Adian: Agama Tak Pantas Disamakan dengan SARA

Hidayatullah.com–Siapa yang tak kenal Adian Husaini? Seorang pria serba bisa yang dikenal kolumnis, penulis buku juga penceramah. Tapi siapa sangka, baru-baru ini, lulusan program Ph.D dari International Institute of Islamic Thought and Civilization – International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) Malaysia justru merasa khawatir saat mengisi ceramah di Masjid Istiqlal, Jakarta.

“Tema yang berat sekali,” katanya, mengawali pembicaraan.

Saat itu, panitia masjid mendaulatnya sebagai pengisi ceramah tarawih pada Kamis (09/08/2012) malam, tepat hari pertama I’tikaf Ramadhan 1433 H. Tema yang disodorkan panitia adalah “Efektifitas Dakwah dengan Media Jejaring Sosial”.

Yang membuat Adian merasa berat bukan materi dari tema itu, tapi suasananya.

“Ntar saya ngomong kena SARA, padahal saya ngomong-nya agama,” katanya.

Seperti diketahui, belakangan ini isu Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) memang kembali mencuat di media massa. Terutama kala Si Raja Dangdut, Haji Rhoma Irama mengajak warga DKI Jakarta memilih pemimpin Muslim beberapa waktu lalu yang disebut-sebut berbau SARA.

Inilah yang dimaksudkan Adian sebagai “suasana yang memberatkan”. Meski merasa berat, Adian tetap melanjutkan ceramahnya.

“Sekarang kita harus hati-hati di zaman penuh fitnah,” pesannya.

Dalam ceramahnya itu, Adian menyampaikan ketidaksetujuannya jika segala sesuatu yang terkait agama langsung disebut sebagai SARA. Menurutnya, agama tidak pantas disamakan dengan suku atau ras.

“Saya nggak ngerti apa itu SARA. Saya orang Jawa, dari lahir sampai mati juga (suku) Jawa. Sedangkan iman itu pilihan. Jadi harusnya jangan digabung (suku dengan agama),” jelasnya.

Adian lalu menyampaikan usul agar Majelis Ulama Indonesia (MUI) merubah istilah SARA.

“Saya takutnya da’i-da’i takut ceramah,” tambahnya.

Garis Pembeda

Malam itu selain menyikat eksistensi SARA, dalam ceramahnya Adian juga tak segan-segan menjelaskan garis pembeda antara Islam dengan non-Islam. Menurutnya, orang di luar Islam jelas sangat berbeda dengan orang Islam, itu terkait keimanan.

Adian pun menghimbau agar umat Islam tidak tertipu dengan berita di banyak media yang seakan-akan menganggap orang mukmin dengan orang kafir itu sama saja.

“Orang mukmin dengan orang kafir itu berbeda,” tegasnya.

Namun, katanya, kalau orang mukmin mengaku mukmin lantas menipu, dia tergolong munafik.

“Itu lebih buruk daripada orang kafir. Tempatnya neraka,” tambah Adian, yang sebelumnya mengatakan bahwa seburuk-buruk makhluk adalah orang kafir.

Di hadapan jamaah, Adian terus menyampaikan tausyiyah-nya seputar orang Islam dan orang kafir. Dia pun mengaku sering dibuat pusing dengan pemberitaan di media yang dinilai tidak memihak Islam.

Mungkin karena kebanyakan menyinggung perbedaan agama, Adian sempat merasa khawatir ceramahnya saat itu akan disebut menyinggung SARA juga. Kepada para jamaah, kekhawatirannya itu dilontarkan.

“Saya nggak tahu, ceramah saya SARA atau nggak. Mudah-mudahan nggak!” selorohnya.

Menurut ceramahnya, Adian mengutip al-Qur’an Surat Fushshilat ayat 33, yang berbunyi, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah SWT …?”*