Manado Dirikan Menorah Terbesar Sedunia Untuk Cari Perhatian Yahudi

Eksistensi Yahudi di Indonesia ternyata tidak hanya nampak di Synagog Surabaya. Di Manado, komunitas Kristen Pantekosta melestarikan agama dan tradisi Yahudi. New York Times dalam liputannya beberapa waktu lalu menyoroti eksistensi Yahudi Manado bertajuk “In Sliver of Indonesia, Public Embrace of Judaism.”

Sebuah menorah raksasa setinggi 62 kaki, dan mungkin yang terbesar di dunia, baru saja dibangun. Menorah milik pemerintah daerah setempat ini melintasi pegunungan dan melewati kota Manado. Menorah adalah salah satu lambang suci peribadatan Yahudi.

Bendera-bendera Israel terlihat di pelataran ojek dekat tugu menorah raksasa. Salah satunya terletak di dekat sebuah sinagog yang dibangun sekitar enam tahun lalu. Langit-langit menorah tersebut berbentuk Bintang Daud (David Star) yang sangat besar. Semua fasilitas itu dibiayai oleh kas pemerintah daerah setempat.

Area ini lama dikenal sebagai salah satu benteng Kristen dan apalagi baru-baru ini tempat tersebut digunakan sebagai rumah untuk kelompok Kristen evangelis dan kharismatik. Area yang berada di pinggiran utara Indonesia ini sangat menonjolkan identitas Yahudi. Hal tersebut terjadi setelah beberapa orang memeluk agama sesuai dengan nenek moyang mereka yang merupakan warga negara Belanda keturunan Yahudi. Dengan ijin dan bantuan pemda setempat, mereka mendapat tempat untuk kalangan mereka sendiri di Indonesia, sebuah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.

Sinagog peninggalan Belanda di pinggiran Manado tersebut dipakai untuk kebaktian yang dihadiri oleh sepuluhan orang. Para Yahudi Manado tersebut mempelajari agama Yahudi dari video yang mereka unduh dari situs Youtube. Mereka menyusun Taurat dengan mencetaknya di sebuah kafe internet. Mereka bertanya tentang agamanya kepada Rabi Google.

“Kami hanya mencoba untuk menjadi orang-orang Yahudi yang baik,” kata Toar Palilingan, 27, yang mengenakan mantel hitam dan topi lebar ala Yahudi. Dosen Universitas Sam Ratulangi ini memimpin sebuah perayaan Sabat di rumah keluarganya baru-baru ini.

“Tapi kalau Anda membandingkan kami dengan orang-orang Yahudi di Yerusalem atau Brooklyn, maka kami belum sehebat mereka,” papar Palilingan yang lebih akrab disapa Yaakov Baruch, nama Yahudi yang dipakainya. Palilingan alias Yaakov adalah angota Indonesian Jewish Community (IJC) sekaligus Ketua North Sulawesi Jewish Community (NSJC).

Indonesia dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik namun memiliki berbagai hubungan militer dan ekonomi selama puluhan tahun. Beberapa tahun terakhir, pengusaha Yahudi dari Israel dan atau dari tempat lain, diam-diam berkunjung ke Manado untuk mencari peluang bisnis.

Salah satu di antaranya adalah Moshe Kotel, pria kelahiran di El Salvador 47 tahun lalu yang memiliki kewarganegaraan Israel dan Amerika. Secara rutin Kotel datang ke Manado setiap tahun, sejak tahun 2003, untuk mengembangkan bisnis telur organik. Kotel yang mengawini seorang wanita dari daerah itu, mengatakan dirinya merasa gugup saat mendarat di bandara setempat untuk pertama kalinya.

“Saat itu jam menunjukkan pukul 23.00, dan saya selalu membawa tefillin. Tapi sejak saya melihat bendera Israel di areal taksi bandara, saya selalu merasa diterima di sini,” ujarnya. Tefilim adalah sebuah kotak kulit kecil tempat menyimpan gulungan perkamen berisi ayat-ayat Torah yang biasa dililitkan di tangan dan lengan ketika mereka membaca kitab sucinya.

Minahasa Utara adalah sebuah kabupaten yang mayoritas penduduknya adalah umat Kristen. Menurut Margarita Rumokoy, kepala Departemen Pariwisata Pemkab Minahasa Utara, Pemda mendirikan menorah raksasa tahun lalu dengan biaya sebesar 150 ribu dolar AS.

Denny Wowiling, seorang anggota DPRD setempat, menekankan bahwa orang Kristen dan Muslim hidup damai di provinsi Sulawesi Utara. Tetapi ia juga mengakui adanya kekhawatiran kalau mereka akan dijadikan target sasaran dari orang-orang dari luar untuk membuat kerusuhan.

Denny mengaku, dialah yang mengusulkan gedung menorah tersebut, setelah melakukan studi banding di depan Knesset di Israel. Dia berharap untuk dapat menarik wisatawan dan pengusaha dari Eropa.

“Menorah ini juga dipersembahkan bagi orang Yahudi, agar orang-orang Yahudi tahu bahwa ada simbol ini sakral mereka di sini. Bahwa simbol sakral mereka juga ada di luar negara mereka,” kata Denny yang notabene penganut Kristen Pantekosta. (vis/Fani)