Pasukan Israel Tembakkan 308 Peluru di Kapal Mavi Marmara

Pasukan komando Israel menembakkan 308 peluru di kapal bantuan tujuan Gaza pada Mei untuk menghalau para penumpang yang menyerang mereka dengan senjata mematikan, termasuk pistol mesin Uzi yang dirampas, kata jendral utama Israel, Minggu. Dalam babak kedua kesaksian di depan komisi penyelidik, Letnan Jendral Gabi Ashkenazi menekankan bahwa pembunuhan sembilan orang Turki pro-Palestina oleh angkatan laut Israel di kapal Mavi Marmara tidak bisa dihindarkan.

Pasukan komando marinir diperlengkapi dengan peralatan antihuru-hara namun segera menggunakan tembakan amunisi untuk menghadapi para penumpang bersenjata karena “jika mereka tidak melakukan hal ini, akan ada korban lebih banyak”, kata Ashkenazi kepada Komisi Turkel yang beranggotakan enam orang.

Ankara, yang menuntut kompensasi dan permintaan maaf dari Israel, tidak menaruh harapan pada komisi itu karena mandatnya terbatas. Namun, komisi itu telah mengundang para penumpang kapal Mavi Marmara — yang banyak diantaranya menekankan bahwa penyerbuan pasukan komando itu tidak diprovokasi — dan mengisyaratkan akan menyelidiki lebih lanjut angkatan laut Israel.

Ashkenazi mengatakan, 308 peluru amunisi ditembakkan oleh pasukan Israel. Seorang pembantu utama jendral itu mengatakan kepada Reuters, 70 dari peluru-peluru itu dimaksudkan untuk melukai dan sisanya merupakan tembakan peringatan. Pernyataan pejabat itu tampaknya selaras dengan hasil temuan tim forensik Turki bahwa kesembilan aktivis yang tewas terkena tembakan 30 kali, dan juga ada luka-luka tembakan diantara 24 penumpang lain yang cedera. “Mereka yang mempermasalahkan taktik harus mengusulkan solusi alternatif,” kata Ashkenazi.

Jendral Israel itu menyatakan, para penumpang merebut tiga senapan Glock dan sebuah pistol mesin Uzi dari prajurit-prajurit komando yang mereka kuasai. Pasukan Israel diturunkan dari helikopter ke kapal yang padat penumpang itu ketika melewati kawasan perairan Laut Tengah pada malam hari.
Para aktivis Mavi Marmara mengatakan, senjata-senjata yang dirampas itu hanya dimaksudkan untuk perlucutan, tidak untuk digunakan.

Israel menjadi sorotan dunia setelah serangan mematikan terhadap armada kapal bantuan tujuan Gaza pada Mei. Laporan yang dikeluarkan Dewan Hak Asasi Manusia PBB pada 22 September menyebutkan, ada “bukti jelas untuk mendukung penuntutan” terhadap Israel karena pembunuhan dan penyiksaan yang disengaja dalam serangan Mei yang menewaskan sembilan aktivis Turki itu.

Israel menolak laporan itu dengan menyebutnya sebagai bias dan mendukung satu pihak dan menekankan bahwa mereka bertindak sesuai dengan hukum internasional. Pasukan komando Israel menyerbu kapal-kapal dalam armada bantuan yang menuju Jalur Gaza pada 31 Mei. Sembilan aktivis Turki pro-Palestina tewas dalam serangan di kapal Turki, Mavi Marmara, yang memimpin armada kapal bantuan itu menuju Gaza.

Israel berkilah bahwa penumpang-penumpang kapal itu menyerang pasukan, namun penyelenggara armada kapal itu menyatakan bahwa pasukan Israel mulai melepaskan tembakan begitu mereka mendarat.

Hubungan Israel-Turki terperosok ke tingkat terendah sejak kedua negara itu mencapai kemitraan strategis pada 1990-an akibat insiden tersebut.

Turki memanggil duta besarnya dari Tel Aviv dan membatalkan tiga rencana latihan militer setelah penyerbuan itu. Turki juga dua kali menolak permohonan pesawat militer Israel menggunakan wilayah udaranya. Setelah serangan itu, Mesir, yang mencapai perdamaian dengan Israel pada 1979, membuka perbatasan Rafah-nya untuk mengizinkan konvoi bantuan memasuki wilayah Gaza — kalangan luas melihatnya sebagai upaya untuk menangkal kecaman-kecaman atas peranan Mesir dalam blokade itu.

Kairo, yang berkoordinasi dengan Israel, hanya mengizinkan penyeberangan terbatas di perbatasannya sejak Hamas menguasai Gaza pada 2007. Di bawah tekanan-tekanan yang meningkat, Israel kemudian meluncurkan penyelidikan bersama dua pengamat internasional atas serangan itu. Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-moon mendorong penyelidikan terpisah PBB dengan keikutsertaan Israel dan Turki.

Israel juga mengendurkan blokade terhadap Gaza dengan mengizinkan sebagian besar barang sipil masuk ke wilayah pesisir tersebut. Jalur Gaza, kawasan pesisir yang padat penduduk, diblokade oleh Israel dan Mesir setelah Hamas berkuasa hampir tiga tahun lalu.

Kelompok Hamas menguasai Jalur Gaza pada Juni tahun 2007 setelah mengalahkan pasukan Fatah yang setia pada Presiden Palestina Mahmoud Abbas dalam pertempuran mematikan selama beberapa hari. Sejak itu wilayah pesisir miskin tersebut dibloklade oleh Israel. Palestina pun menjadi dua wilayah kesatuan terpisah — Jalur Gaza yang dikuasai Hamas dan Tepi Barat yang berada di bawah pemerintahan Abbas.

Uni Eropa, Israel dan AS memasukkan Hamas ke dalam daftar organisasi teroris. (rpb/Fani)