Ramadhan di Mesir: Satu Tarawih 10 Juz

ImageShalat Tarawih di Masjid Amru bin Ash’ banyak dirindukan umat Islam. Tidak hanya warga Mesir yang tinggal di Kairo saja, melainkan juga umat Islam dari negara lain.  Itu terutama para mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di Kairo.   Tak heran, kalau pada saat bulan Ramadhan, jamaah shalat Tarawih mencapai 500 ribu orang. Dengan jumlah jamaah yang demikian banyak, maka shaf shalat meluber hingga ke jalan-jalan di sekitarnya. Bahkan jamaah itu memanjang hingga terowongan Malik As Shalih, yang berjarak hampir 1 km dari masjid.
  Pengalaman seperti itu pernah dialami Baihaqi, salah satu mahasiswa Al Azhar yang pernah melaksanakan shalat di masjid yang pertama kali berdiri di Mesir ini.

Awalnya, Baihaqi merasa penasaran saat mendengar kabar bahwa yang menjadi imam tarawih di masjid itu adalah Syekh Muhammad Jibril, salah satu qari’ terkenal di Mesir. ”Ternyata benar, bacaan Syekh Jibril benar-benar bagus,” katanya. Tak heran ia rela berangkat menjelang Ashar, agar bisa mengikuti tarawih di dalam masjid.

Tetapi prediksi Baihaqi meleset, ia mendapatkan tempat di jalan raya di sekitar masjid. Bisa dibayangkan, jika berangkat sore hari saja kebagian shaf di jalan, bagaimana dengan mereka yang berada di dalam masjid? Lebih jauh lagi, jam berapa harus berangkat kalau ingin shalat di shaf pertama?

Bacaan Syekh Jibril memang merupakan daya tarik tersendiri bagi umat Islam yang tinggal di Ibukota negeri seribu menara ini. Bahkan, kaset muratal beliau sudah sampai di Indonesia sejak beberapa tahun lalu. Tak heran jika Fauzan Subroto, mahasiswa Al Azhar asal Sidoarjo yang sudah pernah mendengar suara beliau sejak di kampung halamannya, juga penasaran ingin menyaksikan langsung seperti apa sosok Syekh Muhammad Jibril.

Sayang, ia tidak bisa melihat sosok qari’ yang resmi menjadi imam di Masjid Amru bin Ash’ sejak tahun 1988 itu. Ia harus shalat di jalan karena masjid sudah penuh sesak.

Sebenarnya, bukan hanya bacaan Syekh Jibril saja yang menjadi daya tarik. Doa qunut yang beliau bacakan saat shalat Witir juga merupakan ”magnet” tersendiri. Dalam doa qunut yang memakan waktu sekitar 30 menit, umat Islam Palestina, Kashmir, Iraq, Afghanistan disertakan dalam doa, agar mereka segera terbebas dari penjajahan. Tidak hanya itu, urusan jodoh, kesehatan, ekonomi, studi juga tidak luput dari doa yang beliau panjatkan. Tak heran jika selama doa diucapkan, ribuan jamah menangis terharu.

Bukan hanya sosok Syekh Jibril saja yang membuat masyarakat tertarik hingga berduyun-duyun melaksanakan shalat. Masjid Amru Ash sendiri memiliki nilai sejarah, karena merupakan masjid yang pertama kali dibangun di Mesir pascamasuknya pasukan Islam yang dipimpin oleh sahabat Rasulullah SAW, Amru bin Ash.

Bagi mereka yang hendak shalat di masjid ini, tidak hanya berangkat lebih awal, tapi mereka harus menerima konsekuensi pulang agak malam. Sebab, Shalat Tarawih berakhir pada pukul sembilan malam. Itulah yang dialami Baihaqi dan Fauzan. Mereka baru bisa mencapai rumah kontrakan yang berada di Madinah Nashr pada pukul sebelas malam. Tapi walau demikian, ternyata keinginan untuk melakukan shalat di Masjid Amru bin Ash masih tetap ada dalam hati mereka.

10 Juz

Pesona Ramadhan di Mesir tidak hanya datang dari Masjid Amru bin Ash. Ada pula sebuah masjid di sudut kota Kairo yang memiliki kekhasan tersendiri dalam mengisi bulan mulia ini. Itulah Masjid Ibad Arrahman, yang berada di Distrik Imam As Syafi’i.

Yang agak berbeda dari masjid ini, dibanding pada umumnya masjid-masjid di Mesir adalah jumlah bacaannya dalam shalat Tarawih. Rata-rata masjid-masjid lainnya menyelesaikan satu Juz bacaan al-Qur`an setiap malamnya, sedangkan bacaan Tarawih di masjid Ibad Arrahman mencapai 10 juz.

Tak heran jika untuk Shalat Isya’ saja, di masjid ini selesai pukul satu tengah malam. Untuk satu rakaat, rata-rata membutuhkan waktu satu jam lebih. Kalau dibandingkan dengan pelaksanaan shalat Tarawih di mayoritas masjid Indonesia, mungkin kita sudah selesai melakukan shalat, mereka baru menyelesaikan rakaat pertama shalat Isya’.

Setelah shalat Isya’, baru dilanjutkan shalat Tarawih hingga selesai menjelang shubuh, sehingga waktu makan sahur pun cukup singkat.

Meski waktu shalat cukup lama, banyak pula  warga Mesir yang berminat, terutama para penuntut ilmu, hingga jumlah jamaah mencapai sekitar seribu orang. Mereka kebanyakan para penghafal al-Qur`an. Salah seorang pelajar Indonesia yang pernah mengikuti shalat Tarawih dan i’tikaf di Ibad ArRahman ini adalah Dr. Zain An Najah.

Saat itu, pria asal Klaten ini sedang menyelesaikan studinya  untuk tingkat doktoral di Al Azhar. Seorang dosen mata kuliah Ushul Fiqh, Syaikh Usamah, mengajaknya melakukan i’tikaf di masjid itu. Kebetulan, saat itu beliau sendiri yang menjadi imam dalam shalat Tarawih itu.

Dengan banyaknya jumlah ayat yang dibaca, otomatis bacaan agak cepat. Walau demikian, bacaan tetap memperhatikan tajwid dan makharij al huruf (tempat keluarnya huruf). Tidak hanya shalat Tarawih, shalat Shubuh pun selesai hingga menjelang matahari terbit, karena imam membaca surat Al Mukminun yang panjangnya 6,5 halaman mushaf standar.

Walau saat ini sudah menyelesaikan studi dan kembali ke Tanah Air, pengalaman mengikuti Tarawih di Masjid Ibad Ar Rahman masih berkesan bagi Zain. Ia menilai bahwa mereka yang ikut melakukan shalat yang demikian panjang itu golongan baqiyah as shalihin (orang-orang saleh yang tersisa), yang mungkin di dunia hanya tinggal satu tempat saja, yakni di Masjid Ibad Ar Rahman. (hidayatullah.com)