Peluncuran Buku Mereka Bukan Thagut: PNS, Aparatur Negara Bukan Thagut

VOA-ISLAM – Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Aparatur Negara bukanlah Thagut. Saat ini ada lima juta PNS di seluruh Indonesia. Jika mereka dicap Thagut, berarti seluruh PNS di negeri ini menjadi kafir dan akan masuk neraka.

Demikian dikatakan Khairul Ghazali, terpidana kasus perampokan Bank CIMB Medan, saat peluncuran buku yang ditulisnya “Mereka Bukan Thagut” beberapa waktu lalu, Sabtu (17/12)di Hotel Sahid, Jakarta. Narasumber yang dihadirkan dalam launcing buku yang diterbitkan oleh Grafindo Khazanah Ilmu tersebut, yakni: Ustadz Abu Rusdan, Ustadz Ja’far Umar Thalib, Ustadz Abdurrahman Ayyub, dan Prof. DR. H. Mohammad Baharun. Juga hadir Ketua BNPT Ansyad Mbai, Nasir Abas, Sarlito Wirawan, dan “jamaah” BNPT lainnya.

Di awal pembicaraan, Khairul Ghazali mengakui, buku “Mereka Bukan Thagut” yang ia tulis di dalam penjara ini, bisa menimbulkan kemurkaan segolongan orang. Bisa dipastikan, mereka akan menganggap dirinya sebagai bagian dari thagut.

“Jika membaca judul pada cover buku ini saja, yakni Mereka Bukan Thagut, sudah tampak, bahwa saya terkesan seperti membela thagut. Setidaknya, saya akan dicap ansharut thagut(penolong thagut). Tapi, jangan buru-buru su’udzan dulu, akan saya uraikan, apa itu thagut,” kata Khairul.

Menurut lelaki kelahiran Medan, 29 April 1965 ini, ada beberapa alasan dan latarbelakang, mengapa ia memberi judul buku “Mereka Bukan Thagut”. Dikatakannya, di tengah banyak kajian lain, pembahasan soal thagut menjadi urgen dan relevan untuk saat ini. Seperti diketahui, kajian thagut menjadi fenomena yang berkembang di tengah masyarakat. Telaah, kajian analisis dan tafsir tentang thagut begitu bervariasi dan banyak ragamnya.

“Sangat disayangkan, jika kajian ihwal thagut telah digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menyerang siapa saja yang berseberangan dengan keyakinan mereka. Inilah puncak lahirnya radikal ekstrimis ideologi yang bermuara pada tindakan anarkis atau teroris,” ujar Khairul memberi definsi baru.

Telah terjadi distorsi tentang pemahaman istilah thagut. Dengan beraninya, lanjut Khairul, kelompok-kelompok radikal itu memvonis, bahwa seluruh aparatur negara, PNS, semua orang yang bertemu dengan pemimpin negara ,atau yang hadir dalam majelis resmi kenegaraan akan disebut thagut, atau ansharut thagut. “Bayangkan, ada hampir 5 juta PNS di seluruh Indonesia. Itu berarti, seluruh PNS telah dicap thagut, kafir dan akan masuk neraka, ”ucapnya.

Begitu juga, ulama yang berdekatan dengan pemerintah dan penguasa, ulama yang memberi nasihat, pendapat dan bimbingan kepada pemerintah pun juga dianggap bagian dari thagut. “Pada akhirnya, istilah thagut menjadi bahasa ideologi yang agitatif, paling afdhol, jadi bahan cuci otak yang mengarahkan orang untuk menjadi pelaku-pelaku teroris. Melalui buku ini, saya ingin mengajak saudara saya untuk kembali ke basic, pada pemahaman yang sebenarnya tentang thagut, sehingga tidak terjadi pembusukan dan distorsi pemahaman,” ungkap Khairul yang divonis penjara selama 6 tahun ini.

Thagut Secara Etimologi

Menurut Khairul, secara etimologi, thagut berasal dari kata thagayang artinya perbuatan melampaui batas, sewenang-wenang, batil, anarkis, zalim, dan perbuatan menyimpan. Dalam Al Qur’an telah dijelaskan, bahwa sesunguhnya manusia itu adalah thagut, melampaui batas, sewenang-wenang dan zalim, lantaran dia merasa dirinya serba super, paling hebat, merasa alim, taat, berilmu, merasa benar sendiri dan lebih baik dari orang lain. Bahkan mengklaim dirinya ahli jannah, ahli hak, yang lain ahli nar, batil, dan thagut.

