Ini Bedanya Taqiyah Syar’iyah dengan Taqiyah Syiah

Oleh: Dr. Basim Amir*

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, keluarga, para sahabat, dan pengikutnya yang tetap istiqomah sampai hari kiamat.

Berbicara tentang Syiah, tentunya kita sudah banyak mendengar tentang aqidah-aqidah kaum Syiah, di antaranya adalah aqidah taqiyah. Akan tetapi, banyak kaum Muslim yang mengira bahwa ajaran taqiyah itu mutlak hanya milik kaum Syiah. Padahal sebenarnya di dalam Islam, taqiyah memang ada syari’atnya sebagaimana yang termaktub jelas pada firman Allah ta’ala dan sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Hanya saja, taqiyah yang dimiliki oleh kaum Syiah sangat jauh berbeda dengan taqiyah yang diajarkan di dalam Islam.

Untuk memahami hakikat dan perbedaan antara taqiyah yang diajarkan oleh Islam dan taqiyah ajaran Syiah, maka kita akan memahami tulisan Dr. Basim Amir di bawah ini, yang membeberkan kebobrokan ajaran taqiyah Syiah bersumber dari kitab-kitab panutan mereka.

Untuk mengetahui hakikat taqiyah syar’iyah dan taqiyah Syiah, perlu diketahui perbedaan antara keduanya. Yang dimaksud dengan taqiyah syar’iyah di sini adalah taqiyah yang diajarkan dalam Islam yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta sejalan dengan kaidah-kaidah dan aturan syari’at Islam. Sedangkan taqiyah Syiah, adalah taqiyah dengan pengertian sebagaimana yang telah dijelaskan oleh ulama-ulama mereka dalam buku-buku induk yang mereka jadikan pondasi ajaran mereka.

Dasar utama yang menjadi landasan adanya taqiyah syar’iyah terdapat dalam firman Allah surat Al-Imron ayat 28. Allah berfirman,

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).”

Dalam menafsirkan ayat di atas, Imam Al-Baghawi berkata, “Makna ayat ini, bahwa Allah ta’ala melarang orang-orang beriman mengambil wali dan teman dekat dari orang-orang kafir, kecuali jika orang kafir lebih dominan dan lebih kuat, atau jika orang mukmin saat itu berada di tengah kalangan orang kafir, maka pada saat itu orang mukmin boleh melakukan tipu daya dengan perkataannya tetapi hatinya tetap beriman. Hal ini dibolehkan untuk melindungi dirinya untuk melindungi harta, darah atau rahasia kaum Muslim. Taqiyah seperti ini tidak dilakukan kecuali dalam keadaan terpaksa takut akan dibunuh dan sejenisnya.” (1)

Di antara perbedaan mendasar antara taqiyah syar’iyah dan taqiyah Syiah adalah sebagai berikut:

Perbedaan Pertama: Taqiyah syar’iyah merupakan masalah furu’ (cabang) dalam agama, bukan masalah ushul (pokok).

Taqiyah Syar’iyah: Dalam ajaran islam taqiyah syar’iyah ini bukan merupakan masalah ushul yang tidak boleh ditinggalkan, tetapi merupakan masalah furu’ yang mana seorang muslim boleh tidak melaksanakannya.

Taqiyah Syiah: Menurut mereka, taqiyah adalah ajaran yang bersifat ushul, bahkan mereka menganggap orang yang tidak bertaqiyah sebagai orang yang tidak mempunyai agama. Di dalam kitab mereka disebutkan, Imam Ja’far As-Shadiq berkata, “Sesungguhnya sembilan dari sepuluh agama ada pada taqiyah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak bertaqiyah.” (2)

Mereka juga menisbatkan kepada Ja’far As-Shadiq sebuah perkataannya, “Taqiyah itu agamaku dan agama nenek moyangku, dan tidak ada keimanan bagi siapa yang tidak bertaqiyah.” (3) Dan juga perkataannya, “Seandainya engkau mengatakan, ‘Orang yang meniggalkan taqiyah kedudukannya seperti orang yang meniggalkan sholat,’ maka engkau adalah orang jujur.” (4)

Dalam kitab mereka juga disebutkan bahwa Imam Ali bin Musa Ar-Ridha (menurut keyakinan mereka) berkata, “Tidak ada keimanan bagi yang tidak bertaqiyah, dan orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling sering bertaqiyah, ” maka dikatakan kepadanya, “Wahai keturunan Rasulullah, sampai kapan (keharusan taqiyah) itu? Dia berkata, “Sampai waktu yang diketahui, yaitu keluarnya Qaim (Imam Mahdi) kita, barang siapa yang meninggalkan taqiyah sebelum keluarnya Qaim kita, maka bukan termasuk golongan kita.” (5)

Perbedaan Kedua: Taqiyah sar’iyah hanya dilakukan kepada orang kafir, bukan kepada orang mukmin.

