Salafi Jihadi Berusaha Jadikan Islam sebagai Pemersatu Melawan Rezim Assad

ERAMUSLIM.COM – Pada saat kelompok-kelompok oposisi Suriah bertengkar atas politik di negara itu dan mengecam kekuatan dunia yang tidak mampu menghentikan pertumpahan darah warga sipil, kelompok Islam berusaha untuk menjadikan agama dasar pemersatu dari pemberontakan melawan rezim Presiden Suriah Bashar Al-Assad.

“Untuk tahap pertama warga Suriah menyerukan kepada Barat dan NATO,” kata ulama Muslim Libanon Syaikh Abu Abdullah Zahid kepada Reuters.

“Sekarang mereka menyerukan kembali ke Tuhan,” ujarnya di sebuah perpustakaan, di mana bendera Islam menggantung di dindingnya.

Zahid adalah salah satu ulama Salafi jihadi yang mencari cara untuk menjadikan agama Islam sebagai dasar pemersatu dalam melawan rezim Assad.

Dia menawarkan bendera Islamnya yang menggantung di belakangnya untuk rakyat yang bergabung dalam aksi protes anti-Assad di kampung halamannya di Tripoli Libanon.

“Awalnya tidak ada seorang pun selain mengibarkan bendera Suriah. Sekarang ada juga yang mengibarkan bendera Islam,” kata Zahid.

Lebih dari 9.000 orang telah tewas dalam operasi keamanan pasukan Assad melawan kelompok anti-rezim.

Pihak berwenang Suriah sendiri menyalahkan kelompok “teroris” dan negara asing yang mendukung kelompok bersenjata atas maraknya aksi kekerasan, dengan mengatakan kelompok-kelompok itu telah menewaskan 2.000 tentara dan polisi.

Sulit untuk mengetahui apa dampak kelompok Salafi jihadi di Suriah, yang rezim Suriah sendiri telah membatasi akses kepada para wartawan.

Tapi di Libanon, ada tanda-tanda mereka mendapatkan pijakan, menurut laporan Reuters.

Dari kota pantai Tripoli ke kota-kota perbatasan di sepanjang kaki bukit berbatu Suriah, di mana pemberontak dan pengungsi menyeberangi perbatasan, kelompok Salafi jihadi muncul dalam jumlah yang lebih besar.

Ketika malam tiba di perbatasan, demonstran Suriah melakukan aksi membakar ban dan mengibarkan bendera kemerdekaan Suriah yang berwarna-warni.

Tapi pada saat api membesar dan malam semakin larut, sekelompok pria muda mulai mengibarkan bendera hitam bertuliskan kalimat Tauhid berwarna putih.

Kelompok Salafi jihadi mengatakan mereka tertarik dengan revolusi anti-Assad karena Islam mengatakan mereka harus membantu orang yang tertindas.

Tetapi beberapa aktivis Suriah yang berlindung di Libanon mengatakan para ulama Salafi tidak mewakili mereka tetapi mengambil alih aksi demo.

“Saya mencoba untuk berbicara dalam aksi protes dan beberapa syaikh muncul mengambil alih aksi,” kata Musaab di Wadi Khaled, sebuah desa pertanian di perbatasan pegunungan dengan Suriah, kepada Reuters.

Tapi Salafi membantah klaim tersebut, mengatakan mereka membantu para pengungsi dan memasok banyak dokter serta menyediakan klinik yang mengobati warga Suriah yang terluka yang diselundupkan ke Libanon.

“Negara telah gagal dalam hal membantu warga Suriah tapi kami senang untuk membantu rakyat Suriah. Orang-orang yang datang ke sini untuk meminta bantuan dan mereka akan pergi dengan lebih banyak pemikiran tentang Islam,” pungkas Zahid. (fayyadh)