- la wanita beriman, hijrah, sabar, dan mengharapkan pahala Allah.
- la diberi keringanan khusus oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
- la mempunyai riwayat hadits mulia.
Termasuk As-Sabiqat (Wanita Wanita yang Masuk Islam sejak Awal)
Jika kaum laki-laki dan kaum perempuan terdepan di pohon Islam disebut, maka nama putri sahabat ini berkilau di halaman pertama nama-nama wanita yang terdepan di pohon Islam.
Jika orang-orang yang paling dahulu masuk Islam disebut, maka sahabiyat putri sahabat ini masuk dalam katagori orang-orang yang menikmati spirit dan aroma iman, di antara orang-orang yang beriman kepada Tuhan mereka, kemudian Allah menambahkan petunjuk dan keteguhan kepada mereka. Itu terjadi ketika Allah menguatkan hati mereka dan memuliakan mereka dengan agama yang lurus ini.
Sahabiyat putri sahabat ini termasuk putri-putri Quraisy terkemuka dan puncak nasab mereka. la masuk Islam ketika masih remaja. Saat itu. bersama suaminya, ia masuk dalam rantai mutiara kaum Mukminin terdepan yang bersegera kepada tauhid, sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masuk ke rumah Al-Arqam bin Abu Al-Arqam Al-Makhzumi.
Bersama suaminya, ia termasuk kaum Muslimin yang pertama kali masuk Islam. Keduanya berasal dari anak-anak rumah Quraisy dan kabilah mereka, serta pemuda-pemuda terkemuka mereka. Keduanya dikenal dengan nama, nasab, rumah, dan kabilah mereka. Keduanya bukan orang lemah, budak, orang miskin, dan orang-orang pinggiran Quraisy, seperti terlihat di perkataan dan tulisan sebagian penulis. Namun realitas orang-orang yang pertama kali masuk Islam mementahkan keyakinan dan tulisan mereka. Selain itu, hanya dengan melihat sekali nama orang-orang yang pertama kali masuk Islam, maka terlihat fakta sebenarnya dan memperjelas realitas yang ada.
Kita tahu sepenuhnya bahwa orang yang pertama kali merespon aroma Islam dan angin iman ialah ibu kita, Khadijah binti Khuwailid Radhiyallahu Anhuma, yang tidak lain istri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang mulia, cerdas, terhormat, suci, nasabnya baik, pemimpin kaumnya, tokoh kaum wanita yang masuk Islam, wanita jujur di generasi pertama wanita beriman, dan orang yang berada pertengahan rantai bermutu di wanita-wanita rumah kenabian yang suci dan disucikan.
Kita juga melihat bahwa wanita kedua yang pertama kali masuk Islam dari kalangan terhormat ialah wanita merdeka yang mulia, Ummu Al-Fadhl alias Lubabah binti Al-Harits Al-Hilaliyah, yang tidak lain adalah istri Al-Abbas bin Abdul Muththalib, paman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari jalur ayah. Ummu Al-Fadhl masuk Islam setelah ibu kita, Khadijah binti Khuwailid Radhiyallahu Anha.
Di daftar orang-orang yang pertama kali masuk Islam, kita dapati pemerdeka budak, Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu. la orang pandai, orang Quraisy yang paling tahu Quraisy, nasab, kebanggaan mereka, kaya, bantuannya diharapkan, perkataannya baik, dan orang yang menanggung beban orang lain.
Setelah itu, kita dapati Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Sa’ad bin Abu Waqqash, dan bintang-bintang cemerlang di langit tokoh. Mereka berada di puncak tinggi keluhuran, kehormatan, kekayaan, dan kedudukan.
