Surah al-‘Alaq

Ayat 6, yaitu firman Allah ta’ala,

“Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas.” (al-‘Alaq: 6)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnul Mundzir meriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata, “Abu Jahal berkata, ‘Apakah kalian masih melihat Muhammad mencecahkan wajahnya ke tanah (melakukan shalat) di hadapan kalian?’ Salah seorang lalu menjawab, ‘Ya.’ Abu Jahal berkata, ‘Demi al-Latta dan al-Uzza, sekiranya saya melihatnya melakukan hal itu niscaya akan saya injak kepalanya dan saya benamkan wajahnya ke tanah.’ Allah lalu menurunkan ayat, ‘Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas.'”

Ayat 9-10, yaitu firman Allah ta’ala,

“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika dia melaksanakan shalat.” (al-‘Alaq: 9-10)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berkata, “Suatu hari, ketika Rasulullah bermaksud melaksanakan shalat, tiba-tiba Abu Jahal datang. Ia lalu melarang beliau melakukannya. Allah lalu menurunkan ayat, ‘Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika dia melaksanakan shalat.’ hingga ayat 16,” (Yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka.'”

Ayat 17-18, yaitu firman Allah ta’ala,

“Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah (penyiksa orang-orang yang berdosa).” (al-‘Alaq: 17-18)

Sebab Turunnya Ayat

Imam at-Tirmidzi dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berkata, “Suatu hari, ketika Rasulullah bermaksud melaksanakan shalat, tiba-tiba Abu Jahal datang seraya berkata, ‘Bukankah saya telah melarangmu melakukannya!’ Rasulullah lantas menentangnya sehingga Abu Jahal berkata, ‘Engkau sungguh telah mengetahui bahwa tiada seorang pun di kota ini yang lebih banyak pengikutnya dibanding saya.’ Allah lalu menurunkan ayat, “Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah (penyiksa orang-orang yang berdosa).'”

Imam at-Tirmidzi berkata, “Hadits ini berkualitas hasan shahih.”

Sumber: Diadaptasi dari Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, atau Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie (Gema Insani), hlm. 633 – 634.