Gembong Syiah Jalaluddin Rahmat Menyusup ke PDIP

Jalal Syiah

Jakarta (voa-islam.com) Sebuah langkah strategis dijalankan oleh Jalaluddin Rahmat dengan masuk ke PDIP, dan menjadi bakal calon legislatif (DPR) di daerah pemilihan Jawa Barat II.

Jalal sangat cerdik membaca situasi politik. Di mana belakangan ini suara-suara Muslim di Indonesia, semakin kuat menolak kelompok Syiah.

Preseden yang terjadi di Sampang membuat kalangan Syiah menjadi sangat mafhum, dan harus melakukan tindakan penyelamatan. Di mana di Sampang terjadi “bumi hangus” terhadap kelompok Syiah, dan rakyat di daerah Sampang menolak keberadaan mereka.

Cara itu dilakukan dengan masuk atau menyusup ke partai politik.
Jalaluddin masuk ke PDIP dan menjadi calon legislatif, sebagai langkah strategis dengan tujuan ingin menyelamatkan komunitas Syiah di Indonesia. Dengan masuknya jalanke PDIP itu, maka komunitas Syiah akan memiliki payung politik, dan akan melindungi komunitas Syiah di Indonesia.

PDIP partai warisan dan kelanjutan dari Soekarno sekarang ini dipimpin Megawati. Sampai sekarang PDIP tetap memiliki pengaruh politik yang kuat terutama dikalangan grass root (rakyat bawah), dan masih sangat solid. Sehingga, sangat layak bila Jalaluddin Rahmat mencari perlindungan politik kepada PDIP.

PDIP yang berideologi nasionalisme, tidak pernah secara utuh memberikan tempat kepada aliran agama. Meskipun, selama ini PDIP menjadi kuda tunggangan kalangan Kristen dan Katolik, yang menunggangi PDIIP bagi kepentingan politik mereka, dan mencapai tujuan politik mereka.

Sekarang kalangan Syiah sudah berpikir mencari pelindung dan payung politik yang dapat menjadi pelindung eksistensi kaum Syiah di Indonesia. Dengan jalan masuk ke PDIP. Ini tidak main-main. Sungguh sangat mengkawatirkan.

Masuknya Jalaluddin Rahmat ke dalam PDIP, bukan hanya menciptakan sebuah anomali politik, tetapi dapat membenturkan unsur-unsur dalam masyarakat Indonesia, dan mendorong terjadinya kekacauan politik yang lebih luas.

Di mana PDIP dimasuki unsur-unsur Syiah menjadi lawan dari mainstream di Indonesia yang mayoritas Muslim Sunni.

Di Timur Tengah terjadi kekacauan yang sangat luas antara Syiah dan Sunni, dari Lebanon, Irak, Iran, dan Negara-negara Teluk, Suriah sampai ke Yaman, dan sekarang menuju kepada perang total.

Memang, langkah Jalal masuk ke PDIP ini, sungguh sangat luar biasa, dan anehnya justeru elite PDIP, kemudian dapat menerima Jalaluddin Rahmat masuk ke dalam kandang banteng, dan pasti akan menimbulkan resiko politik yang tidak kecil di masa depan.

Tokoh-tokoh Syiah menyusup ke mana-mana, termasuk masuk Partai Demokrat, seperti Agus Abubakar, termasuk di berbagai media dan pemerintahan.

Nampaknya, kalangan Syiah di Indonesia sudah menyusun kerangka strategis menjelang perubahan politik besar di Indonesia tahun 2014 mendatang dengan masuk ke dalam satu kekuatan politik yang penting seperti PDIP.

Dengan begitu kalangan Syiah di Indonesia yang dipimpin Jalaluddin Rahmat akan memiliki leverage (daya tawar) yang tinggi menghadapi situasi yang sangat kritis. Wallahu’alam.