Surah ad-Dukhaan

Ayat 10, yaitu firman Allah ta’ala,

“Maka tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas.” (ad-Dukhaan: 10)

Sebab Turunnya Ayat

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang berkata, “Pada saat keingkaran orang-orang Quraisy kepada Rasulullah telah memuncak beliau lalu berdoa kepada Allah agar menimpakan kepada mereka musim kemarau yang lama seperti yang pernah terjadi pada masa Nabi Yusuf. Akibatnya, mereka (orang-orang Quraisy) ditimpa musim kemarau yang hebat, sampai-sampai mereka terpaksa memakan tulang. Seorang laki-laki yang mencoba memandang ke langit, karena saking kepayahannya, maka ia melihat seakan-akan antara dirinya dan langit itu ada semacam benda yang mirip awan. Allah lantas menurunkan ayat,

“Maka tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas.” (ad-Dukhaan: 10)

Laki-laki itu lantas menghadap kepada Rasulullah dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, mohonlah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada masyarakat Mudhar karena sesungguhnya mereka telah di ambang kebinasaan.’ Rasulullah lalu memohon kepada Allah sehingga hujan pun turun. Setelah itu, turunlah ayat ini.”

Ayat 15-16, yaitu firman Allah ta’ala,

“Sungguh, (kalau) Kami melenyapkan azab itu sedikit saja, tentu kamu akan kembali (ingkar). (Ingatlah) pada hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan keras. Kami pasti memberi balasan.” (ad-Dukhaan: 15-16)

Sebab Turunnya Ayat

Sebelumnya, Allah menurunkan ayat, “Sungguh, (kalau) Kami melenyapkan azab itu sedikit saja, tentu kamu akan kembali (ingkar).” (ad-Dukhaan: 15)

Ketika mereka (orang-orang Quraisy tersebut) telah kembali hidup sejahtera dan makmur, mereka pun kembali kepada kondisi semula (membangkang pada Rasulullah). Allah lantas menurunkan ayat,

“(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan keras. Kami pasti memberi balasan.” (ad-Dukhaan: 16)

Maksudnya adalah pada Perang Badar.

Ayat 43-44, yaitu firman Allah ta’ala,

“Sungguh pohon zaqqum itu, makanan bagi orang yang banyak dosa.” (ad-Dukhaan: 43-44)

Sebab Turunnya Ayat

Sa’id bin Manshur meriwayatkan dari Abu Malik yang berkata, “Suatu hari, Abu Jahal datang sambil membawa kurma dan keju di tangannya. Ia lalu berkata kepada orang-orang yang hadir di tempat itu, ‘Inilah zaqqum yang diancamkan Muhammad itu. Makanlah!’ Tidak lama berselang, turunlah ayat, ‘Sungguh pohon zaqqum itu makanan bagi orang yang banyak dosa.'” (484)

Ayat 49, yaitu firman Allah ta’ala,

“Rasakanlah, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang paling perkasa lagi mulia.(ad-Dukhaan: 49)

Sebab Turunnya Ayat

Al-Umawi dalam kitab al-Maghaazi meriwayatkan dari Ikrimah yang berkata, “Suatu hari, Rasulullah berpapasan dengan Abu Jahal. Rasulullah lalu berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk mengatakan kepadamu,

‘Celakalah kamu! Maka celakalah! Sekali lagi, celakalah kamu (manusia)! Maka celakalah!'” (al-Qiyaamah: 34-35)

Ikrimah berkata, “Abu Jahal lantas melepaskan jubah yang dipakainya seraya berkata, ‘Engkau dan temanmu sekali-kali tidak akan dapat mencelakakan saya. Engkau pasti tahu bahwa saya adalah orang yang paling kuat di lembah (Mekah) ini. Saya adalah orang yang paling mulia lagi terhormat di sini!”‘ Allah lantas membinasakannya pada Perang Badar serta menghinakan dan merendahkannya dengan firman-Nya. Tentang Abu Jahal inilah turun ayat, ‘”Rasakanlah, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang paling perkasa lagi mulia.”

484. Lihat juga penafsiran surah al-Israa’: 60 dan surah ash-Shaaffaat: 64.

Sumber: Diadaptasi dari Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, atau Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie (Gema Insani), hlm. 501 – 503.