Pesantren Darul Ihsan Bangkrut, Vatikan Berani Beli Senilai 20 Milyar

Bogor (VoA-Islam) – Dalam penelusuran Voa-Islam mencari lokasi pesantren yang kabarnya akan dijual kepada pihak gereja membuahkan hasil. Tepat di depan Pabrik Garmen, Kelurahan Curug, Gunung Sindur, Bogor, Jawa-Barat, terlihat sebuah plang berukuran besar di pintu masuk menuju pesantren.

Benar saja, pada plang itu tidak terlihat lagi nama Pesantren Darul Ihsan, yang selama ini dikenal masyarakat Gunung Sindur. Plang itu telah berganti menjadi bentangan gambar sebuah partai politik, yakni, Pertai Keadilan dan Persatuan (PKP) pimpinan Sutiyoso alias Bang Yos, mantan Gubernur DKI Jakarta.

Begitu Voa-Islam memasuki pekarangan pesantren yang berdiri sejak tahun 1994 ini, terasa hening dan sunyi. Masih terbaca tulisan “Ahlan Wasahlan” dan “Welcome To Daarul Ihsan Modern Boarding School” di halaman pesantren. Jelang Asyar, tidak tampak suasana pesantren pada umumnya, yang ramai dengan para santrinya.

Saat mata memandang, pohon kelapa begitu dominan di halaman yang memiliki luas sekitar 8.000 meter persegi itu. Saat mata ini menoleh ke sisi kiri, yang terlihat hanya onggokan bangunan yang rusak dan terlantar. Tidak terlihat lagi, bangku dan meja di setiap ruang kelas pesantren tersebut. Begitu juga asrama santri yang tak lagi terawat. Pesantren itu betul-betul menjelma menjadi lembaga pendidikan Islam yang mati. Sungguh menyedihkan dan teramat ironis.

Yang masih berdiri kokoh di area pesantren tersebut adalah bangunan masjid dan rumah pemilik pesantren tersebut. Alhamdulillah, Voa-Islam akhirnya bisa menemui salah satu pemilik sekaligus pengelola Pesantren Darul Ihsan. Pengelolanya bernama Ibu Nurhasanah. Ayahnya selaku pendiri sudah empat tahu lalu wafat. Sedangkan sang ibu baru saja 100 hari meninggal dunia. Nurhasanah adalah salahsatu putri dari delapan bersaudara.

Pesantren Tiga Tahun yang Lalu

Sebelum mengkonfirmasi lebih lanjut, apakah benar pesantren Darul Ihsan dijual kepada pihak gereja, Voa Islam lebih dulu menjumpai seorang tokoh masyarakat yang juga pimpinan pondok pesantren terpadu di kawasan Gunung Sindur. Tokoh yang tak mau disebut namanya itu mengakui, bahwa ia sempat didatangi oleh salah seorang pihak keluarga Pesantren Darul Ihsan.

Dikabarkan, bahwa Pesantren Darul Ihsan akan dijual dengan harga Rp. 1 milyar. Itu tiga tahun yang lalu. Sempat terjadi tawar menawar diantara kedua belah pihak. Dikarenakan, harganya terlalu tinggi, tokoh masyarakat yang ditawari itu merasa berat untuk membeli. Bahkan Lembaga Zakat milik PLN, sempat tertarik dan akan membeli pesantren itu, namun juga belum cocok dengan harga yang ditawarkan.

Kepada Voa-Islam tokoh masyarakat yang juga seorang pendidik itu mengaku pernah menulis di sebuah website pribadinya seputar kondisi pesantren Darul Ihsan yang terancam bangkrut. Berikut kisahnya yang ia tulis tiga tahun yang lampau:

Mungkin awalnya tidak ada yang percaya, tetapi itulah yang terjadi. Tak jauh dari Pesantren Darul Qur’an, masih dalam satu kecamatan, yaitu: Kecamatan Gunung Sindur, ada sebuah pesantren yang sedang menunggu customer untuk segera dijual.