Taqiyah syar’iyah: pada umumnya dilakukan oleh seseorang untuk menghadapi orang kafir, sebagaimana firman Allah ta’ala di atas yang dengan jelas menyebutkan hal itu, “Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Al-Imran: 28)

Konteks ayat di atas adalah pembicaraan mengenai orang-orang kafir, Ibnu Jarir berkata, “Taqiyah yang disebutkan Allah di ayat ini adalah taqiyah yang hanya ditujukan untuk orang-orang kafir, bukan selain mereka.” (6)

Sa’id bin Jubair juga berkata, “Di dalam Islam sebenarnya tidak ada taqiyah, tapi taqiyah hanya untuk orang-orang yang sedang berperang.” (7)

Ar-Razi juga berkata, “Taqiyah dilakukan ketika seseorang sedang berada di wilayah kaum kafir, sedangkan dia kawatir akan keselamatan diri dan haratanya, maka dia boleh melakukan tipu daya terhadap orang kafir itu lewat perkataannya, dengan tidak menampakkan permusuhan kepada mereka dengan lisannya. Bahkan, dia juga boleh mengucapkan kata-kata cinta kepada mereka untuk menipu saja, tetapi dengan syarat dia harus tetapi menyelisihi perkataan itu dalam hatinya, dengan menolak apa yang telah ia katakan.” (8)

Taqiyah Syiah: Adapun taqiyahnya orang syiah, target utamanya adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahkan ulama mereka ada yang menyusun buku dengan membuat bab khusus berjudul “Bab Wajibnya Taqiyah Terhadap Ahlus Sunnah”. (9)

Ada juga sebuah perkataan yang mereka nisbatkan kepada Abu Abdillah, yaitu “Barang siapa sholat bersama mereka (Ahlus Sunnah) pada shaf pertama, maka seakan-akan dia sholat bersama Nabi Muhammad di shaf pertama juga.” (10)

Salah satu sebab mengapa kaum Syiah sampai berkeyakinan seperti itu adalah, karena mereka menganggap Ahlus Sunnah itu sama kedudukannya dengan orang kafir, karena Ahlus Sunnah tidak beriman kepada Dua Belas Imam milik Syiah.

Seorang ulama Syiah, Ibnu Babuwaih berkata, “Dan akidah kita terhadap siapa saja yang mengingkari imamahnya Amirul Mukminin dan para imam setelahnya, maka kedudukan orang tersebut seperti orang yang mengingkari kenabian para nabi. Dan akidah kita terhadap orang yang mengakui imamahnya Amirul Mukminin tetapi mengingkari salah satu dari imam-imam kita, maka kedudukannya seperti orang yang mengakui kenabian para nabi, tetapi mengingkari kenabian Nabi Muhammad.” (11)

At-Thusi juga mengatakan, “Siapa yang menolak imamah maka dia kafir, sebagaimana kafirnya orang yang menolak kenabian.” (12)

Perbedaan Ketiga: Taqiyah syar’iyah merupakan suatu rukhsoh (keringanan) dan bukan azimah (hukum yang tetap dari awalnya)

Taqiyah Syar’iyah: merupakan syariat dalam islam yang diadakan sebagai suatu rukhsah bagi umat Islam dalam suatu keadaan yang mendesak. Dan uamat Islam dibolehkan tidak melakukan suatu rukhsoh (termasuk taqiyah sar’iyah) dan lebih memilih melakukan azimah, bahkan para ulama mengatakan barang siapa yang tetap memilih melakukan azimah dari pada mengambil rukhsoh ketika dalam keadaan darurat, maka itu lebih baik.

Ibnu Bathol berkata, “Dan telah sepakat bahwa barang siapa yang dipaksa untuk kafir, tetapi dia memilih terbunuh dalam Islamnya, maka sesungguhnya hal itu mendapat pahala yang agung di sisi Allah.” (13)

Ar-Razi berkata, “Jika saja seseorang tetap menyuarakan keimanan dan kebenaran pada saat dibolehkan baginya bertaqiyah, maka itu lebih baik.” (14)

