Psikolog Internasional: Omong Kosong Homoseksual Bawaan Lahir

Hidayatullah.com–Dalam anggapan psikologi Barat sekarang ini, orang yang tidak suka dengan pelaku homoseksual sudah bisa dikatakan termasuk dalam salah satu penyakit kejiwaan.

Hal tersebut disampaikan Profesor Malik Badri, Pakar Psikologi Internasional pada Studium Generale “Homoseksual dan Gender dalam Perspektif Islam dan Psikologi” di Gedung Program Doktoral Pendidikan Islam, Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Jawa Barat, Selasa (29/5/2012).

Menurut Prof. Malik Badri, selain anggapan tersebut, banyak pendapat keliru lain tentang perilaku kelainan seks itu, seperti anggapan bahwa homoseksual sebagai perilaku bawaan.

“Omong kosong homoseksual bawaan sejak lahir. Tidak mungkin seperti itu,” tegas profesor dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan oleh moderator Adnin Armas.

Kalau homoseksual itu bawaan sejak lahir, tidak adil jika Tuhan menghukum para pelakunya, imbuh profesor.

Klaim pegiat homo yang menunjukkan hormon sebagai bukti pengaruh perilaku seks, juga dinilai keliru oleh profesor. Faktanya, menurut pakar psikologi dari Sudan itu, banyak orang yang hormonnya jauh lebih tinggi, tapi bukan pelaku seks sesama jenis.

Justru pengaruh homoseksual adalah lingkungan, jelas pembicara pertama dalam acara yang diikuti ratusan akademisi dan mahasiswa UIKA serta masyarakat umum, termasuk dari kaum wanita itu.

Faktanya, menurut Badri, di penjara atau asrama tentara akan banyak terjangkiti perilaku seks menyimpang tersebut.

“Homoseksual bisa diobati. Yang bikin sakit hati, sudah berperilaku homo, juga mengajak-ajak orang lain untuk homo. Seharusnya, para pelaku homoseksual meminta ampun kepada Allah SWT,” tambah Badri yang tampil pada sesi pertama Studium General yang digelar atas kerjasama Program Pascasarjana UIKA, Insistute for the Study of Islamic (INSISTS) dan The Center of Gender Studies (CGS) itu.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pascasarjana ISID Gontor Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi menjelaskan tentang perspektif gender dalam Islam.

Menurut Hamid Zarkasyi, kedudukan antara laki-laki dan perempuan adalah jelas berbeda.

“Islam memang mengajarkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki itu memimpin perempuan. Kelebihan laki-laki terhadap perempuan itu karena karunia dari Allah SWT. Siapa yang menafkahi istri? Suami!,” jelasnya.

Pada acara tesebut juga sekaligus di-launching website resmi CGS, www.thisisgender.com.*

Ket. gambar: Prof. Malik Badri, Pakar Psikologi Internasional dari Sudan