MIUMI Nasihati Ketua DPR Marzuki Ali Agar Waspada dengan Bahaya Syiah

JAKARTA (voa-islam.com) – Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menyatakan keprihatinan atas berbagai masalah yang mendera bangsa ini. Kasus korupsi yang melibatkan partai politik (parpol) akhir-akhir ini, telah meruntuhkan wibawa DPR yang seharusnya memberi contoh teladan.

Keprihatinan itu disampaikan pengurus MIUMI kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Dr. Marzuki Ali, Senin (4/2) sore di Gedung DPR. Dalam silaturahim itu MIUMI ingin mendengar klarifikasi langsung dari ketua DPR RI. Sekjen MIUMI Ustadz Bachtiar Nasir didampingi oleh Ust Fahmi Salim (wasekjen), Ust Fadzlan Garamatan, Ust Muhammad Zaitun Rasmin, MA, Ust Jeje Zaenuddin, MA, dan pengurus MIUMI lainnya.

Para ulama muda ini menyampaikan aspirasinya kepada DPR dan pemerintah agar mematuhi dan mengindahkan fatwa ulama yang memiliki otoritas dalam menentukan kesesatan suatu aliran dalam agama Islam, dan fatwa-fatwa MUI lainnya untuk kemasalahatan bangsa.

Di samping itu, Majelis yang merupakan perkumpulan para ulama dan intelektual muda ini juga mengajak pemerintah dan partai politik untuk bersinergi dengan lembaga dan ormas Islam dalam menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa. “MIUMI berharap pemerintah dan ormas Islam dapat bersinergi bersama menyelesaikan persoalan bangsa dengan mendorong lahirnya calon pemimpin bangsa yang saleh, amanah dan berintegritas untuk kebaikan bangsa”, tegas Bachtiar Nasir, Sekjen MIUMI.

Jangan Mau Dibohongi Syiah

MIUMI juga menjelaskan Ketua DPR ihwal bahaya Syiah. Hal itu disampaikan, mengingat ada tokoh Demokrat yang berpaham Syiah. MIUMI meminta agar Marzuki Ali jangan percaya dengan taqiyyah orang Syiah di Demokrat. “Syiah itu bisa menjadi boomerang bagi NKRI. Bisa-bisa NKRI menjadi Pakistan,” kata Ust Muhammad Zaitun Rasmin.

Marzuki Ali mengatakan, “Saya ini orang NU. Saya juga terus belajar Islam. Soal Ahmadiyah sudah clear, MUI sudah menyatakan sesat. Saya masuk partai politik niatnya adalah untuk meluruskan yang tidak lurus,” ujarnya.

Persoalan lain yang menjadi keprihatinan Majelis yang diketuai Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil, PhD. ini adalah masalah narkoba. Terkait narkoba, MIUMI menghimbau kepada penegak hukum, khususnya Badan Narkotika Nasional (BNN) agar menyelesaikan narkoba secara serius. MIUMI meminta supaya penanganan kasus narkoba tidak hanya menangkap dan mengadili para pemakai, lalu melupakan para pemasok dan bandarnya. Jangan hanya mengatasi persoalan di hilir, lalu melupakan persolan di hulu.

Selain itu, MIUMI juga menyinggung soal kasus pelanggaran HAM dalam pemberantasan terorisme di Indonesia. MIUMI berharap supaya pengadilan terhadap terduga teroris dapat dilakukan secara terang, adil, dan transparan serta siap untuk dievaluasi oleh masyarakat umum.

Perkenalkan MIUMI

Dalam kesempatan itu, MIUMI memperkenalkan organisasi yang baru berusia satu tahun. Sejak beberapa tahun terakhir ini, ratusan doktor ahli keislaman telah lulus dari perguruan tinggi Islam, dalam dan luar negeri. Potensi baru umat ini belum tertampung di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Oleh sebab itulah MIUMI didirikan untuk bersinergi dan memperkuat peran MUI dengan tekad berjuang mengembalikan otoritas ilmu dan ulama dalam menyelesaikan problem bangsa.

MIUMI dideklarasikan di Jakarta, 28 Februari 2012 atas inisiatif dari tokoh umat lintas ormas Islam, diantaranya Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Bachtiar Nasir, Lc, Dr. Adian Husaini, Fahmi Salim, MA, Dr. Ahmad Zein An-Najah, Dr. Muchlis Hanafi, Asep Sobari, Lc, Farid Ahmad Okbah,MA, Fadzlan Garamatan. MA, Muhammad Zaitun Rasmin, MA, Idrus Romli, Jeje Zaenuddin, MA, Muhammad Khudori, Lc., Adnin Armas. MA, Henri Shalahuddin.

Saat ini MIUMI telah memiliki perwakilan di 9 daerah yaitu Aceh (Yusran Hadi), Sumatera Utara (Qasim Nurseha), Sumatera Barat (Buya Gusrizal), Riau (Mustafa Umar), Sulawesi Selatan (Rahmat Abdul Rahman), Jawa Tengah (Mu’inuddinillah Basri), JawaTimur (Kholili Hasib), Yogyakarta (Fathurrahman Kamal), dan Jawa Barat (Ahmad Husain Dahlan).

Dalam kancah nasional, MIUMI dikenal kepeloporannya dalam penolakan Draft RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) dan dukungan terhadap Fatwa MUI Jawa Timur tentang kesesatan aliran Syi’ah. Beberapa hasil penelitian dan kajian MIUMI telah dipublikasikan.