Pengikut Imam Abu Hanifah juga mengatakan bahwa taqiyah merupakan rukhsoh dari Allah ta’ala, dan meninggalkannya adalah lebih utama. Maka, barang siapa yang dipaksa untuk kafir tapi dia tetap tegar dalam keimanan sampai dia dibunuh, maka itu lebih baik dari pada orang yang bertaqiyah. Dan seluruh masalah yang berkaitan dengan kemuliaan Islam, memegang teguh perjuangan walau sampai terbunuh adalah lebih baik dari pada mengambil rukhsoh.” (15)

Begitu juga kisah Imam Ahmad ketika sedang diuji dengan fitnah Al-Qur’an itu makhluk, ketika itu beliau ditanya seseorang, “Jika kamu dihunus pedang, apakah kamu akan menjawab (bahwa Al-Qur’an itu makhluk), ? beliau menjawab, “Tidak!”, seraya berkata, “Jika seorang alim menjawab seperti itu walau dengan taqiyah, niscaya orang jahil akan semakin jahil (salah persepsi), jika begitu, kapan kebenaran akan tegak?” (16)

Taqiyah Syiah: Dalam keyakinan Syiah, taqiyah bukan sebuah rukhsoh tetapi azimah yang harus dilakukan, dan tidak ada pilihan untuk meninggalkannya walaupun dalam keadaan terpaksa atau tidak. Ibnu Babuwaih mengatakan dari imam-imam mereka, “Taqiyah itu wajib, tidak boleh ditinggalkan sampai keluarnya sang Qoim, maka barang siapa yang meninggalkannya sebelum keluarnya Qaim, maka dia telah keluar dari agama Allah dan agama Imamiyah, serta telah menyelisihi Allah, Rasul dan para Imam.” (17)

Perbedaan Keempat: Taqiyah Syar’iyah dilakukan dalam keadaan mendesak atau lemah.

Taqiyah Syar’iyah: Taqiyah syar’iyah pada dasarnya dilakukan dalam keadaan mendesak dan terpaksa, bukan dalam semua keadaan, terlebih lagi dalam keadaan lapang dan kuat.

Mu’adz bin Jabal dan Mujahid berkata, “Taqiyah pada mulanya digunakan ketika awal kemunculan Islam sebelum kaum Muslimin memiliki kekuatan, akan tetapi pada hari ini Allah telah memuliakan Islam dan menguatkan kaum Muslimin, sehingga sudah seharusnya orang Islam tidak bertaqiyah lagi di hadapan para musuh.” (18)

Taqiyah Syiah: Sedangkan taqiyah Syiah dilakukan oleh pemeluknya dalam setiap keadaan, mereka tidak membedakan antara keadaan mendesak atau lapang.

Mereka menukil perkataan As-Shadiq (versi mereka) yang berkata, “Bukan dari golongan kita siapa saja yang tidak menjadikan taqiyah sebagai syi’ar dan tamengnya dari orang yang tidak membahayakannya.” (19)

Perbedaan Kelima: Taqiyah syar’iyah hanya diucapkan lewat lisan, bukan dilakukan dengan perbuatan.

Taqiyah Syari’ah: Taqiyah yang disyari’atkan dalam Islam adalah taqiyah dalam bentuk ucapan lisan saja tanpa dilakukan dalam bentuk perbuatan. Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata, “Taqiyah bukanlah dengan amal, tetapi taqiyah hanya dengan perkataan lisan.”

Begitu juga perkataan Abul ‘Aliyah, Abu Asy-Sya’tsa, Ad-Dhahak dan Robi’ bin Anas yang mana mereka mengaitkan dengan firman Allah,

مَن كَفَرَ بِاللّهِ مِن بَعْدِ إيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ وَلَـكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْراً فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (An-Nahl: 106). (20)

Dalam sebuah riwayat, Ibnu Abbas menafsiri firman Allah ta’ala yang berbunyi إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً “kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka” (Al-Imron: 28) beliau berkata, “Maksudnya at-tuqooh (taqiyah) adalah perkataan dengan lisan tetapi hati tetap dalam keadaan beriman.” (21)

Menanggapi masalah jika ada seseorang yang dikatakan kepadanya, “Sujudlah kepada berhala ini, jika tidak kami akan membunuhmu!” Hasan berkata, “Jika berhala itu menghadap kiblat, maka dia boleh bersujud pada berhala itu, tetapi niatnya adalah sujud pada Allah, akan tetapi jika berhalanya bukan pada arah kiblat, maka janganlah dia mau sujud walaupun harus dibunuh.”

