Khutbah Jumat Ustadz Muhajirin Ibrahim, Lc.
Banyak orang mampu membangun amal saleh, tetapi tidak sedikit yang akhirnya merusaknya dengan tangan mereka sendiri. Inilah pesan utama yang disampaikan Ustadz Muhajirin Ibrahim, Lc. dalam khutbah Jumat bertema “Jangan Rusak Ibadahmu.”
Khutbah ini dibuka dengan peringatan tentang pentingnya ketakwaan. Menjadi seorang Muslim bukan hanya tentang banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga bagaimana menjaga agar amal tersebut tetap diterima oleh Allah hingga akhir hayat.
Sebagai pengantar, beliau mengangkat kisah seorang wanita di Makkah yang merajut benang hingga menjadi kain yang indah, namun setelah selesai justru mengurainya kembali. Perbuatan yang tampak sia-sia itu dijadikan Allah sebagai perumpamaan dalam Al-Qur’an. Jangan sampai seorang mukmin bersusah payah membangun keimanan, memperbanyak ibadah, dan menghiasi hidupnya dengan amal saleh, tetapi kemudian menghancurkannya sendiri karena maksiat, riya’, atau rusaknya niat.
Khutbah ini mengingatkan bahwa membangun amal memang berat, tetapi menjaganya jauh lebih berat. Karena itu, seorang mukmin harus memiliki fondasi ilmu dan iman agar tidak menjadi pengikut tren atau arus manusia. Standar kebaikan bukanlah apa yang sedang populer, melainkan apa yang diridhai Allah dan Rasul-Nya.
Salah satu pembahasan yang sangat menyentuh adalah tentang menyembunyikan amal saleh. Para ulama salaf begitu bersungguh-sungguh merahasiakan ibadah mereka. Dikisahkan Dawud bin Abi Hind yang selama puluhan tahun berpuasa sunnah tanpa diketahui keluarganya. Bekal makan siangnya dibagikan kepada orang lain sehingga keluarganya mengira ia telah makan seperti biasa.
Beliau juga membawakan kisah seorang hamba Allah yang doanya di tengah malam menjadi sebab turunnya hujan, namun ketika amalnya diketahui orang lain, ia justru memilih menghilang agar tidak dipuji manusia. Kisah-kisah ini menunjukkan betapa besar perhatian para ulama terhadap keikhlasan.
Khutbah ini juga mengingatkan bahwa pujian manusia dapat menjadi ujian yang sangat berat. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu ketika dipuji tidak merasa bangga, tetapi justru berdoa agar Allah tidak menghukumnya karena pujian tersebut, mengampuni kekurangan yang tidak diketahui manusia, serta menjadikannya lebih baik daripada sangkaan orang-orang.
Pelajaran berikutnya adalah tentang tawadhu’ setelah beramal. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, setelah membangun Ka’bah dan melaksanakan perintah Allah yang begitu agung, tidak merasa bangga. Beliau justru berdoa: “Ya Rabb kami, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Inilah sikap para nabi dan orang-orang saleh. Mereka lebih sibuk mengkhawatirkan diterimanya amal daripada membanggakan banyaknya amal.
Ustadz Muhajirin juga menjelaskan hadits tentang orang-orang yang setelah bersedekah, berpuasa, dan mendirikan shalat justru tetap merasa takut kalau amal mereka belum diterima oleh Allah. Rasa takut inilah yang mendorong mereka terus memperbaiki diri, bukan merasa sudah cukup dengan ibadah yang telah dilakukan.
Di bagian penutup khutbah, beliau menyampaikan nasihat agar tidak menunda amal saleh. Salah satu senjata terbesar setan adalah membuat seseorang berkata, “Nanti saja.” Padahal tidak ada jaminan seseorang masih diberi kesempatan hidup beberapa saat lagi.
Beliau menutup dengan kisah Umar bin Abdul Aziz yang diingatkan oleh putranya agar tidak menunda menyelesaikan urusan kaum muslimin hanya karena ingin beristirahat. Nasihat sederhana itu membuat sang khalifah segera bangkit, karena tidak ada yang mampu menjamin seseorang masih hidup setelah tidurnya.
Khutbah ini menjadi pengingat bahwa menjaga amal lebih sulit daripada memulainya. Keikhlasan, kerendahan hati, rasa takut amal tidak diterima, serta semangat untuk segera berbuat baik adalah benteng yang akan menjaga ibadah agar tidak rusak dan sia-sia.
Dengarkan kajian ini hingga selesai agar dapat mengambil pelajaran yang lebih utuh, disertai dalil-dalil Al-Qur’an, hadits, serta kisah para salaf yang akan menguatkan semangat kita dalam menjaga amal hingga akhir kehidupan.