Rezim Suriah Berdusta, Tuduh Kelompok Anti Pemerintah Dibalik Pembantaian Houla

ERAMUSLIM.COM – Suriah, Kamis kemarin (31/5) menyatakan bahwa penyelidikan awal mereka menunjukkan bahwa kelompok bersenjata anti-pemerintahlah yang melakukan pembantaian pekan lalu di al-Houla, di mana 108 orang tewas, dengan tujuan mendorong adanya intervensi militer asing terhadap pemerintah Suriah.

Brigadir Jenderal Qassim Jamal Suleiman, kepala komite investigasi yang dibentuk oleh pemerintah, mengatakan para korban adalah keluarga “yang menolak untuk melawan pemerintah dan itu bertentangan dengan sikap kelompok bersenjata.”

Penjelasan Suriah tersebut dikecam oleh Washington dengan menyebutnya sebagai “kebohongan terang-terangan” pada saat laporan surat kabar menunjukkan bahwa ‘sepatu’ yang dikenakan oleh para penyerang kemungkinan besar memberikan petunjuk untuk identitas mereka.

Sementara itu, sebanyak 63 orang tewas oleh tembakan pasukan Suriah pada hari Kamis kemarin, Al Arabiya melaporkan mengutip aktivis Suriah di Komite Koordinasi Lokal.

Dia mengatakan banyak dari korban adalah kerabat dari anggota parlemen Suriah, menurut laporan Reuters.

Ada lima pos militer di al-Houla, dan tujuan dari operasi ini adalah untuk “menghilangkan keberadaan pemerintah sama sekali dan mengubahnya menjadi suatu daerah di luar kendali pemerintah,” kata pejabat pemerintah pada konferensi pers di Damaskus.

“Reaksi kita terhadap karakterisasi apa yang terjadi di Houla, saya pikir cukup bahwa itu kebohongan terang-terangan dari pemerintah Suriah,” kata duta besar AS untuk PBB Susan Rice.

Pemantau PBB mengatakan bahwa beberapa korban di al-Houla, termasuk 49 anak dan 34 wanita, telah tewas oleh pemboman, tetapi sebagian juga dieksekusi.

Sementara itu, sebuah laporan yang diterbitkan oleh Financial Times pada hari Kamis kemarin mengatakan bahwa orang-orang yang menyerbu salah satu rumah di al-Houla berpakaian seperti tentara kecuali pada faktanya bahwa “mereka memakai sepatu putih sport,” menurut seorang saksi mata berusia 10-tahun .

Menurut laporan surat kabar, anak itu disembunyikan di sebuah gudang di dekatnya saat ia melihat para preman meninggalkan rumah setelah menembak mati temannya yang berusia 13 tahun yang berdiri di seberang jalan.

Laporan surat kabar itu dikutip Nadim Houry dari Human Rights Watch, yang mengatakan sepatu sport adalah salah satu rincian yang disebutkan oleh saksi mata sebagai bukti bahwa orang yang melakukan serangan itu bukan tentara, tetapi anggota milisi yang banyak ditakuti ‘shabbiha’.

“Dengan rezim melepaskan kontrol atas beberapa daerah pedesaan, akan lebih mudah mereka untuk mengirim ‘shabbiha’ daripada mengirimkan tentara reguler,” Emile Hokayem, seorang analis di Institut Internasional untuk Studi Strategis, dikutip oleh Financial Times mengatakan.(fq/aby)