Terbitkan Buku Menista Nabi, Penerbit Gramedia Harus Dituntut

Buku berjudul “5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia” Karya Douglas Wilson, mengandung unsur pelecehan dan penistaan terhadap Nabi Muhammad dan Islam. Dengan tidak sengaja buku ini lolos dan terjual dari Maret 2012 lalu. Buku ini jelas bermasalah, buku ini melukai umat Islam dan karenanya penerbit yang mengeluarkan buku itu harus dituntut secara hukum. Ungkap Anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Pusat, Ustadz Fahmi Salim, MA.

“Saya sudah lihat dan sudah mengecek langsung, memang benar dalam buku itu terjadi distorsi pelecehan kepada sosok Rasululloh dan juga distorsi sejarah Islam. Jadi buku itu menyerang dua hal sekaligus, menyerang pembawa risalah Nabi Muhammad yang dikatakan suka kawin, merampok, merompak, cara menegakkan dakwah Islam itu pakai cara-cara kekerasan dan keji, Ini tidak betul.” katanya kepada Suara Islam Online, Ahad (10/6/2012).

Seperti diketahui, isi buku ini dinilai melukai perasaan kaum Muslim, karena isinya sangat menghina Nabi Muhammad Shallalu alaihi Wassalam.

Saat Membahas kota Yerusalem di halaman 24, tertulis “Selanjutnya Ia (Muhammad) memperistri beberapa wanita lain, Ia menjadi seorang perampok dan perompak, memerintahkan penyerangan terhadap karavan – karavan Makkah. Dua Tahun kemudian Muhammad memerintahkan serangkaian pembunuhan demi meraih kendali atas Madinah dan ditahun 630M ia menaklukkan Makkah.”

Begitu pula pada halaman 25 alinea kedua dan ketiga, Di sana douglas menafsirkan bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad selalu ditegakkan dengan kekerasan pedang.

“Islam ditafsirkan tegak berdiri dengan pedang, ini kan keliru besar. Sedangkan Islam tegak ada yang melalui futuhat (pembebasan) dan ada juga yang melalui cara-cara damai,” kata Ustadz Fahmi yang juga anggota Komisi Penelitian dan Pengkajian MUI Pusat itu.

Menurutnya futuhat yang digunakan Islam pada zaman itu bukan karena keinginan belaka tetapi dari permintaan. Kebanyakan yang dialami para sahabat ketika melakukan pembebasan negeri-negeri yang ada disekitar jazirah Arab itu, karena permintaan dan intervensi dari rakyat setempat yang dizalimi, yang ditindas oleh rezim non muslim sendiri.

Alumni Pasca Sarjana Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir itu mencontohkan penaklukan Mesir oleh tentara Amr bin Ash di zaman Khalifah Umar bin Khatab.

“Mesir itu dizalimi oleh Romawi, lalu umat Islam minta kepada Amr Bin Ash untuk menyelamatkan mereka. Untuk melindungi rakyat Mesir dari penindasan Romawi, sama dengan daerah-daerah yang lain. Jadi keliru besar jika dikatakan ini merupakan inisiatif serangan umat Islam untuk menaklukkan dan untuk menindas rakyat setempat, atau pun islamisasi penduduk, tidak ada sama sekali,” jelasnya.

“Islamisasi penduduk yang dilakukan di daerah yang dikuasai oleh Islam itu dengan cara alamiah secara normal tanpa paksaan. Karena mereka merasa senang diperlakukan secara adil dan diperlakukan beradab. Kemudian tidak ada penjarahan kekayaan alam tidak seperti kekuatan-kekuatan dunia yang lain,“ tambah Ustadz Fahmi saat menanggapi pernyataan halaman 25 alinea kedua dan ketiga, Wilson menafsirkan bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad selalu ditegakkan dengan kekerasan pedang.

atas tindakan Penerbit Gramedia itu, Ustadz Fahmi mengaku telah melayangkan surat via email yang berisi tiga tuntutan kepada Direktur Utama Gramedia Pustaka Utama Wandi S Brata.

“Dari pihak MIUMI tidak setuju. Saya atas nama pribadi dan atas nama MIUMI dan MUI menyatakan ketidaksetujuan. Saya sudah kirim email ke Direktur Gramedia. Saya menuntut agar buku itu ditarik dan menuntut permintaan maaf secara terbuka di depan media, minimal pada lima koran nasional dan memberikan klarifikasi dan mengeluarkan pernyataan tidak setuju pada pandangan Douglas Wilson, serta harap Gramedia mengontak penulisnya kalau masih hidup, minta klarifikasi dan minta maaf kepada umat Islam atas buku tersebut,” tuntutnya.

Gramedia dinilai telah ceroboh menerbitkan buku itu. Meskipun, ada juga yang beranggapan pelecehan itu sebagai suatu kesengajaan. Sebab penerbit seukuran Gramedia tidak mungkin tidak melakukan pengeditan secara teliti terhadap buku yang akan diterbitkan.

“Kita tidak tahu motifnya. Kita tidak perlu menuduh apa motifnya, yang jelas kita melihatnya harus objektif. Buku itu setiap akan diproduksi, harus dengan seleksi, seleksi penerjemahan, seleksi bahasa kemudian ada pertimbangan-pertimbangan kelayakan buku diterbitkan. Kalau ketiga hal itu sudah dilewati lalu buku seperti ini masih lolos juga, ini berarti buku ini bermasalah. Ini harus dituntut,” katanya.

“Karena kenapa Gramedia malah rida meloloskan buku seperti ini. Karena buku yang akan diterbitkan harus melewati seleksi yang ketat, penerjemahnya, editornya, masa ada kata-kata yang sensitif seperti itu kok dibiarkan bebas dan tidak disesuaikan dengan konteks Indonesia yang mayoritas umat Islam. Ini berarti kan tidak benar, ini melukai umat Islam dan menodai agama Islam,” tutupnya.(suaraislamonline)