Akan tetapi Al-Qadhi dalam menyikapi masalah ini mengatakan, “Dia tidak dilarang bersujud asal niatnya tetap untuk Allah, walaupun tidak mengarah kiblat, karena Allah berfirman, “maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah” (Al-Baqarah: 115). Begitu juga syariat Islam membolehkan bagi musafir untuk menghadap arah selain kiblat ketika shalat. (22)

Taqiyah Syiah: Adapun kelompok Syiah melakukan taqiyah dengan lisan dan perbuatan sekaligus, atau dengan cara apapun yang bisa membuat mereka melakukan taqiyah, bahkan taqiyah merupakan salah satu prinsip ibadah mereka, dimana mereka menyatakan bahwa 9 dari 10 agama mereka adalah taqiyah.

Perbedaan Keenam: Taqiyah syar’iyah tidak dijadikan sebagai tabiat seorang Muslim dalam segala keadaan.

Taqiyah Syar’iyah: Taqiyah syar’iyah merupakan suatu rukhsoh, sehingga tidak dibolehkan bagi umat Islam terus-terusan melakukannya dalam semua keadaan. Dr. Al-Qifari mengatakan, “Taqiyah dalam Islam yang merupakan agama jihad dan dakwah, bukan merupakan prinsip utama yang melandasi akhlak seorang Muslim, dan bukan merupakan sifat dari masyarakat Islami, tetapi taqiyah sebenarnya hanya perilaku individu yang sifatnya sementara, tergantung dengan marabahaya yang menimpanya yang membuatnya tidak bisa menghindar dari bahaya itu serta dalam keadaan terpaksa.” (23)

Taqiyah Syiah: Dalam keyakinan Syiah taqiyah merupakan suatu keharusan bagi setiap orang Syiah. Mereka harus selalu bertaqiyah dan melakukannya dalam setiap keadaan. Dari situ jelaslah bahwa selalu ada kedustaan di tubuh pengikut kelompok Imamiyah Itsna ‘Asyriyah ini, bahkan Ahlus Sunnah masih mentolelir riwayat dari ahli bid’ah secara umum kecuali riwayat dari orang Syiah, karena Syiah sudah terlalu banyak berdusta.

Imam Malik ketika ditanya tentang Rofidhoh beliau berkata, “Jangan kalian berbicara pada mereka dan jangan meriwayatkan dari mereka, karena mereka adalah pendusta.” (24)

Imam Syafi’i juga mengatakan tentang mereka, “Aku tidak mendapati seseorang yang lebih terlihat jelas kedustaannya dibanding orang Rofidhoh.” (25)

Syuraik Al-Qadhi juga berkata, “Aku mengambil ilmu dari siapapun yang aku temui kecuali orang Rofidhoh, karena mereka gemar memalsukan hadits sekaligus menjadikannya pedoman agama.”

Imam Ibnu Taimiyah berkata, “Seluruh ahlul ilmi telah bersepakat perihal periwayatan dan isnad bahwa Rofidhoh adalah kelompok yang paling gemar berdusta, kedustaan mereka sudah sejak dulu, oleh karenanya para Imam agama Islam sejak dulu sudah mengetahui ciri khas mereka dalam berdusta. (Minhajus Sunnah An-Nabawiyah/Ibnu Taimiyyah: 1/26)

Dalam penjelasan Akhirnya beliau mengatakan, “Sedangkan Rofidhoh asli bid’ah mereka adalah zindik sekaligus atheis, karena mereka selalu sengaja berdusta dan mereka mengakui itu, sebagaimana mereka berkata, ‘agama kita adalah taqiyah, yaitu salah seorang dari kalian berkata dengan lisannya menyelisihi apa yang disimpan dalam hati’. Hal ini merupakan bentuk dusta dan nifaq.” (28)

Perbedaan Ketujuh: Taqiyah syar’iyah bukanlah sebagai sarana untuk memuliakan dienul Islam.

Taqiyah Syar’iyah: dalam ajaran Islam, taqiyah yang benar bukan merupakan suatu perantara untuk mencapai kemuliaan Islam, bahkan untuk menunjukkan kemuliaan Islam adalah dengan menampakkan ke-Islaman kita kepada para musuh dan tidak menyembunyikannya. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (Al-Fath: 28)

Taqiyah Syiah: Dalam ajaran Syiah taqiyah justru menjadi sarana utama yang mereka yakini dapat memuliakan agama mereka. Agama Syiah menurut mereka tidak akan mulia jika tidak disembunyikan, sebagaimana Abu Abdilla dalam riwayat mereka mengatakan, “Sesungguhnya kalian berada di agama yang jika kalian menyembunyikannya niscaya Allah akan memuliakannya, tetapi barang siapa yang menampakkannya niscaya Allah akan menghinakannya.” (29)

Sebagaimana penjelasan di atas bahwa taqiyah syar’iyah sangat berbeda dengan taqiyah yang diyakini Syi’ah. Taqiyah syar’iyah disyari’atkan pada saat-saat genting dan terpaksa, taqiyah syar’iyah juga dilakukan kepada orang-orang kafir bukan untuk sesama mukmin, sebagaimana konteks ayat tentang taqiyah dalam surat Al-Imran, taqiyah syar’iyah juga bukan merupakan ushuluddin (pokok agamama), dan yang tidak melakukannya tidak dihukumi kufur atau murtad.

