Dr. Daud Rasyid : Jadikan Masjid UI Lokomotif Perjuangan

Dr.Daud Rasyid Sitorus, menjadi pembicara perdana dalam acara kuliah dhuha, di Masjid Ukhuwah Universitas Indonesia (UI), pada hari Ahad, 1 April 2012.

Dalam acara kuliah dhuha yang berlangsung dari pukul 7.30 hingga pukul 9.00 pagi itu, ia mengajak jemaah yang hadir, menjadikan Masjid Ukhuwah UI (MUI), sebagai lokomotif (pusat) perjuangan dan mempersiapkan calon-calon pemimpin bangsa.

Pernyataan Daud itu, merupakan bentuk keprihatinannya, yang disampaikan dalam ceramah dhuha, di mana dalam sepuluh terakhir ini, aktivitas dakwah, terutama dikalangan kampus negeri di seluruh Indonesia, nampak semakin menurun.

“Aktivitas dakwah di kampus-kampus berkurang, tidak seperti ketika tahun 1980 an, sampai akhir tahun 1990 an, di mana aktivitas dakwah di kampus berlangsung sangat semarak’, tegas Daud.

Menurut Daud, yang ahli hadist lulusan Universitas Al-Azhar itu, ia melihat bagaimana ketika itu, semaraknya aktivitas dakwah di masjid-masjid kampus di seluruh Indonesia dengan aktivitas dakwah. Khususnya dakwah di kampus Univesita negeri itu, semuanya memiliki tujuan “iqomatuddin” (menegakkan agama Islam).

“Hampir seluruh pojok masjid kampus dipenuhi aktivitas dakwah, seperti halaqoh-halaqoh, yang ingin membentuk kader-kader dakwah, yang kemudian menjadi pemimpin-pemimpin yang profesional, dan berjiwa Islami, diberbagai bidang”,tambah Daud.

Sepanjang hampir dua puluh tahun, sejak dekade 1980, hingga akhir dekade 1990 an itu, begitu luar biasanya, tumbuh dilingkungan kampus, lapisan generasi baru yang Islami, dan memiliki komitmen ke-Islaman yang kuat, dan kemudian membentuk sebuah lapisan sosial baru, yang banyak mempengerahui kehidupan sosial dan politik di Indonesia. Lahirnya, orang-orang yang terdidik dari kampus, yang memiliki komitmen ke-Islaman yang kuat, dan menyebar di seluruh lapisan kehidupan, termasuk mereka yang ada dalam pemerintahan.

Daud Rasyid, berkisah lebih lanjut, bagaimana masjid-masjid kampus, melahirkan sosok tokoh yang berhasil menggerakkan sebuah Gerakan Islam yang sangat fenomenal. Ia menunjuk salah satu diantaranya tokoh, yang saat itu, sangat menarik, ialah Dr. Imaduddin Abdurrahim, yang kemudian menuliskan tentang buku tauhid. Imaduddin yang dikenal dengan sebutan “Bang Imad”, behasil membentuk sebuah gerakan atau kelompok yang disebut : “Mujahid Dakwah”. Berpusat di Masjid Salman, ITB, Bandung. Dari sini pula muncul teknokrat-teknokrat muslim, yang menyebar diberbagi lapisan sosial politik di Indonesia.

Setidaknya, kalau melihat kemasa lalu, di dekade 1980 an sampai dekade 1990 an, masjid-masjid di kampus negeri, seperti Masjid Arif Rahman Hakim UI, Masjid Ukhuwah UI, Masjid Salman ITB, Jamaah Shalahuddin Universitas Gajah Mada (UGM), Masjid Universitas Airlangga (Unair), Masjid Institute Teknologi Surabaya (ITS), Masjid Universitas Brawijaya, Masjid Universitas Andalas (Unand) Padang, Masjid Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Masjid Universitas Hasanuddin (Unhas) Ujung Pandang, dan sejumlah masjid di kampus negeri, umumnya menjadi pusat gerakan dakwah, yang kemudian melahirkan kaum terdidik yang memiliki komitmen ke-Islaman yang kuat.

