Suara Pembaca: Untuk Saat Ini, Saya Masih Butuh FPI

Bismillahirrohmanirrohim

WACANA pembubaran Front Pembela Islam (FPI) yang mencuat akhir-akhir ini menarik untuk terus disimak dan diikuti perkembangannya. Hal ini juga yang mendorong saya untuk ikut urun tulisan dalam membuka public opinion (wacana public) ada apa di balik itu semua.

Penolakan FPI di Palangkaraya yang berbuntut pada aksi demo di bundaran HI kemarin (14 Pebruari 2012), menjadi momentum kaum liberal (yang mengayomi makhluk kelainan jenis seperti;lesbian, homoseksual, biseksual dan waria/LGBT) untuk mengumbar gagasannya.

Fakta menunjukkan, beberapa kali gerakan yang paling menentang FPI banyak didominasi wajah-wajah preman, bencong, aktivis feminisme, pria/wanita bertato, wanita-wanita pengumbar aurat dan beberapa LSM gadungan yang tidak jelas.

Saya melihat wajah-wajah Korlap, seperti Vivi Widyawati (dari LSM Perempuan Mahardika), juga ada pentolan gerakan Indonesia Liberal yang diantaranya Ulil Abshar Abdallah (JIL), Hanung Bramantyo (sutradara liberal), Guntur Romli (JIL), Anis Hidayah (Migrant Care), Tunggal Pawestri, Inayah Wahid (putrid Gus Dur), cukup bagi masyarakay (khususnya saya) menunjukkan wajah sebenarnya mereka.

Umumnya, mereka adalah orang-orang dan kelompok yang selama ini punya masalah dengan FPI. Wabil khusus, bisa dikatakan, mereka yang tak akan bisa hidup dan berkembang jika FPI hadir. Sayang, saya tidak melihat Ariel dan pentolan DEWA, Ahmad Dhani yang biasanya suka sedikit “menantang” jika bicara. Atau Dewi Persik, Inul atau Jupe. Jika mereka hadir, Alhamdulillah, biar lebih jelas semua.

Ironinya, aksi ini tidak muncul ketika maraknya kasus perkosaan, kasus tawuran atau kerusuhan, serta pembantaian yang sekarang sering terjadi di Indonesia. Para aktivis yang mengusung gerakan anti-anarkis ini membisu ketika tragedi-tragedi mengerikan yang telah merenggut nyawa rakyat kecil (khususnya yang jadi korban umat Islam).

Di manakah saat itu dirimu wahai Vivi Widyawati? Anis Hidayah, Tunggal Pawestri, Inayah Wahid dan siapapun yang mengaku sebagai aktivis perempuan ketika kaumnya banyak diperkosa dan dianiaya?

Tapi biasanya mereka akan bersuara keras jika ada satu-dua TKW bermasalah di Arab Saudi atau dari Negara-negara Islam. Giliran banyak perempuan dan TKW kita banyak jadi korban di Negeri asing (yang umumnya bos nya adalah warga keturunan), bahkan TKW yang menjadi korban di Negeri sendiri, mereka nyaris bungkam.

Sebagai bagian dari umat Islam, saya pribadi masih ingin FPI ada evaluasi diri. Bagaimanapun, saat ini, bagi kami, FPI tetap masih diperlukan. Kecuali, suatu saat, aparat keamanan kita menghargai hak mayoritas umat Islam (faktanya Indonesia adalah mayoritas Muslim).

Faktanya pula, hak-hak umat Islam selama ini tidak banyak mendapat tempat. Hak tak adanya prostitusi, maksiat, beredarnya miras dll. Jika aparat suda peka terhadap harapan umat Islam, tentu FPI sudah tak diperlukan lagi. Seperti Malaysia, di mana polis –nya mengerti hak mayoritas di Negeri itu. Lha, sementara di tempat kita justru terbalik. Hanya 60 orang JIL dan LGBT berdemo, seluruh media bisa memaksa aparat mengeksekusi masalah.

Sebenarnya saya tidak bermaksud mendeskripsikan satu golongan. Hanya saja, saya ingin sekedar mengajak untuk bersama mencermati muatan-muatan tersembunyi dibalik gerakan “#Indonesia Tanpa FPI”.

Umat Islam mari lebih bersikap cerdas dan adil dalam melihat masalah. FPI bisa keliru, apalagi JIL dan lebih-lebih LGBT. Media juga harus fair. Jangan sampai kita terjebak dalam wacana yang berkembang dan ikut menjustifikasikan akar masalah dari satu golongan saja. Media harus juga melihat jutaan umat Islam. Tapi untuk yang ini, saya tidak banyak berharap.

Namun hal yang lebih penting untuk saya sampaikan adalah; Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sudah jauh-jauh hari mengatakan, “Sesungguhnya agama (Islam) itu pada mulanya asing (tidak dikenal) dan kembali asing pula, maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing. Yaitu mereka yang memperbaiki apa-apa yang telah dirusakkan manusia di masa sesudah aku daripada sunnahku.” (HR. Tirmidzi).

Umat Islam harus peka melihat ini. Barangkali inilah tanda zaman, seperti dikatakan Umar bin Khatab, ketika segelintir “orang jahat” bisa mengendalikan “orang baik” yang jumlahnya lebih besar.

Hanya masalahnya, kewajiban kita tidaklah hanya berhenti pada pesan Nabi itu saja. Sebab Allah Subhanahu Wata’ala meminta kita terus melakukan amar ma’ruf nahi munkar hingga ajal menjemput. Jika tidak, kita akan dimasukkan Allah ke dalam golongan “orang alim yang diam”.

Semestinya kira merapatkan barisan, menghadang dan menghalau gerakan-gerakan tersebut dengan melakukan amal ma’ruf nahi munkar. Dengan cara apapun yang kita bisa dan kita miliki. Inilah upaya kita hari ini, jika tidak, apa yang kita pertanggung-jawabkan kepada Allah di Yaumul Qiyamah nanti? wallahualam bissawab.

Zainal Arifin, seorang guru, tinggal di Depok

Sumber: hidayatullah.com