Atlanta ini selanjutnya rajin mengikuti berbagai kompetisi dan menunjukkan potensinya sebagai atlet angkat berat yang berbakat.

Setelah mengikuti kompetisi angkat berat tahun 2010 lalu, untuk katagori berat 60 kilo dan 70 kilo, Kulsum berhasil lolos kualifikasi untuk ikut dalam ajang Kejuaraan Angkat Berat Terbuka Amerika, yang akan menjadi debut kompetisi pertamanya di tingkat nasional.

Tapi, ketika para pelatih Kulsum mengatakan pada panitia penyelenggara bahwa Kulsum akan mengenakan seragam khusus yang sudah dimodifikasi lengkap dengan jilbabnya, pihak panitia menolak keikutsertaan Kulsum.

Teman-teman Kulsum yang berprofesi sebagai pengacara mengatakan bahwa ada sejumlah atlet yang memenangkan gugatan untuk mengenakan “busana khusus” dengan alasan keagamaan. Atas bekal informasi itu, Kulsum memperjuangkan haknya sebagai muslimah untuk tetap mengenakan jilbab. Ia secara pribadi menulis surat ke asosiasi angkat berat AS dan meminta agar organisasi memberikan kompromi padanya soal seragam yang akan digunakan dalam kompetisi.

Namun surat balasan dari asosiasi itu mengatakan, bahwa mereka harus mematuhi aturan Federasi Angkat Berat Internasional (IWF) tentang ketentuan pakaian atlet angkat berat, tanpa pengecualian.

“Saya sangat kecewa, karena saya sangat menantikan kompetisi ini. Saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan lolos kualifikasi untuk level nasional. Tapi masalah busana khusus ini, seolah-olah mengatakan bahwa ‘jika Anda berbeda, maka Anda tidak bisa ikut kompetisi.’ Saya tidak meminta orang untuk mengubah apapun, saya cuma meminta bisa ikut berpartisipasi dan boleh mengenakan busana yang saya kenakan,” tulis Kulsum dalam situsnya.

Masalah Kulsum mendapat perhatian dari Council on American-Islamic Relations (CAIR)–organisasi advokasi muslim di AS–yang sekarang mencoba melobi asosiasi angkat berat, agar memberikan toleransi busana pada Kulsum. CAIR menyatakan, Asosiasi Angkat Berat AS telah melanggar aturan Ted Stevens Olympic dan Amateur Sports Act yang melarang badan-badan olahraga melakukan diskriminasi berdasarkan ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, usia dan kebangsaan.

“Tidak mengizinkan Kulsum Abdullah mengenakan jilbab, adalah sebuah diskriminasi,” kata CAIR. (Fani/erm)