Di antara para tokoh di atas, kita bertemu tamu wanita kita di ha-laman-halaman penuh berkah dengan Sahlah binti Suhail bin Amr Al-Qurasyiyah Al-Amiriyah, yang ditulis di list orang-orang besar dengan tulisan terindah dan itu membuatnya berada di dokumen wanita-wanita abadi di antara putri-putri sahabat yang mulia. Kita juga bertemu suami tamu wanita tersebut, Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah, yang merupakan orang mulia, orang besar, syahid, orang Quraisy, orang Absyami dan salah seorang pemuda yang masuk Islam sejak awal. Abu Hudzifah bin Utbah bin Rabi’ah masuk Islam, sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masuk ke rumah Al-Arqam bin Abu Al-Arqam. Apakah Anda pernah mendengar informasi tentang Suhailah? Apakah kisah-kisahnya yang harum telah sampai kepada Anda?
Wanita Beriman dan Wanita yang Hijrah
Sahlah binti Suhail masuk Islam sejak dulu di Makkah ketika ayah. nya musyrik. Suaminya, Abu Hudzaifah bin Utbah, juga masuk Islam pada saat ayahnya musyrik dan terus-menerus berada dalam kemusy. rikannya, hingga tewas di Perang Badar.
Adapun Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau menjadikan rumah Al-Arqam bin Abu Al-Arqam Al-Makhzumi di Gunung Shafa sebagai markas dakwah, universitas pengajaran risalah Ilahiyah, dan tempat pertemuan sahabat-sahabat yang masuk Islam sejak awal. Begitulah, rumah Al-Arqam bin Abu Al-Arqam menjadi tempat pertemuan dan mata air kemuliaan.
Pemuda-pemudi jujur Quraisy dan non-Quraisy yang beriman kepada dakwah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, membenarkan risalah beliau, berpetunjuk dengan petunjuk beliau, orang-orang mulia di kaum mereka dan di diri mereka sendiri, pun merespon beliau. Mereka banyak dan semakin banyak. Mereka datang dengan sembunyi-sembunyi ke rumah Al-Arqam bin Abu Al-Arqam bersama guru mereka, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Orang-orang Quraisy merasa bahwa pemuda-pemudi tersebut membahayakan mereka, kehidupan jahiliyah mereka, dan sumber bumi di bawah telapak kaki mereka. Penghuni setiap rumah Quraisy pun menoleh kepada diri mereka sendiri, keluarga, anak-anak, dan saudara-saudara mereka. Ternyata, mereka melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah merekrut bunga-bunga generasi muda, sumber kekuatan, dan bekal masa depan mereka. Suhail bin Amr juga menoleh, ternyata ia mendapati putrinya, Sahlah, dan anak laki-lakinya, Abu Jandu, dan menantunya, Abu Hudzaifah bin Utbah, serta rekan-rekan sebaya mereka bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ya, mereka menjadi orang-orang Muslim dan orang-orang Mukmin, yang memeluk akidah beliau dan meninggalkan tuhan-tuhan ayah-ayah dan nenek moyang mereka. Bahkan. orang-orang Muslim tersebut membodoh-bodohkan mimpi-mimpi dan akal orang-orang Quraisy. Suhail dan orang-orang terkemuka kaum musyrikin heran; bagaimana orang-orang kebanggaan mereka bisa menjadi tentara dakwah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, batalion risalah beliau. masuk bersama beliau di kehidupan sengsara setelah sebelumnya hidup mewah dan enak di rumah dan keluarga mereka, serta meninggalkan harta dan anak? Bahkan, terkadang mereka meninggalkan saudara, ayah, ibu, dan istri? Sebagai gantinya, mereka berpihak kepada Muhammad Shallallahu Alaihi wa sallam dan sahabat-sahabat beliau? Ya, beliau adalah ayah mereka, sedang para sahabat beliau adalah saudara-saudara mereka. Mereka mendengar apa saja yang beliau sabdakan, mengatakan sabda beliau, lebih mencintai beliau dari mereka sendiri, dan memberikan apa saja yang bisa mereka beri untuk mencari keridhaan beliau. Ini karena mereka (orang-orang beriman) melihat cahaya, mengetahuinya, dan menyentuhnya. Karena itu, bagaimana mereka harus berpaling dari beliau?
