Banyak orang tua merasa sudah menjalankan kewajiban ketika anaknya disekolahkan di tempat terbaik, diberi les tambahan, dan difasilitasi berbagai kebutuhan duniawi. Namun di balik semua itu, tidak sedikit yang kemudian mengeluh: anak sulit diatur, kurang hormat, jauh dari agama, dan mudah terpengaruh lingkungan.
Pertanyaannya, di mana letak masalahnya?
Islam mengajarkan bahwa persoalan pendidikan anak tidak bisa dilihat secara instan. Rasulullah ﷺ tidak membangun generasi sahabat hanya dengan ceramah dan aturan, tetapi melalui proses panjang yang dimulai jauh sebelum anak mengenal dunia.
Inilah yang ditekankan dalam buku Prophetic Parenting karya Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid:
pendidikan anak dalam Islam dimulai lebih awal dari yang disadari kebanyakan orang.
Pendidikan Bukan Sekadar Sekolah
Dalam pandangan Islam, pendidikan tidak identik dengan sekolah. Sekolah hanyalah salah satu sarana. Pendidikan sejati adalah proses membentuk iman, akhlak, dan cara pandang hidup.
Rasulullah ﷺ tidak pernah memisahkan antara pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Setiap ucapan, sikap, dan keputusan beliau adalah pelajaran. Anak-anak di sekitar beliau tumbuh dengan melihat langsung bagaimana Islam dijalankan, bukan hanya diajarkan.
Berbeda dengan pola modern yang sering kali menyerahkan pendidikan kepada institusi, Islam menempatkan keluarga sebagai pusat pendidikan utama.
Kesalahan Pola Asuh Modern
Salah satu kesalahan terbesar orang tua hari ini adalah fokus pada hasil, bukan proses. Anak dituntut cepat pintar, cepat mandiri, dan cepat berhasil, tetapi lupa dibekali pondasi iman dan adab.
Akibatnya, banyak anak yang:
- Cerdas tapi keras hati
- Berani tapi tidak beradab
- Percaya diri tapi jauh dari Allah
Islam memandang kondisi ini sebagai tanda bahwa pendidikan berjalan tanpa arah ruhiyah.
Rasulullah ﷺ justru membangun generasi dengan menata hati sebelum menuntut prestasi.
Pendidikan Dimulai dari Niat Orang Tua
Dalam Prophetic Parenting dijelaskan bahwa pendidikan anak sejatinya dimulai dari niat orang tua sendiri.
Mengapa menikah?
Untuk apa membangun rumah tangga?
Apa tujuan memiliki anak?
Jika anak hanya dipandang sebagai pelengkap kebahagiaan dunia, maka pendidikan pun akan diarahkan pada standar dunia. Namun jika anak dipandang sebagai amanah dan calon hamba Allah, maka cara mendidiknya pun akan berbeda.
Rasulullah ﷺ menanamkan kesadaran bahwa setiap anak kelak akan dimintai pertanggungjawaban, dan orang tua adalah pihak pertama yang akan ditanya.
Lingkungan Rumah adalah Sekolah Pertama
Anak belajar bahkan ketika ia belum bisa berbicara. Ia merekam:
- Cara orang tua berbicara
- Cara menyelesaikan masalah
- Cara beribadah
- Cara marah dan memaafkan
Rumah yang dipenuhi dzikir akan melahirkan ketenangan.
Rumah yang dipenuhi pertengkaran akan melahirkan kegelisahan.
Islam memahami hal ini jauh sebelum ilmu psikologi modern berkembang. Karena itu, Rasulullah ﷺ sangat menekankan pembentukan suasana iman di dalam rumah.
Anak Tidak Dibentuk dalam Sehari
Generasi sahabat tidak lahir dalam semalam. Mereka dibina dengan kesabaran, keteladanan, dan doa yang terus-menerus. Pendidikan dalam Islam adalah proyek jangka panjang, bukan target instan.
Dr. Suwaid menegaskan bahwa kegagalan pendidikan sering kali terjadi karena orang tua ingin hasil cepat, padahal perubahan karakter membutuhkan waktu dan konsistensi.
Rasulullah ﷺ mendidik dengan memahami tahapan usia, kondisi jiwa, dan kemampuan anak.
Pelajaran Penting bagi Orang Tua Hari Ini
Dari konsep dasar ini, kita belajar bahwa:
- Pendidikan anak tidak bisa dimulai terlambat
- Orang tua adalah faktor paling menentukan
- Lingkungan rumah lebih berpengaruh daripada nasihat
- Iman dan akhlak harus didahulukan dari prestasi
Inilah fondasi Prophetic Parenting: mendidik anak dengan cara yang sesuai fitrah dan wahyu.
Penutup: Kembali ke Jalan Nabi ﷺ
Jika umat Islam ingin melahirkan generasi kuat, maka tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada metode pendidikan Rasulullah ﷺ. Metode yang manusiawi, penuh kasih sayang, dan berorientasi akhirat.
Mendidik anak bukan sekadar tanggung jawab dunia, tetapi amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Sumber: Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, Prophetic Parenting: Cara Nabi Mendidik Anak