Secara etimologi, kita semua berpotensi menjad thagut. Sangat disesalkan, jika selama ini kita sibuk menthagutkan orang, sementara sifat-sifat thagut sesungguhnya ada dalam diri kita sendiri. Jadi yang harus digarisbawahi adalah, thagut bermakna melampaui batas. “Jika suami menampar istrinya, maka sudah bisa disebut thagut. Ketika kita marah, hilang daya nalar dan kritis, maka ketika itu kita sudah melakukan perbuatan thagut. Dengan begitu, kita, siapa saja, berpotensi menjadi thagut, yakni melampaui batas, ” tukas Khairul.

Lebih lanjut Khairul menjelaskan, terjadi salah kaprah terhadap istilah thagut. Kekeliruan memahami thagut, sama dengan memutilasi syariat dan ajaran Islam. Mutilasi bukan hanya kepada manusia saja, ayat-ayat Al-Qur’an pun bisa dipotong-potong. Pemahaman dan pengertian soal thagut, bisa disunat sedemikian rupa, diobrak-abrik menurut selera pemahaman, ideologi dan kepentingan mereka.

Para alim ulama telah merumuskan uraian secara mendalam tentang thagut, namun masing-masing ulama punya pendapat berbeda-beda, belum ada kesepakatan diantara mereka. Namun, mereka bersepakat, bahwa thagut itu adalah setan, dukun, paranormal yang menebak-nebak nasib orang, sok tahu dengan perkara yang ghaib, yang seolah-olah bisa mengangkap jin dalam botol. Secara terminologi, thagut itu dukun, tukang sihir, yang disembah selain Allah, dan semua yang menyuruh pada kebatilan.

Mencontoh Rasulullah

Secara spesifik, semua pemimpin yang menyeru pada kebatilan termasuk bagian thagut. “Tapi, kemudian, pengertian thagut telah dimutasi oleh kelompok radikal ekstrimis ideologi, karena mereka punya kepentingan. Mereka menyunat istilah thagut hanya pada satu fokus saja, yakni penguasa yang tidak memakai hukum Allah adalah thagut. Sehingga setan, tukang sihir, dukun dan berhala tidak lagi menjadi thagut. Karena istilah thagut telah dilempar kepada pemuka para penguasa dan aparaturnya. Sebuah distorsi yang luar biasa,” ungkap Khairul.

Khairul yang mengaku pernah ikut pengajian Ustadz Abu Bakar Baasyir saat tinggal di Malaysia mengatakan, mereka membawa ayat-ayat Allah untuk menjustifikasi perbuatannya melakukan teroris, padahal Rasulullah tidak pernah mengajarkan sifat bengis dan kasar. Rasulullah mengajarkan Islam yangrahmatan lil’alamin, beliau memiliki akhlak yang begitu hebatnya. Disebabkan rahmat Allah lah engkau berikap lemah lembut kepada mereka, Rasulullah adalah contoh terbaik, pembawa risalah Islam, dididik Allah untuk bersikap lemah lembut.

“Allah saja memerintahkan Nabi Musa as untuk mendatangi Fira’un dengan dakwah bil hikmah, dan bersikap lemah lembut. Siapa tahu, Fir’aun bisa sadar dan takut. Padahal, Fir’aun jelas-jelas thagut paling besar. Memvonis thagut secara permanen adalah bahan cuci otak seseorang untuk menjadi human booming, dan melahirkan ‘pengantin’, sehingga nama Islam menjadi tercemar,” tandas Khairul yang pernah menjadi wartawan Majalah Ummah di Malaysia.

Khairul berharap, buku yang ditulisnya ini bertujuan untuk meluruskan pengertian tentang thagut, agar seluruh umat Islam, terutama dai-dainya mendakwahkan istilah thagut dengan hikmah dan bijaksana, karena nyaris-nyaris da’i yang keliru memberi pengertian soal thagut, bisa menjadi thagut itu sendiri. (Arbi)