Prihatin dan tak habis pikir, itulah awal yang dirasakan dalam benak penulis, mengapa ini bisa terjadi? Saat bersilaturahim ke Pesantren Darul Ihsan, cerita panjang lebar disampaikan oleh pihak yayasan. Awalnya, pesantren ini berdiri sekitar tahun 1994. Itu berarti, usia pesantren sudah berusia 15 tahun lebih (catatan waktu yang cukup panjang). Lima tahun pertama, pesantren mengalami perkembangan yang terbilang pesat. Santri pertamanya berjumlah 26 orang, kemudian meningkat terus hingga mencapai angka tiga ratusan santri.

Dari pihak yayasan, sebetulnya tidak kurang visionernya dalam mengupayakan mengembangkan pesantren, seperti penyediaan sarana dengan kuota penampungan untuk 1000 santri. Berbagai permasalahan klasik pesantren seperti ketersediaan air, penampungan sampai penyedotan kotoran berkala sudah diantisipasi oleh pengelola pesantren. Tidak tanggung-tanggung, pesantren membuat penampungan air untuk kapasitas 14.000 liter dengan penampungan air di bawah tanah 2mx 2m. Pengelolaan sampah dan penyedotan kotoran secara berkala pun dilakukan dengan bekerjasama dengan pihak dinas kebersihan.

Tapi, 10 tahun setelah masa puncak, perjalanan pesantren mengalami penurunan yang tak kunjung naik. Berawal dari krisis moneter yang berakibat pada rendahnya kemampuan orang tua membayar SPP pesantren. Bahkan pihak yayasan menceritakan, banyaknya orang tua santri yang tidak membayar hutang ke pesantren, bahkan ijazah kelulusan bertumpuk tidak ada yang mengambil. Inilah awal titik permasalahan, ketika orang tua santri tidak memenuhi kewajibannya melunasi setiap pembayaran kepada pihak pesantren.

Untuk pembiayaan pesantren ini termasuk yang tidak besar. Di tahun 2009 saja, SPP per bulan termasuk uang makan, penginapan, dan uang sekolah hanya sebesar Rp. 300.000. (tentu saja di tahun-tahun awal lebih rendah dari itu).

Puncak kevakuman, saat pesantren tidak lagi berkesanggupan membiaya biaya operasionalnya adalah pada tahun 2009. Santri yang masih bertahan sebanyak 56 santri, Sementara santri yang rutin memenuhi kewajiban SPP-nya hanya 25 santri, dikenakan Rp. 300.000 per bulan. Berarti pesantren hanya menerima masukan rutin Rp. 7.500.000 per bulan. Bagaimana dengan penggunaan uang tersebut. Persis tidak ada yang bisa dilakukan, kecuali memprioritaskan penggunaan untuk membiayai makan santri 3 kali sehari.

Ketua Yayasan kepada penulis menyampaikan: “Kita setiap hari pusing, tidak bisa tidur memikirkan agar para santri bisa makan 3 kali sehari. Hampir tidak terpikirkan bagaimana membayar honor para pengajar.” Bahkan, salah seorang pengurus yayasan yang bertugas mengajar, harus memenuhi kebutuhan keluarganya dengan mencari pekerjaan di luar. “Kalau tidak begitu, keluarga saya bagaimana?” ungkapnya.

Sebagai seorang mukmin yang peduli dengan nasib umat di masa yang akan datang, tentu saja membuat hati kita tersentuh, menyaksikan ketidakberdayaan umat yang ingin berjuang dengan beban tanggungjawab yang sangat besar. Seharusnya ini menjadi perhatian Kemendiknas atau Kemenag, sehingga bisa membantu penyelesaian dan penyelamatan pesantren yang telah sakratul maut untuk mendapatkan kucuran dana.

Pada tiga tahun yang lalu, pesantren ini dijual dengan kisaran harga Rp. 4-5 Milyar. Luas Tanah 10.300 meter persegi. Jumlah lokal kelasnya 40 lokal, berikut 1 buah musholla sederhana dan 2 rumah pribadi yang ditempati oleh pimpinan dan yayasannya.

Pada tahun 2012 ini, harga jual tentu saja mengalami kenaikan. Totalnya menjadi Rp. 7-8 Milyar. Tentu sangat ironis, jika Dewan Wali Gereja mendatangi pemilik pesantren, lalu berterus terang bahwa Vatikan berani membeli dengan harga lebih dari biaya yang ditawarkan, yakni Rp. 20 Milyar untuk dalam tempo tiga bulan.

Siapakan diantara kita yang peduli??? (dsstn/fyyd)