Utsman bin Affan

Hadits-hadits yang Memberitakan tentang Utsman bin Affan

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah menutupkan kainnya tatkala Utsman masuk menemuinya. Rasulullah bersabda, “Mengapa saya tidak malu kepada seorang laki-laki, yang malaikat pun malu kepadanya?”

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Abdur Rahman As-Sulami bahwa tatkala Utsman bin Affan dikepung, dia melihat kepada orang-orang yang mengepungnya seraya berkata, “Semoga Allah menyejahterakan kalian. Saya tidak mengatakan ini kecuali kepada sahabat-sahabat Rasulullah. Tidakkah kalian tahu bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Barangsiapa yang mempersiapkan persediaan perang bagi tentara yang berada dalam kesulitan (jaisy Al-‘usrah, yakni pada Perang Tabuk, pent), maka dia akan memperoleh surga.” Lalu saya mempersiapkannya. Bukankah kalian juga tahu bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menggali sumur rumat maka dia akan masuk surga?” Lalu saya menggali sumur itu!” Orang-orang yang mengepung Utsman itu membenarkan apa yang dia katakan.

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abdur Rahman bin Khabbab dia berkata: Saya menyaksikan Rasulullah memerintahkann pasukan Islam yang berada dalam keadaan sulit (jaysyul ‘usrah). Saat itu Utsman berkata, “Wahai Rasulullah saya akan menanggung seratus ekor unta lengkap dengan alas pelana dan pelananya untuk berjuang di jalan Allah.”

Kemudian Rasulullah menyeru kaum muslimin untuk berangkat dan berperang, Utsman kembali berkata, “Saya tanggung dua ratus unta lengkap dengan pelananya untuk berjuang di jalan Allah.”

Untuk yang ketiga kalinya Rasulullah juga menyerukan kaum muslimin untuk berangkat jihad di jalan Allah. Kembali Utsman berkata, “Saya tanggung tiga ratus unta dengan sarananya yang lengkap untuk jihad di jalan Allah ini.”

Rasululullah kemudian turun dan dia bersabda,

مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ مَرَّتَيْنِ.

“Tidak ada pekerjaan Utsman yang membahayakan dirinya setelah kejadian ini.”

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Anas, juga Al-Hakim-dia menyatakan keshahihan riwayat ini- dari Abdur Rahman bin Samurah dia berkata: Utsman datang menemui Rasulullah dengan membawa seribu dinar tatkala dia sedang mempersiapkan Jaysy Al-‘Usrah. Kemudian Rasulullah menyimpannya di kamarnya dan membalik-balikkan uang tersebut seraya berkata, “Setelah ini tidak ada pekerjaan Utsman yang membahayakan dirinya.” Dia mengatakan itu sebanyak dua kali.

Tentang Kekhilafahan Utsman bin Affan

Dia dilantik menjadi khalifah tiga hari setelah disemayamkannya Umar bin Khathab. Diriwayatkan bahwa orang-orang pada tiga hari itu mendatangi Abdur Rahman bin ‘Auf meminta nasehat dan pendapatnya. Saat itu tidak ada seorang pun yang mengubah pendapatnya tentang Utsman.

Tatkala Abdur Rahman duduk untuk membai’at Utsman, dia mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Allah. Dalam ucapannya saat itu dia berkata, “Sesungguhnya saya melihat manusia sama-sama menolak kecuali kepada Utsman.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Al-Miswar bin Makhramah).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abdur Rahman bin ‘Auf berkata, “Amma Ba’du. Wahai Ali, sesungguhnya saya telah melihat bagaimana sikap orang-orang. Dan saya tidak melihat bahwa mereka mengubah pendapatnya tentang Utsman. Maka janganlah engkau membuat sesuatu.”

Kemudian dia mengambil tangan Utsman dan berkata, “Sesungguhnya kami membaiatmu dengan Sunnah Allah, Sunnah Rasululah dan Sunnah kedua khalifah setelah Rasulullah.” Lalu Abdur Rahman membaiatnya dan diikuti oleh kaum Muhajirin dan Anshar.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Anas dia berkata: Beberapa saat sebelum meninggal, Umar mengirim seseorang untuk menemui Abu Thalhah Al-Anshari. Dia berkata, “Panggilah lima puluh orang dari kalangan Anshar dan diamlah kalian bersama orang-orang yang melakukan musyawarah. Sebab saya kira mereka akan berkumpul di sebuah rumah. Jangan kau biarkan seseorang masuk kepada mereka dan jangan biarkan mereka melewati tiga hari hingga di antara mereka ada yang dijadikan sebagai seorang pemimpin.

Dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan dari Abi Wail dia berkata: Saya katakan kepada Abdur Rahman bin ‘Auf: Bagaimana kau membaiat Utsman dan kau tinggalkan Ali?

Dia berkata, “Apakah saya salah dengan membaiatnya?” Saya menga-jukan urusan ini pertama kali kepada Ali dan saya katakan, “Saya akan membaiatmu dengan Kitab Allah, Sunnah Rasulullah dan atas sunnah Abu Bakar dan Umar!”

