Aqwalul Ulama’

KEADAAN HATI SEORANG HAMBA PADA AKHIR MALAM

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :

“Pada akhir malam itu, (biasanya) dalam hati seseorang ada semangat untuk menghadap, dan mendekatkan diri kepada Allah تعالى, serta kelembutan yang tidak didapatkan pada waktu yang lain.”

(Lihat Majmu Fatawa (5/130))

 

TIDAK TERGESA-GESA WASIAT DIANTARA AHLUS SUNNAH

Syaikhuna Al ‘Allamah ‘Ubaid Al Jabiri hafizhahullah berkata :

Ahlus sunnah dan Ahlus salaf

“Tidaklah mereka tergesa-gesa, dan tidaklah kecerobohan dan sikap melampaui batas menguasai mereka. Sebagian dari mereka mewasiatkan kesabaran kepada sebagian lainnya.

Telah menimpa mereka berbagai macam gangguan, dan (akan tetapi) bersama dengan hal ini, mereka tetap bersabar, dan (berusaha) menguatkan kesabaran, serta saling mewasiatkan kesabaran.”

(Ithaful ‘Uqul hal. 27)

 

MENYERUPAI ADAM -alaihissalam- ATAU IBLIS

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

“Barangsiapa yang bertaubat maka dia menyerupai bapaknya yaitu Nabi Adam alaihissalam.

Dan barangsiapa yang terus menerus berbuat dosa dan beralasan karena takdir (dia melakukan dosa) maka dia menyerupai iblis.”

(Majmu’ al-Fatawa 8/107-108)

 

MANFAAT – MANFAAT JIMA’

Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berkata :

“Sesungguhnya jima’ ditetapkan keberadaannya untuk (mencapai) 3 hal, dan itu merupakan tujuan dasar :

▪Pertama, (untuk) menjaga keturunan dan kelanggengan jenis (manusia) hingga tercapai dengan sempurna bilangan (banyaknya manusia) yang Allah telah tetapkan munculnya (jumlah bilangan tersebut) di alam (dunia) ini.

▪Ke-dua, (untuk) mengeluarkan air (mani/sperma), yang penyimpanan dan pembendungannya akan membahayakan badan secara umum.

▪Ke-tiga, (untuk) menunaikan hajat, dan mencapai kelezatan serta bersenang-senang dengan kenikmatan.”

(Al Hadyu An Nabawi 3/149)

 

TERMASUK NIKMAT TERBESAR

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

– Benarnya pemahaman dan
– baiknya niat/tujuan
termasuk nikmat terbesar yang Allah limpahkan kepada hamba-Nya.

Bahkan tidaklah seorang hamba memperoleh pemberian yang lebih utama dan lebih besar setelah (nikmat) Islam daripada (memperoleh) kedua nikmat tersebut.”

(I’laamul Muwaqqi’in 1/87)