Ketika Suhail bin Amr melihat fakta tersebut dan pemuka-pemuka Quraisy melihat anak-anak mereka menjadi orang-orang beriman, maka akal mereka terbang berserakan dari otak mereka, hati mereka berputar di tengah-tengah persendian mereka, dan menghela nafas panjang dalam keadaan sedih. Setelah itu, mereka mengendarai kepala syetan dengan jahat, atau bahkan syetan mengendarai kepala mereka dan menyuruh mereka membunuh siapa saja dari “orang-orang kebanggaan mereka”. yang mengikuti Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan bisa mereka tangkap. Ketika itu, hilanglah kasih sayang seorang ayah dan cinta anak di bawah telapak kaki tuhan-tuhan “berhala”, sebab siapa tahu tuhan-tuhan tersebut meridhai mereka.
Berbagai ujian pun menimpa Sahlah binti Suhail, suaminya yaitu Abu Hudzaifah, dan kaum Mukminin. Namun, mereka semua bersabar sembari mengharapkan pahala di sisi Allah Ta’ala. Allah Ta’ala tidak mengizinkan mereka membalas kekejaman tersebut, karena mereka pemilik hidayah dan risalah. Mereka tidak akan mampu menyampaikan risalah Tuhan mereka, jika mereka membalas dan berperang, padahal agama mereka ketika itu masih berupa dahan muda. Karena itu, hendaklah mereka berjuang, meningkatkan kesabaran, memaafkan, dan tidak menggubris kekerasan ayah, ibu, dan saudara mereka, hingga Allah Ta’ala memutuskan sesuatu yang akan Dia wujudkan dan memberikan jalan keluar.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam merasakan beratnya penyiksaan dan badai ujian, yang dialami para sahabat beliau. Di sini, kilat solusi bersinar dari ufuk ghaib, Bentuknya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengisyaratkan kepada para sahabat untuk hijrah ke negeri Habasyah. Itulah hijrah pertama dalam Islam Ibnu Hazm Rahimahullah berkata, “Ketika kaum Muslimin telah banyak dan penyiksaan terhadap mereka semakin meningkat, Allah Ta’ala mengizinkan mereka hijrah ke Habasyah.”
Orang-orang dari kaum Muslimin yang pertama kali keluar lari dengan membawa agama ke negeri Habasyah ialah Utsman bin Affan bersama istrinya yaitu Ruqaiyah binti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah bin Abdu Syams yang membuat marah ayahnya bersama istrinya yaitu Sahlah binti Suhail bin Amr bin Abdu Syams. Sahlah binti Suhail wanita Muslimah dan membuat marah ayahnya. la lari bersama agamanya kepada Allah Ta’ala. Di Habasyah, Sahlah bin Suhail melahirkan Muhammad bin Abu Hudzaifah.
Ibnu Ishaq menyebutkan secara panjang dan lengkap nama-nama dan nasab-nasab seluruh sahabat yang hijrah ke Habasyah; hijrah pertama dan kedua. Jumlah mereka tanpa anak-anak mereka yang keluar bersama mereka ketika masih kecil atau lahir di Habasyah ialah 83 orang laki-laki dan sebagian besar dari mereka ialah orang-orang Quraisy dan orang-orang terpandang di kalangan mereka.
Begitulah, Sahlah binti Suhail termasuk wanita pertama yang hijrah ke Habasyah. Karena itu, para ulama berkata, “Sahlah binti Suhail hijrah ke Habasyah; hijrah pertama dan kedua, bersama suaminya, Abu Hudzaifah bin Utbah. Di sana, ia melahirkan Muhammad bin Abu Hudzaifah.”
Sahlah binti Suhail dan Kepulangan ke Madinah
Ketika kaum Muslimin tiba di Habasyah, di sana mereka bertetang-gaan dengan tetangga yang baik, An-Najasyi, yang memberi keamanan kepada mereka dalam menjalankan agama mereka. Kaum Muslimin dapat beribadah kepada Allah Azza wa Jalla tanpa disiksa dan tidak mendengar perkataan yang mereka benci.
