Asbabun Nuzul Surah Faathir

Ayat 8, yaitu firman Allah ta’ala,

“Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Faathir: 8)

Sebab Turunnya Ayat

Juwaibir meriwayatkan dari adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas yang berkata, “Ayat ini diturunkan sebagai respons terhadap doa Nabi saw., yaitu, ‘Ya Allah, kuatkanlah agama-Mu ini dengan salah satu dari dua orang, yaitu Umar ibnul-Khaththab atau Abu Jahal bin Hisyam.” Ternyata, Allah memberi hidayah kepada Umar dan menyesatkan Abu Jahal. Ayat ini turun berkenaan dengan kedua orang itu.”

Ayat 29, yaitu firman Allah ta’ala,

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,” (Faathir: 29)

Sebab Turunnya Ayat

Abdul Ghina bin Sa’id ats-Tsaqafi meriwayatkan dalam kitab tafsirnya dari Ibnu Abbas bahwa telah diturunkan sebuah ayat berkenaan dengan Hashin bin Haris bin Abdul Muththalib bin Abdul Manaf, yaitu, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,”

Ayat 35, yaitu firman Allah ta’ala,

“Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; didalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”.(Faathir: 35)

Sebab Turunnya Ayat

Imam al-Baihaqi dalam kitab al-Ba’ats dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Nafi’ bin Harits dari Abdullah bin Abi Aufa yang berkata, “Seorang laki-laki pernah berkata kepada Nabi saw., ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya tidur adalah suatu aktivitas yang dijadikan Alllah untuk menyegarkan kembali badan kita ketika di dunia. Oleh karena itu, apakah di surga kelak juga ada tidur?’ Rasulullah menjawab, ‘Tidak. Sesungguhnya tidur itu adalah saudaranya mati, sementara di surga tidak ada kematian.’ Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Jika demikian, bagaimana cara para penghuni surga beristirahat?’ Pertanyaan tersebut mengherankan Rasulullah. Beliau lalu berkata, ‘Di dalamnya tidak ada kepenatan. Seluruh aktivitas mereka mendatangkan kenyamanan.” Setelah itu, turunlah ayat, ‘…di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu.'”

Ayat 42, yaitu firman Allah ta’ala,

“Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran),” (Faathir: 42)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abi Hilal, dia berkata, “Telah disampaikan kepada saya bahwa orang-orang Quraisy dulunya berkata, ‘Sekiranya Allah mengutus seorang nabi dari golongan kami, niscaya kami akan menjadi kaum yang paling taat kepada Tuhan, paling mendengar kata-kata nabinya, serta paling teguh berpegang pada kitab sucinya.’ Allah lantas menurunkan ayat,

“Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata: “Kalau sekiranya di sksi kami ada sebuah kitab dari (kitab-kitab yang diturunkan) kepada orang-orang dahulu, benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa)”. (ash-Shaaffaat: 167-169)

Atau agar kamu (tidak) mengatakan: “Sesungguhnya jikalau kitab ini diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk dari mereka.” (al-An’aam: 157)

“Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran),” (Faathir: 42)

Sebelumnya, orang-orang Yahudi juga mengharapkan akan mendapat kemenangan atas orang-orang Nasrani dengannya (kedatangan seorang nabi). Mereka antara lain berkata, ‘Kami mengetahui bahwa akan segera ada nabi yang diutus.'”

Sumber: Diadaptasi dari Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, atau Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie (Gema Insani), hlm. 470 – 473.