Tragedi Berdarah di Makam Mbah Priuk

ImageInnalillahi wainna ilaihi roji’un. Kalimat itulah yang tepat untuk menyampaikan berita duka yang saat ini terjadi di depan makam ulama, Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad atau yang biasa disebut masyarakat sekitar sebagai Mbah Priuk. Dilaporkan, sekitar dua warga tewas, puluhan luka-luka. Sementara dari pihak Satpol PP, sekitar dua puluhan orang luka-luka.   Bentrokan dimulai sejak sekitar pukul tujuh pagi. Ratusan Satpol PP menyerbu masuk pintu gerbang makam Habib Hasan yang kemudian dihadang ratusan warga yang sebagian besar remaja. Satpol PP dilengkapi dengan seragam lengkap berikut helem pengaman, pentungan, dan tameng. Sementara warga hanya menggunakan kayu dan batu seadanya, serta beberapa senjata tajam.
  Bentrokan antar warga dan satpol PP merupakan buntut dari sengketa lahan antara ahli waris makam dengan PT Pelindo. PT Pelindo mengklaim bahwa ahli waris telah menjual makam kepada Pelindo. Tapi, ahli waris menyangkal klaim tersebut.

Menurut kuasa hukum ahli waris, Suhendri Hasan, bentrokan semestinya tidak perlu terjadi kalau pemerintah daerah Jakarta menempuh jalan musyawarah. Menurut Suhendri, langkah Satpol PP menggeruduk warga di sekitar makam merupakan instruksi Gubernur DKI Jakarta nomor 132, soal penertiban bangunan liar di sekitar terminal peti kemas PT Pelindo.

”Persoalannya, yang akan ditertibkan itu bukan tanah milik Pelindo, tapi masih milik ahli waris makam,” ujar Suhendri Hasan seperti yang disampaikannya kepada wartawan.

Makam yang luasnya sekitar 6,5 hektar ini letaknya memang berhimpitan dengan pagar terminal peti kemas Pelindo. Dan merupakan satu-satunya bangunan yang berada di areal pelabuhan itu.

Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad merupakan ulama yang menyebarkan agama Islam di Jakarta. Beliau lahir pada tahun 1727 di daerah Ulu, Palembang, Sumatera Selatan. Beliau memperdalam ilmu Islam di Yaman dan aktif menyebarkan dakwah Islam hingga ke kawasan Jakarta.

Beliau meninggal dalam melawan tentara Belanda di kawasan Jakarta Utara. Dan dimakamkan di kawasan Pondok Dayung. Kemudian dipindahkan oleh pemerintah Belanda ke kawasan Koja, lokasi makam saat ini, karena Belanda ingin membangun pelabuhan. (erm/Fani)