Prof. Musdah Mulia Menuduh Rasulullah Saw adalah Feminis Pertama

Muslimahzone.com – Bicara soal feminisme adalah bicara soal kesadaran dan penghargaan terhadap manusia. Sejarah manusia secara antropologi yang sudah ratusan tahun menjadi dipertanyakan apakah dalam masa selama itu kesadaran kemanusiaan kita tumbuh bersama eksistensi manusia itu sendiri? Statemen itu diutarakan oleh Prof Musdah Mulia dalam Seminar “Paradigma Feminisme Di Indonesia” pada hari Selasa (1/5/2012) yang diadakan Komunitas Mahasiswa Filsafat Universitas Indonesia (KOMAFIL UI) di ruangan auditorium Gedung I FIB Universitas Indonesia dengan pembicara DR. Gadis Arivia, Guntur Romli, dan Prof Musdah Mulia.

Menurut Musdah, instrument hak asasi manusia itu sendiri baru lahir di abad 19 termasuk gerakan feminisme itu sendiri. Dari hal ini, Musdah mengatakan ada keironisan sejarah dalam perkembangan manusia untuk menyadari sisi kemanusiaannya yang berharga. Padahal menurutnya, ajaran kemanusiaan itu sendiri sudah ada sejak datangnya para nabi utusan Allah Swt yang membebaskan, yang mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk berharga.

“Kalau saya mau melihat dari kacamata saya, bahwa feminisme itu memang betul bukan aliran atau gerakan yang tunggal. Tapi ada satu benang merah yang mempertautkan antara satu dan lainnya, itu adalah bahwa setiap gerakan feminisme adalah sebuah gerakan yang menyadari adanya ketidakadilan, sebuah gerakan yang menyadarinya adanya pengebirian terhadap kemanusiaan dan itu dialami oleh perempuan” Jelas Prof yang mendukung pernikahan beda agama ini.

Secara jelas dan lugas Musdah juga mengatakan bahwa Rasulullah Saw adalah feminis pertama yang ada di dunia.

“Sebetulnya jika saya melihat dari perspektif Islam, itu sudah dimulai dari ajaran Rasulullah Saw itu sendiri. Karena itu saya berani mengatakan dalam perspektif feminis, Rasul itu adalah feminis pertama” Jelas guru besar UIN Syarif Hidayatullah yang baru kembali dari Afghanistan ini.

Alasan menjadikan Nabi Muhammad Saw sebagai pelopor feminis, dalam pandangan Musdah adalah karena Nabi Saw memberikan hak kesetaraan pada zamannya, baik dari sistem mahar pernikahan Islam yang membebaskan perempuan dari sistem jual beli perempuan dizaman sebelum Rasulullah Saw, hak waris juga menjadi salah satu alasan Musdah mengatakan Rasul adalah tokoh feminis, setelah Musdah juga pernah mengkritisi sistem pembagian hak waris yang melebihkan seorang laki – laki dibandingkan perempuan.

Kebijakan Syariat yang membatasi poligami dengan 4 orang Istri juga menjadi alasan mengapa Musdah menjadikan Rasulullah Saw sebagai pembela perempuan dan menjadikannya tokoh feminis, yang disisi lain Musdah juga tidak menyepakati poligami dizaman ini, karena keadilan poligami hanya bisa dilakukan oleh Seorang Nabi.

Musdah juga mengatakan fakta sejarah feminisme yang diperjuangkan Nabi Muhammad Saw ini hilang setelah beliau wafat. Bahkan Musdah mengatakan Umar Bin Khatab Ra adalah salah satu sahabat yang mengembalikan aturan terhadap perempuan kepada kejahiliyaan karena banyak melakukan kebijakan yang merugikan perempuan dan bertentangan dengan hal – hal yang sudah ditetapkan oleh Rasulullah Saw.