Sahlah binti Suhail menetap beberapa lama di Habasyah dalam keadaan aman dalam menjalankan agamanya dan berbahagia dengan anaknya, Muhammad, yang meringankan keterasingannya. Hanya saja, lekuk-lekuk persendiannya berdebar-debar rindu kepada Ka’bah, Shafa, Al-Hajun, dan Makkah tempat ia besar di atas tanahnya dan mendapatkan petunjuk dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ya, Sahlah binti Suhail ingin pulang ke negeri tersebut untuk membasahi kerinduannya dan mencelaki kedua matanya dengan melihat Makkah. Ia mencari kabar apa saja tentang Makkah, penduduknya, bahkan tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang telah mengeluarkan dirinya, suaminya, dan kaum Mukminin, dari kegelapan kepada cahaya dan dari kebutaan hati nurani kepada cahaya hakikat.
Waktu terus berjalan, sedang kerinduan Sahlah binti Suhail untuk pulang ke Makkah semakin menggebu-gebu. Setelah itu, ia dan kaum Muhajirin di Habasyah mendengar kabar bahwa orang-orang Quraisy masuk Islam, padahal setelah itu terbukti ternyata kabar tersebut hanya isapan jempol belaka. Kerinduan kaum Muhajirin pun bergerak menuju Makkah dan Ka’bah. Karena itu, sejumlah orang dari mereka, di antaranya Utsman bin Affan beserta istri yaitu Ruqaiyah binti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah beserta istri yaitu Sahlah binti Suhail, Abu Salamah beserta istri yaitu Ummu Salamah, dan lain-lain, pulang dan tiba di Makkah.
Ketika mereka tiba di Makkah, mereka mendapati ternyata kabar tersebut bohong dan batil serta melihat temyata penyiksaan terhadap kaum Muslimin di Makkah semakin menjadi-jadi. Tak satu pun dari kaum Muhajirin dari Habasyah tersebut masuk Makkah, kecuali dengan perlindungan pihak lain atau sembunyi-sembunyi. Sahlah bin Suhail, wanita-wanita”, dan kaum laki-laki kaum Muslimin tetap bersabar atas penyiksaan yang mereka alami, hingga mereka hijrah ke Madinah dengan meninggalkan ibu dan ayah mereka.
Dari Makkah ke Madinah
Tadi kita sudah melihat sisi lain kesabaran Sahlah binti Suhail dan kaum Mukminin, hijrah mereka ke Habasyah, kepulangan mereka dari Habasyah, dan orang-orang Quraisy kembali menyiksa siapa saja dari kaum Mukminin yang bisa mereka siksa dengan mengenyampingkan kekeluargaan dan hubungan kekerabatan.
Namun, setiap permulaan mempunyai tanda akhir, setiap kedhaliman adalah kekalahan dan kehinaan, malam harus muncul, belenggu harus terlepas, dan harus ada jalan keluar dari ujian.
“Semoga musibah yang aku rasakan di petang hari Menyimpan jalan keluar dekat.”
Inilah benih-benih jalan keluar mulai menjulurkan bunga-bunganya dan cahaya mulai terlihat dari arah Madinah, setelah Islam berkembang luas di perkampungannya karena jerih payah murid jenius, Mush’ab bin Umair Radhiyallahu Anhu. Penyebaran cepat Islam di Madinah menya-kitkan orang-orang musyrikin dan mengganggu tidur mereka. Karena itu, mereka menyiksa kaum Muslimin dan mempersempit jalan dan kehidupan bagi mereka.
Para sahabat mengadu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam atas penyiksaan yang mereka dari kaum musyrikin dan para penjahat terbesar mereka. Namun, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruh mereka bersabar, meneguhkan mereka, dan menjanjikan jalan keluar dari musibah besar ini bagi mereka.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bermimpi bahwa beliau hijrah ke Madinah. Di Shahih Al-Bukhari disebutkan hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
“Aku pernah diberi mimpi tentang negeri hijrah kalian, yang mempunyai pohon kurma dan terletak di antara daerah berbatu hitam.”(Shahih Al-Bukhari). Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar dengan hati senang kepada para sahabat dan orang-orang yang beliau cintai sambil bersabda, “Aku telah diberi mimpi negeri hijrah kalian, yaitu Yatsrib. Karena itu, barangsiapa ingin berangkat (ke sana), silahkan ia berangkat ke sana.”