Tetapi, menurut Daud Rasyid, dalam sepuluh terakhir ini, ia merasa sangat prihatin, di mana aktivitas dakwah di kampus-kampus sangat menurun. Menurun jauh dibandingkan dengan dekade 1980 an sampai dekade 1990 an. Sekarang kurang nampak aktivitas dakwah di kampus-kampus, termasuk di masjid-masjid tidak lagi ada halaqoh-halaqoh, yang bertujuan membentuk dan membangun generasi baru yang Islami. Masjid hanya sekadar menjadi tempat sholat. Sangat jarang kajian-kajian Islam, yang menjadi sarana memberikan ilmu dan wawasan Islam kepada mahasiswa.

Alumni Al-Azhar itu lebih detil lagi, meniliai salah satu faktor penyebab kondisis sekarang ini, diantara bergantinya rezim di Indonesia, dan lahirnya sebuah rezim reformasi, dan adanya demokrasi dan kebebasan, dan para aktivitis dakwah, ikut dalam euforia politik, dan sebagian diantara mereka masuk dalam ranah politik, dan tidak lagi terlibat secara aktif dalam dakwah, kemudian melakukan pragmatisme politik, serta masuk dalam kekuasaan. Mereka mulai bermain dengan kekuasaan dan menikmati “kue” kekuasaan, yang pada akhirnya mereka larut dalam kekuasaan.

“Umat Islam sekarang ibaratnya seperti buih, yang apabila terkena ombak akan hilang. Tidak lagi mempunyai pengaruh dan izzah di mata musuh-musuhnya. Betapapun besarnya umat Islam”, ujar Daud. Karena betapapun besarnya gelembung buih, maka tidak memiliki pengaruh apapun.

Sejatinya, musuh-musuh Islam itu sangat memperhitungkan kekuatan umat Islam. Tetapi, sekarang rasa takut musuh-musuh Islam sudah dicabut oleh Allah, sedang umat Islam sekarang Allah mencampakkan dalam hatinya yaitu, “hubbud dunya wa harrayothul maut”. (cinta dunia dan takut mati). Sehingga, mereka terhinggapi penyakit “wahn”. Karena itu, mereka menjadi lumpuh, tidak lagi berani menegakkan Islam dengan tegas, ujar Daud.

Tentang kondisi umat Islam saat ini, Rasulullah Shallahu alaihi was salam, menyampaikan dalam sebuah hadistnya : “Nanti akan datang suatu zaman, di mana umat Islam akan menjadi mangsa golongan-golongan lain”. Maka, sekarang ini, kalau melihat kondisi yang ada, menurut Daud, seluruh golongan dan kekuatan mengarahkan senjatanya kepada umat Islam, yang tujuannya ingin menghancurkan umat Islam.

Umat Islam sekarang ini diibaratkan oleh Daud, seperti mendorong mobil mogok. Ketika mobil sudah jalan, maka ditinggalkannya. Tetapi, menurut Daud bukan hanya ditinggalkan, mobil yang sudah jalan itu, memutar balik, dan kemudian menabrak orang yang mendorongnya. Ini yang menjadi kenyataan. Setiap pergantian rezim, selalu umat Islam terlibat dalam perubahan. Tetapi, kemudian umat Islam, yang menjadi musuh rezim yang baru.

Mulai zaman Soekarno, Soeharto, sampai sekarang di zaman reformasi, di mana umat Islam menjadi musuh, dan justru gerakan-gerakan sekuler, semakin nampak dalam kehidupan. Sebaliknya kaum pergerakan yang dulunya menjadi pelopor dalam dakwah, dan memiliki komitmen dalam menegakkan Islam, larut dalam kehidupan baru, yang lebih sekuler, dan pragmatis. Sehingga, Islam menjadi semakin jauh dari kehidupan. Tidak ada lagi yang berani secara tegas, menegakkan Islam dan syariah Islam.

Karena itu, Daud Rasyid dalam acara kuliah dhuha pada Ahad pagi, 1 April, di Masjid Ukhuwah Universitas Indonesia (MUI), mengajak kembali jamaah menjadikan kampus-kampus dan masjid kampus menjadi pusat dalam menegakkan Islam (iqomatuddin). Semoga seruan Daud Rasyid ini bergema dan di dengar. Wallahu’alam. (voai/fayyadh)