Sedangkan taqiyah Syi’ah mereka yakini sebagai ushuluddin (pokok agama) yang jika ditinggalkan maka dapat menyebabkan kekufuran, orang Syi’ah juga melakukan taqiyah dalam seluruh keadaan, tidak membedakan mendesak atau tidak, bahaya atau aman, dan mereka melakukan taqiyah terutama mereka tujukan untuk Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Kesimpulan:

Pada dasarnya umat Islam dilarang untuk menyerupakan ajaran yang murni dari Islam dengan ajaran yang dibuat-buat oleh orang Zindiq. Setelah kita mengetahui hakikat taqiyah agama Syi’ah, kita dapat menyimpulkan bahwa taqiyah Syi’ah tidak ada bedanya dengan dusta atau kemunafikan, bahkan taqiyah Syi’ah itulah inti dari dusta dan kemunafikan.

Dan akhrinya, kita selalu memohon kepada Allah ta’ala Yang Maha Tinggi lagi Maha Menentukan, untuk selalu melindungi kita dari ketergelinciran pada keburukan dan mengokohkan kita agar senantiasa selalu berada di gari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alammin..

*Beliau merupakan anggota dari Rabithah Ulama Syari’ah Majelis Ta’awun

(1) Lihat: Tafsir Al-Baghowi 2/26.

(2) Lihat: Ushul Al-Kafi, Al-Kullaini 2/217, Bihar Al-Anwar, Al-Majlisi 75/423.

(3) Lihat: Ushul Al-Kafi, Al-Kullaini, Bab Taqiyyah 2/217, 219.

(4) Lihat: Man Laa Yahdzuruhu Al-Faqih, Ibnu Babuwaih 2/80, Bihar Al-Anwar, Al-Majlisi 75/423, 414.

(5) Lihat: Ikmal Ad-Diin, Ibnu Babuwaih 355, Bihar Al-Anwar, Al-Majlisi 75/412.

(6) Lihat: Tafsir At-Thobari 6/316.

(7) Lihat: Tafsir Al-Baghowi 2/26.

(8) Lihat: Tafsir Ar-Razi 4/170.

(9) Lihat: Wasail As-Syi’ah, Al-Hurr Al-‘Amali 11/470.

(10) Lihat: Bihar Al-Anwar, Bab Taqiyyah 75/421.

(11) Lihat: Al-I’tiqodaat, Ibnu Babuwaih 111.

(12) Lihat: Talkhis As-Syafi, At-Thusi 4/131.

(13) Lihat: Fathul Bari 12/317.

(14) Lihat: Tafsir Ar-Razi 4/170.

(15) Lihat: Tafsir Al-Bahr Al-Muhith, Abi Hayyan 3/191.

(16) Lihat: Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi 1/372.

(17) Lihat di kitabnya Al-I’tiqodaat 114, 115

(18) Lihat: Tafsir Al-Baghowi 2/26.

(19) Lihat: Wasail As-Syi’ah: 11/466, Bihar Al-Anwar 75/395.

(20) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 2/30.

(21) Lihat: Ad-Durrul Mantsur, As-Suyuti 2/176.

(22) Lihat: Al-Muharror Al-Wajiz, Ibnu Atiyyah 1/400.

(23) Lihat: Ushul Madzhabi As-Syi’ah, Al-Qifari 2/981.

(24) Lihat: Lisanul Mizan, Ibnu Hajar 1/10.

(25) Lihat: Sunan Al-Baihaqi Al-Kubro 10/208.

(26) Lihat: Mizanul I’tidal fie Naqdi Ar-Rijal, Adz-Dzahabi 1/208.

(27) Lihat: Lisanul Mizan, Adz-Dzahabi 1/10, Minhajus Sunnah, Ibnu Taimiyyah 1/26.

(28) Lihat: Minhajus Sunnah An-Nabawiyah, Ibnu Taimiyyah 1/30.

(29) Lihat: Ushul Al-Kafi 1/222.

(Artikel ini diterjemahkan dari tulisan Dr. Basim Amir di situs saaid.net oleh tim redaksi alislamu.com dengan sedikit editing)