Kapolri: Bentrok Terjadi Karena Ahmadiyah Tolak Dievakuasi Polisi

Kapolri Jenderal (Pol) Timur Pradopo mengatakan, polisi telah melakukan pencegahan terhadap tindak kekerasan yang terjadi di Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten, Minggu (6/2). Sebelumnya pihak kepolisian hendak melakukan evakuasi terhadap Jemaat Ahmadiyah, namun upaya itu di tolak oleh mereka.

“Polisi menghimbau untuk bisa dievakuasi namun mereka tetap tidak mau, dan bersamaan dengan itu pula kurang lebih ada 1500 warga yang kemudian “menyerang” sehingga tindak kekerasan tidak terelakkan,” kata Timur.

Mantan Kapolda Metro Jaya ini menambahkan, pihaknya sudah mendapatkan informasi sejak Kamis (3/2) lalu bahwa di Desa Cibende Kecamatan Cikeusik, Pimpinan Ahmadiyah Ismail Suparman akan menggelar kegiatan keagamaan. Tetapi, masyarakat di Cikeusik tidak menerimanya dan akan melakukan penertiban.

“Tanggal 3 Februari itu ada info bahwa desa cikeusik itu ada kegiatan dari Ahmadiyah pimpinan yang ada disana Ismail Suparman. Bahwa dengan kegiatan tadi masyarakat tidak terima dan akan melakukan penertiban,” ujar Timur, Minggu (6/2/2011), malam.

Masalah ini kemudian dibawa ke Forum Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Kabupaten Pandeglang dan diputuskan bahwa Ismail Suparman akan dievakuasi dan berada di bawah perlindungan Polres Pandeglang. Evakuasi itu dilakukan Sabtu (5/2) sekitar pukul 13.00 WIB. “Artinya pencegahan sudah dilakukan,” katanya.

Namun pada 6 Februari 2011, kata Timur, sekira pukul 07.00 WIB orang ada yang datang mengatasnamakan Deden dari Bekasi sebanyak 15 orang dengan mengendarai dua unit mobil. Mereka mengaku dari Ahmadiyah pusat dan datang ke rumah Ismail yang kosong.

“Dan menyatakan bahwa rumah itu adalah inventaris dari Pengurus Pusat Ahmadiyah. Sehingga kalau memang ada masyarakat mau merusak atau menertibkan itu, harus dipertahankan karena memang bagian dari inventaris dari warga Ahmadiyah,” lanjut Timur.

Timur mengatakan, pihaknya tidak dapat mengantisipasi pergerakan massa dari Bekasi tersebut yang datang secara tiba-tiba.

“Pergerakan dari Bekasi mendadak dan tidak kami ketahui. Dipimpin oleh Deden, yang mengatasnakaman dari Ahmadiyah pusat. Mereka mencoba mempertahankan rumah yang biasa digunakan untuk kegiatan Ahmadiyah.”

“Sebanyak 1.500 orang dari warga sekitar telah menanti di luar. Kondisi menjadi tidak kondusif dan kami sudah berusaha keras untuk mengatasi keadaan,” papar Timur.

Red: Fani
Sumber: Okezone