“Ngak lama setelah Nabi wafat, Lalu Umar Bin Khatab sudah melarang perempuan berjamaah ke masjid. Tetapi untung waktu itu masih ada perempuan yang kritis. Ya Amirul Mukminin kenapa kamu menghalangi padahal Nabi sendiri tidak menghalangi. Dan juga Umar Bin Khatab membatasi perempuan minta mahar banyak–banyak” Jelasnya.

Bagi Musdah, banyaknya umat yang tidak memahami bagaimana sosok Nabi Muhammad Saw sebagai seorang feminis yang memperjuangkan kebebasan dan kesetaraan karena sisi sisi sejarah itu banyak dihilangkan dalam sejarah Islam.

Musdah Mengkritik Taliban

Musdah juga menyatakan sikap kritisnya terhadap kebijakan faksi perlawanan Taliban di Afghanistan. Musdah Mulia yang mengaku baru kembali dari kunjungan dari Afghanistan mengaku khusus dikirim ke sana untuk melakukan dialog dengan pihak Taliban.

Musdah menceritakan saat Taliban berkuasa di Afghanistan, mereka menarik semua perempuan dari dunia publik dengan alasan keagamaan bahwa perempuan haram bekerja.

“Apa yang terjadi, setelah dua bulan pemerintah Taliban menggariskan satu kebijakan baru bahwa perempuan ditarik dari rana publik. Para dokter, guru lalu hakim, bidan semuanya dilarang bekerja. Terjadi kemudian sejumlah keluarga ternyata memang penyandang ekonominya adalah perempuan – perempuan tersebut,” demikian ceritanya dalam seminar tersebut.

Menurutnya adalah tidak benar jika wanita itu penyandang ekonomi kedua, kenyataannya banyak juga wanita Afghanistan menjadi penyandang ekonomi utama. Tidak sedikit keluarga yang jatuh miskin dan tidak bisa berbuat apa–apa.

“Lalu Taliban nya tidak juga berkuasa untuk memberi makan rakyatnya akhirnya menjadi pengemis. Yang menarik perempuan itu kalau sudah tidak punya pekerjaan yang bisa dilakukan menjadi pengemis dan menjadi prostitusi. Ketika menjadi pengemis dan prostitusi mereka berada di jalan, ini yang terjadi,” ujarnya.

Musdah mengkritik kebijakan Taliban yang mengatasnamakan agama sebagai sikap yang tidak realistis dan rasional.

Miras dan Rock

Seperti diketahui, hadirnya penjajah di bawah pimpinan Amerika dan jatuhnya Kabul, rok mini, film porno dan minuman keras mulai bisa ditemukan secara bebas di Afghanistan.

Sebelumnya, kebebasan cara Barat seperti itu tak pernah ditemukan di wilayah tersebut di bawah kepemimpinan Taliban. Bahkan pencurian saja jarang ditemukan karena takut sanksi hukumnya. Setelah AS masuk, semuanya menjadi lain.

Tahun 2011 lalu, untuk pertama kali dalam sejarah, ada festival music rock di Afghanistan. Travis Beard, wartawan foto asal Amerika yang ikut festival mengatakan, acara ini disemarakkan band-band asal Australia, Uzbekistan, Kazakhstan dan Kabul sendiri.

Sebelumnya, belum pernah budaya-budaya Barat ini masuk secara sembarangan ke negeri itu.

Selain itu, sejak masuknya tentara asing, budaya-budaya Barat seolah disengaja masuk mempengaruhi warga yang semula dikenal taat dalam ajaran agama.

Tahun 2007, beberapa wanita Amerika mendirikan sekolah kecantikan. Semua gaya hidup ini tentu bukan sesuatu yang terjadi biasa saja. Setidaknya, masuknya tentara penjajah, ikut membawah dampak buruk bagi budaya Islam.*

Semenjak kehadiran tentara AS, budaya Barat dimasukkan ke negeri itu. (zfrn/fyyd)

Sumber: undergroundtauhid