Tersinggung Kaos “Pluralisme”, Mantan Manajer SID, Layangkan Surat Terbuka

Hidayatullah.com–Seorang mantan manager kelompok music rock, Superman is Dead melayangkan surat terbuka kepada kelompok grup band pop punk asal Bandung, Rocket Rocker gara-gara gelisah ada sebuah kaos bertuliskan “Pluralisme? Injak Saja!”

Foto yang menurutnya ditemukan di sebuah Facebook dari salah seorang personel Rocket Rockers itu rupanya membuat Rudolf Duthe gelisah. Ia lalu menulisnya disitus pribadinya rudolfdethu.com.

Dalam suratnya, pria yang tangannya penuh tato ini mengangap, kaos tersebut ada nuansa provokatif dan merusak nilai keragaman yang ada di Indonesia.

“Dari foto tersebut beserta jargon-jargon para simpatisan “Indonesia Tanpa JIL” jelas tergambar bahwa mereka menolak pluralisme, sekularisme dan liberalisme. Alias, jika dimaknai bebas para penolak JIL itu anti keberagaman. Agama lain? Injak saja. Yang berbeda suku—misalnya Bali yang cenderung sekuler—adalah kafir. Serta yang paling mereka prioritaskan: bahaya laten Zionisme serta Kristenisasi. Yang khas, aktivis gerakan ini memiliki semacam kode pemersatu yaitu: salam satu jari. Dari pemahaman saya intinya salam satu jari ini adalah sebuah peringatan untuk kembali ke asal, gerakan pemurnian, hati-hati sebab orang yang berada di luar lingkaran, yang berbeda keyakinan, tak lebih dari kumpulan kafir,” begitu tulisnya.

Yang menarik, meski mengaku menerima perbedaan keyakinan dirinya resah tiba-tiba di dunia musik, bisa masuk kelompok keagamaan, dengan apa yang dia sebut sebagai “fundamentalisme”.

“Kenapa saya tiba-tiba gerah padahal gerakan pemurnian ini telah ada sejak cukup lama? Sebab sudah mulai masuk ke wilayah yang saya sangat akrabi: musik. Silakan saja beraktivitas memurnikan/meluruskan di kelompok sendiri, jangan kami bagian dari pluralisme ini dicekoki lelucon fundamentalisme,” tulisanya lagi.

Namunpendapat Rudolf ini sendiri ditanggapi secara santai oleh Direktur Departemen Media dan Komunikasi Komunitas Underground Tauhid, Aditya Abdurahman Abu Hafidz. Menurut Aditya, kritik Rudolf terhadap pemakai kaos kampanye “Anti JIL” dengan mengkambing- hitamkan Ucay, vokalis Rocket Rockers dan komunitas #IndonesiaTanpaJIL jelas salah alamat.

Sebab, bagi Aditya, arsitek desain grafis baju “Pluralisme? Injak Saja!” adalah dirinya, bukan Rocket Rockers, sebagaimana yang digelisahkan Rudolf.

Tulisan Rudolf sendiri menurut Aditya seperti anak baru belajar menulis. Tidak terstruktur dan tidak sistematis. Ia mempertanyakan arah kritik Rudolf sendiri. Apa dan siapa yang sedang dikritik Rudolf? Mengkritik si pemakai kaos, mengkritik tulisan di kaos atau mengkritik Ucay dan Band Rocket Rockers nya? Atau mengkritik komunitas Salam Satu Jari? Atau mau mengkritik si produsen kaos? atau justru ia ingin mengkritik kelompok Islam yang memang telah “mengharamkan” Pluralism Agama?

Menurut Aditya, kritik Rudolf itu menunjukkan ketidakpahamnya akan makna Pluralisme Agama dan pluralitas.

“Menurut saya Rudolf seharusnya buka kamus dulu sebelum mengkritik baju tersebut, jelas anak SMP aja tau bahwa pluralisme dan pluralitas itu beda,” jelas lulusan S2 Universitas Airlangga Surabaya ini kepada hidayatullah.com, Kamis (16/08/2012)

Menurut pria yang juga dosen di kampus UPN Veteran Surabaya ini juga menambahkan pernyataan Rudolf itu tidak perlu terlalu serius ditanggapi. Menurutnya dengan pernyataan tersebut justru terlihat ketidak-pahaman dari Rudolf sendiri baik dalam memahami masalah pluralitas dan pluralisme di Indonesia.

“Kritik itu justru jadi boomerang buat dia sendiri, karena dia tidak paham apa itu pluralism,” jelas aktivis dakwah yang sangat disegani di komunitas Punk Surabaya ini.

Dukungan Moral

Atas kritik Rudulf ini, dukungan moral terhadap Underground Tauhid, #IndonesiaTanpaJIL hinggaUcay dari band Rocket Rockers langsung datang dari Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).

Melalui Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjend)-nya Fahmi Salim.Lc. MIUMI mengingatkan agar anak-anak muda jangan gentar dalam menyebarkan pencerdasan atas sesatnya liberalisme dan gagasan pluralisme.

“Islam tidak mengajarkan kita anti terhadap agama lain, yang dilarang Islam itu adalah pencampur-adukan akidah, itulah letak kesalahan pluralism,” jelas Fahmi Salim kepada hidayatullah.com.

Menurut Fahmi, Islam itu mendukung pluralitas. Pluralitas adalah di mana kehidupan dalam keanekaragaman kenyakinan dihidupkan dengan nilai toleransi dan sikap saling menghargai privasi masing-masing. Sedangkan pluralisme itu sendiri adalah kehidupan keanekaragaman yang memaksakan pencampuradukan kenyakinan, ini bertentangan dengan Islam.

Seperti diketahui, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Munasnya yang ke-7, pada 25-29 Juli 2005 di Jakarta, telah menetapkan 11 fatwa. Di antara fatwa MUI tersebut, terdapat fatwa tentang haramnya pluralisme agama, sekularisme, dan liberalisme. Paham ini juga ditolak hampir mayoritas ormas Islam di Indonesia. Dengan kata lain, Islam menolak pluralisme agama (paham yang menganggap semua agama sama benar, red) dan menerima pluralitas (perbedaan keyakinan).

Seperti diketahui, kaos bertuliskan, “Pluralisme? Injak Saja!” merupakan merchandise milik komunitas Underground Tauhid. Kasus bermula ketika kaos ini kemudian dipakai oleh salah satu penggerak #IndonesiaTanpaJIL di sebuah kegiatan Ramadhan Youth Islamic Study Club (YISC) Al Azhar. Dokumentasi yang diupload di sebuah facebook vokalis band ternama di Bandung yang akhirnya menuai kontroversi.*