Asisten Pribadi Soeharto di Balik Kirab 1 Suro

Prosesi budaya Kirab 1 Suro dengan maskot kerbau ‘’Kyai Slamet’’ sebagai cucuk lampah (vorijder) selama ini diopinikan sebagai tradisi Kraton Mataram yang sudah berlangsung sejak berabad-abad lalu. Padahal, tradisi tersebut baru muncul pada 1974.

Demikian diungkapkan Peneliti INSIST Susiyanto, dalam diskusi yang diselenggarakan Pusat Studi Pemikiran Islam (PSPI) di Gedung Umat Islam Solo, Sabtu, 10 November 2012. Acara turut disponsori LAZIS Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia.

Dalam pengantarnya pada diskusi yang dihadiri sekitar 50 aktivis dari Jakarta, Solo, Banjarnegara, dan Jogja, itu Ketua PSPI Arief Wibowo memaparkan versi kesejarahan.

Mengutip peneliti INSIST Dr. Syamsuddin Arif, ada tiga tipe penulisan sejarah, yaitu pertama, History Rememberted atau biasa disebut popular history, yang terangkum dalam aneka mitos, legenda dimana antara dongeng dan kenyataan sudah bercampur aduk menjadi satu.

Kedua, History Recovered, yang merupakan academic history, yang mengandung sebuah upaya rekonstruksi atas jalannya sejarah, dan yang ketiga adalah History invented, official history yang bertipe “from fiction to fact”, biasanya dibuat untuk proses pelanggengan sebuah kekuasaan.

Dalam kerangka itulah, materi yang dibawakan Susiyanto berusaha mengkritisi orisinilitas tradisi Kejawen.

Menurut hasil penggeledahan sejarah yang dilakukannya, tradisi Kebatinan atau Kejawen dipengaruhi oleh ajaran Theosofie.

‘’Tokoh Theosofie datang memperkenalkan diri kepada para bangsawan kraton dengan wajah ‘tasawuf Islam’. Namun secara perlahan mereka melakukan deviasi pemahaman sampai akhirnya menampakkan jejak Kabbalah dan kebijakan ‘Hindhustan’. Kedunya sama sekali berbeda dengan Islam, bahkan menyimpan dendam terselubung terhadap Islam,’’ urai Susiyanto.

Tehosofie menyusup ke dalam kalangan Kebatinan dan Kejawen, kemudian melakukan distorsi makna atas kedua ajaran tradisional Jawa. Sehingga, Kebatinan dan Kejawen diposisikan memusuhi Islam. ‘’Islam selalu dicitrakan sebagai “Arab” dan “agama asing” bagi penduduk Nusantara,’’ tandas Susiyanto.

Dengan penyimpangan sejarah yang akut, umat Islam di Indonesia sering tidak lagi mampu membedakan mana cerita rekaan, mitos, legenda dan mana yang merupakan fakta sejarah.

Misalnya prosesi adat Kirab 1 Suro. Narasumber mengemukakan, tradisi ini sejatinya ‘’kreasi’’ Jendral Soejono Hoemardhani, ‘’guru spiritual” Presiden Soeharto. Menghadapi gejolak politik yang kemudian meletuskan Peristiwa Malari 1974, asisten pribadi (aspri) Soeharto itu sowan ke Kraton Kasunanan Surakarta. Kepada Pakubuwono XII, ia meminta ‘’laku ritual’’ untuk meredam gejolak politik di Ibukota agar tak meluas ke Indonesia.

Maka, dipentaskanlah Kirab Pusaka pada 1 Suro (Muharram), dengan pusaka utama seekor kerbau bule yang dinamai “Kyai Slamet”.

Awalnya, fungsi kerbau hanyalah sebagai pelengkap parade, sebagaimana kendaraan hias dalam Karnaval 17 Agustusan. Namun, lama-lama kerbau bule kraton Surakarta yang memang merupakan hewan “klangenan” para raja Surakarta sejak Pakubuwono XII, menjadi lebih terkenal dibandingkan pusaka (gaman=senjata) yang dikirab. Bahkan kemudian label ‘’Slamet’’ yang sebenarnya ‘’milik’’ pusaka kraton, menjadi ‘’hak paten’’ si kerbau bule.

PSPI belum setahun didirikan oleh Arief Wibowo, salah satu peserta Program Kaderaisasi Ulama-Intelektual Dewan Dakwah-Baznas.

Diskusi PSPI berikutnya adalah “Bedah Film Soegija” untuk menguak distorsi sejarah yang dijejalkan film ini. ‘’Kami ingin mendudukkan sejarah sosok dan peran Soegijapranata secara proporsional saja,’’ kata Arief, alumnus Fakultas Pertanian UNS (S-1) dan Studi Pemikiran Islam UNS (S-2).

Akan bertindak sebagai narasumber, Tiar Anwar Bachtiar. Ia peneliti INSIST dan Ketua Pemuda PERSIS, yang saat ini sedang menempuh studi S3 Bidang Sejarah di Universitas Indonesia.

Bedah Film Soegija” terbuka untuk umum, berlangsung pada Sabtu, 24 November 2012, pukul 19.30 WIB di Masjid Istiqlal, Sumber, Solo. (nurbowo)