Militer Myanmar Diskriminasikan Relawan yang Bantu Muslim Rohingya

Hidayatullah.com—Pernyataan ini disampaikan dr.Zackya Yahya Setiawan,Sp.OK, juru bicara Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) saat mengadakan konferensi pers nsi Pers bertema “Laporan Temuan Tim MER-C di Myanmar” yang diselenggarakan di kantor secretariat MER-C jalan Kramat Lontar Jakarta. Menurut MER-C, fakta di lapangan masih ditemukan adanya diskriminasi terhadap warga Rohingya.

“Pengawalan militer Myanmar sangat berlebihan terhadap relawan kemanusiaan yang datang dari berbagai NGO di Shittwe,” jelas dr.Zackya Yahya saat konferensi pers.

Seperti diketahui, MER-C berada di Myanmar selama satu minggu. Lembaga kemanusiaan ini datang dengan membawa bantuan kesehatan dan sandang pangan dari rakyat Indonesia.

Hanya saja, menurut MER-C, untuk masuk ke Myanmar, sikap pemerintah setempat masih sangat ketat termasuk mempersulit akses para dokter daro MER-C. Bahkan untuk donasi berupa uang ke Muslim Rohingya harus tetap melewati izin pemerintah Myanmar. Jika pemerintah Myanmar tidak setuju, maka pemberian bantuan tanpa izin justru akan dianggap provokator.

“Seorang yang dianggap provokator akan ditangkap dan diculik oleh militer Myanmar,” tambah dokter Tonggo Meaty Fransisca, dalam acara tersebut.*