Beliau juga bersabda,
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah memberi kalian saudara-saudara dan negeri yang kalian mendapatkan keamanan di dalamnya.” Izin Allah Ta’ala untuk hijrah ke Madinah Munawwarah sinkron dengan keinginan di jiwa para sahabat. Karena itu, mereka segera berangkat ke Madinah secara berkelompok atau sendiri-sendiri. Sahlah berkat ditemani suaminya, Abu Hudzaifah, dan keduanya anaknya, juga berangkat ke Madinah, karena berhijrah di jalan Allah Azza wa Jalla dengan meninggalkan rumah-rumahnya, di mana angin bertiup melambai-lambai di seluruh sisinya, laba-laba dan belalang bermain-main di pintu-pintunya.
Sahlah binti Suhail berangkat dengan meninggalkan kemarahan ayahnya yang menutupi dan nyaris mencekik ayahnya. Abu Hudzaifah juga meninggalkan ayahnya yang juga nyaris marah karena hijrah ini dan kehilangan anak beserta istrinya. Utbah bin Rabi’ah termasuk tempat sandaran syirik, pilar paganisme, bahkan salah satu gembong para penjahat (orang-orang berdosa) yang mengangkat panji penentangan terhadap dakwah Islam dan cahaya Islam. Anehnya, kendati cerdas, Utbah bin Rabi’ah tidak pernah menduga kalau anaknya, Abu Hudzaifah, akan hijrah beserta istri, Sahlah binti Suhail. Tapi, Allah Mahakuasa atas urusan-Nya, kendati orang-orang musyrikin tidak menyukainya.
Juga aneh bahwa para Muhajirin adalah para pemuka kaumnya masing-masing, pemuda-pemuda, dan pemudi-pemudi mereka. Para Muhajirin meninggalkan putri dan suaminya. Mereka meninggalkan apa saja di belakang mereka. Berbagai buku-buku referensi dan buku-buku sirah menyebutkan bahwa rumah-rumah kaum Muhajirin di Makkah mua sisinya. Para suatu hari, Utbah bin Rabi’ah, Al-Abbas bin Abdul dikunci, tidak ada seorang pun di dalamnya, dan angin berhembus di semua sisinya. Pada suatu hari, Utbah bin Rabi’ah, Al-Abbas bin Abdul Muththalib, dan Abu Jahal, berjalan ke Makkah Atas. Utbah bin Rabi’ah melihat-lihat, kemudian melihat ternyata rumah-rumah kaum Muhajirin lengang tak berpenghuni, tanpa ada pergerakan di dalamnya. Ketika melihat pemandangan seperti itu, Utbah bin Rabi’ah menghela nafas panjang.
kemudian melantunkan syair Abu Daud Al-Iyadi,
“Semua rumah, kendati selamat dalam jangka waktu yang lama Namun, pada suatu hari akan tertimpa musibah dan duka
Semua orang tergadaikan untuk bertemu kematian
Sepertinya tujuan kematian telah dipasang.”
Setelah itu, Utbah bin Rabi’ah berkata kepada Abu Jahal, “Rumah-rumah ini menjadi kosong, tak berpenghuni.”
Abu Jahal berkata dengan sombong, “Rumah tersebut tidak menangisi orang yang tidak punya anak.”
Usai berkata seperti itu, Abu Jahal berkata menantang kepada Al-Abbas bin Abdul Muththalib, “Ini semua karena ulah keponakanmu. la memisahkan kelompok kita, memecah-belah persatuan kita, dan memutuskan hubungan di antara kita.”
Al-Abbas bin Abdul Muththalib sedikit pun tidak menanggapi perkataan Abu Jahal tersebut.
Sumber: Putri-Putri Sahabat Rasulullah, Ahmad Khalil Jam’ah, Darul Falah, h. 178-186.