Undang-Undang Anti Poligami Picu Aksi Unjuk Rasa Ummat Islam Malawi

ImageUmmat Islam di Malawi meluapkan kemarahan mereka dengan melakukan aksi unjuk rasa. Aksi itu dipicu akan dibuatnya undang-undang yang melarang poligami oleh pemerintah.   Jurubi bicara dari Asosiasi Ummat Islam Malawi, kepada BBC menyatakan, "Undang-undang tersebut telah mendiskriminasi ummat muslim minoritas di negeri ini."
  "Realita yang terjadi di Malawi, jumlah kaum wanita 6 kali lebih banyak daripada kaum lelaki. Kalau dilarang nikah poligami, maka banyak kaum wanita yang tidak dapat suami dan hal itu dapat mengakibatkan imlikasi sosial yang membahayakan," tambahnya.

Sementara itu, pemerintah Malawi beralasan dengan dibuatnya undang-undang yang melarang poligami akan mencegah pelanggaran terhadap hak-hak perempuan, karena kebanyakan kaum lelaki yang melakukan nikah poligami tidak dapat berlaku adil secara sempurna kepada para istrinya.

"Ketika seorang lelaki memiliki dua, tiga, atau empat orang istri maka ia tidak akan dapat tolong menolong dengan baik," jelas seorang Menteri Malawi, Patricia Kaliati.

Menurut Patricia, pemerintah telah melakukan diskusi dengan para tokoh di Malawi soal undang-udang ini.

Tapi pernyataan itu dibantah oleh Sekretaris Asosiasi Ummat Islam Malawi, Umran Syarif Muhammad. "Bohong, pemerintah sama sekali belum melakukan diskusi dengan ummat Islam, dan kita menolak secara tegas undang-udang itu. Di sini ada juga kelompok etnis yang mempraktekkan nikah poligami, dan mereka juga menolak secara tegas undang-udang poligami," jelasnya.

"Kalau mereka dilarang poligami, berarti akan banyak wanita yang terlantar karena diantara hak kaum wanita adalah mendapatkan kehidupan di bawah naungan seorang suami," tambahnya.

Meskipun sekarang ini sekretaris Asosiasi Ummat Islam Malawi baru memiliki satu istri, namun ia tetap mendukung pernikahan poligami. Ia akan membukti bahwa syari'at Islam itu lebih baik daripada undang-undang yang dibuat berdasarkan hawa nafsu manusia. (Ism/Fani)