Antara Bisikan Setan Dan Ta’awudz

Dalam bahasa Arab bisikan berasal dari kata “waswasa” yang maknanya berkisar dalam tiga hal yakni: suara yang lembut, bisikan diri, dan bisikan setan. Dalam kamus Lisanul ‘Arab karangan Ibnu Manzhur disebutkan bahwa “Al-waswasa” adalah suara angin yang lembut, suara yang melenakan.

Dalam Al-qur’an Allah berfirman

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ

“Dan sesungguhnya Kami telah ciptakan manusia dan mengetahui apa yang di bicarakan oleh dirinya (hatinya).” (QS. Qaf: 16)

Makna kata al-waswasa dalam ayat diatas adalah setan dan segala yang berbicara dan berbisik kepada kita.

Dalam hal ini setan pun terkadang memegang kendali gangguan tersebut secara langsung, untuk merusak shalat seseorang dengan bisikan-bisikannya. Sampai-sampai sahabat yang bernama Utsman bin Al-Ash mengadu kepada Rasulullah “Wahai Rasulullah sesungguhnya setan telah menghalangi diriku dari mencapai kekhusyukan shalat dengan menggoda dan menjadikanku ragu.

Rasulullah seraya bersabda:

“Itu adalah setan yang namanya Khanzab, jika engkau merasakan kehadirannya maka berlindung lah kepada Allah darinya dan meludahlah disisi kirimu tiga kali.” Dan saya pun melakkan hal itu sehingga Allah menghilangkan bisikan tersebut dariku. (HR. Muslim dan Ahmad)

Misi setan adalah membelokkan dan menghalangi kita dari shalat dan bacaannya, hal ini sesuai firman Allah:

 إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah; 91)

Membaca Al-qur’an adalah dzikir yang paling utama. Oleh sebab itu antara Al-qur’an dan setan terdapat jurang pemisah yang sangat lebar lagi dalam. Allah pun memerintahan kita untuk beristi’adzah (memohon perlindungan) dari setan sebelum membaca Al-qur’an, yaitu firmannya:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)

Adapun makna isti’adzah adalah berlindun, berpengangan, menghadap, dan membentengi diri kepada Allah dari setan yang terkutuk dan dari segala bisikannya.

Isti’adzah juga disunnahkan di dalam shalat. hal ini termaktub dalam kitab Musnad Imam Ahmad dan Sunan At-tirmidzi dari hadits Abu Sa’id Al-Khudriy ia berkata, “Jika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berdiri untuk shalat setelah membaca do’a istiftah beliau berdo’a:

أَعُوذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَليْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَ نَخْفِهِ وَنَفْثِهِ

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Mengetahui dari setan yang terkutuk, dari godaannya, hembusan, dan syair-syairnya.”

 

 

Sumber: Jaddi Shalataka Ashlu Ad-Daai Al-waswasah oleh Syaikh Mu’min Al-Hadad