Namun dia berkata, “Semampu saya!”

Lalu saya tawarkan kepada Utsman dan dia berkata, “Ya!”

Diriwayatkan bahwa Abdur Rahman berkata kepada Utsman di sebuah tempat tertutup, “Jika saya tidak membaiatmu, maka siapa yang kau usulkan untuk menjadi khalifah?” Dia berkata, “Ali.” Dan dia berkata kepada Ali, “Jika saya tidak membaiatmu, lalu siapa yang kau usulkan untuk dibaiat?” Dia berkata, “Utsman.” Kemudian dia memanggil Zubair bin Awwam dan berkata, “Jika saya tidak membaiatmu, siapa yang kamu usulkan?” Dia menjawab, “Ali atau Utsman.” Kemudian dia memanggil Sa’ad dan berkata, “Siapa yang kau usulkan untuk menjabat khilafah? Adapun saya dan engkau sama-sama tidak menyukainya.” Dia berkata, “Utsman.”

Kemudian Abdur Rahman bin ‘Auf bermusyawarah dengan tokoh-tokoh, ternyata kebanyakan mereka menginginkan Utsman.

Kisah Menarik

Muawiyyah beberapa kali meminta kepada Umar bin Khathab untuk menyerang Cyprus dengan mengendarai kapal bersama pasukannya. Umar kemudian menulis surat kepada ‘Amr bin Al-‘Ash agar dia menggambarkan bagaimana sebenarnya kondisi lautan dan bagaimana pula orang yang akan mengarungi lautan itu. ‘Amr bin Al-‘Ash menulis balik kepada Umar, “Sesungguhnya saya melihat bahwa laut itu adalah makhluk yang besar yang akan diarungi oleh makhluk yang kecil, jika dia diam dan tenang dia akan mengguncang kalbu, dan jika dia bergerak dia akan mengerikan otak. Dia akan menjadikan otak mengecil dan kejelekan akan semakin banyak. Sedangkan mereka di dalam laut itu laksana ulat yang ada di kayu. Jika miring dia akan tenggelam dan jika selamat dia akan terbelah.”

Tatkala selesai membaca surat itu Umar mengirim surat kepada Mu’awiyah, “Demi Allah saya tidak akan membawa seorang muslim pun melakukan penyerangan tersebut!” Ibnu Jarir berkata, “Mu’awiyah menyerang Cyprus pada masa pemerintahan Utsman, kemudian penduduknya minta kepadanya untuk membayar upeti (jizyah).

Pada tahun dua puluh sembilan Hijriyyah Ishthahar, Fasa dan yang lainnya ditaklukkan lewat peperangan. Pada tahun ini juga Utsman meluaskan mesjid Nabawi. Dia membangunnya dengan batu berukir, dan tiang-tiangnya terbuat dari batu, sedangkan atapnya dari pohon jati. Dia luaskan Mesjid Nabawi itu menjadi, panjang seratus enam puluh dzira’ (hasta sekitar 18 inchi), sedangkan lebar lima puluh dzira’.

Pada tahun tiga puluh Hijriyyah kota Jur dan beberapa kota lainnya di Khurasan ditaklukkan. Naisabur dibuka dengan cara damai (ada juga yang mengatakan dengan kekuatan senjata). Sedangkan Thus dan Sarkhas, Marwu dan Baihaq ditaklukkan dengan cara damai.

Ketika kota-kota tersebut telah dibuka, maka banyaklah pajak yang disetorkan kepada Utsman bin ‘Affan dari banyak jurusan. Dia kemudian membangun satu tempat penyimpanan. Rizki kaum muslimin demikian melimpah. Dia memerintahkan kepada seseorang untuk membawa seratus badrah dan setiap badrah itu adalah empat ribu uqiyyah.

Pada tahun 31 H, Abu Sufyan bin Harb, bapak Muawiyah meninggal. Pada tahun ini pula Al-Hakam bin Abi Al-‘Ash meninggal dunia.

Di tahun tiga puluh dua, Al-Abbas, paman Rasulullah meninggal. Utsman memimpin langsung pelaksanaan shalat jenazahnya. Di tahun ini meninggal pula Abdur Rahman bin ‘Auf, salah seorang dari sepuluh sahabat yang mendapat jaminan masuk surga. Dia adalah seorang sahabat yang masuk Islam sejak awal kedatangannya. Pernah berinfak dengan jumlah nominal empat puluh ribu, dan dengan serombongan unta lengkap dengan seluruh barang yang dibawanya. Ibnu Mas’ud Al-Hudzali, salah seorang dari empat Qari’ yang terkenal juga meninggal dunia. Ibnu Mas’ud adalah orang yang pertama kali masuk Islam. Dia dikenal sebagai ulama dari kalangan sahabat yang memiliki ilmu demikian luas. Abu Darda’, sahabat Nabi yang zuhud dan bijak juga meninggal di tahun ini. Dia pernah menjabat sebagai hakim di Damaskus di saat Mua’wiyah menjabat sebagai gubernur.

Sumber: Tarikh Khulafa’, Imam Suyuti, Pustaka Al Kautsar, h. 175-180.