Warisan Neraka Penjajah Amerika Serikat di Irak

ERAMUSLIM – Tentara AS membawa bendera nasional Irak dan bendera AS selama upacara yang menandai berakhirnya misi militer AS di Irak, berlangsung di Diplomatik Support Center, Bagdad, 15 Desember 2011.

Presiden Irak Jalal Talabani dan Perdana Menteri Nouri al-Maliki hadir pada upacara yang menandai berakhirnya penjajahan AS terhadap Irak, hari Rabu. Secara formal misi militer AS di Irak berakhir. Tetapi misi milter yang lebih tepat sebagai penjajahan itu telah begitu banyak meninggalkan tragedi kemanusiaan.

Presiden George Walker Bush, yang melakukan invasi militer ke Bagdad itu, dan dengan dukungan 300.000 pasukan sekutu, benar-benar menjadikan Irak sebagai neraka kehidupan. Kehancuran di mana-mana. Kematian di mana-mana. Irak hancur-luluh. Apa yang dilakukan oleh George Bush jauh lebih buruk dan jahat dibandingkan dengan pasukan Tartar, yang pernah menyerbu dan membumi-hanguskan Bagdad.

Saddam Hussein telah pergi. Patung Saddam telah digulingkan oleh sekutu. Saddam telah digantung. Tetapi akibat invasi militer AS terhadap Irak, yang berlangsung hampir satu dekade itu, menyebabkan segalanya telah berubah. Segalanya menjadi luluh-lantak, menjadi puing-puing, terkoyak, dan tidak ada lagi, yang tersisa. Justru AS terus menanamkan pengaruhnya di Bagdad, dan menempatkan rezim Nur Ali Maliki (Syiah) yang menjadi boneka dan kaki tangannya.

Akibat invasi AS itu, lebih dari 500.000 rakyat Irak tewas, lebih dari 3 juta orang lari dari negaranya. Infrastruktur hancur. Gedung-gedung hanya tinggal menjadi puing. Semua dihancurkan ketika AS saat datang dan dengan senjata canggih menyerbur Bagdad. Kejahatan AS sangat terkutuk. Tentu semuanya kejahatan itu masih belum cukup.

Sekarang AS mewariskan konflik antara Sunni, Syiah, dan Kurdi, yang terus-menerus mengoyak kehidupan rakyat Irak. Setiap hari ratusan orang tewas akibat konflik antara Syiah, Sunni, dan Kurdi. Semuanya ini di “manage” (dikelola) oleh CIA, yang masih bercokol di Irak, agar negeri itu, terpecah-pecah, dan lemah. Tujuannya untuk menguasai sumber minyak yang melimpah.

Skenario masa depan Irak akan menjadi tiga negara “mini” yang dibagi menjadi wilayah Syiah di selatan, Sunni di tengah, dan Kurdi di utara. AS terus mendorong konflik itu menjadi laten atau permanen.

Agen CIA menyusup ke dalam kelompok Sunni, yang melakukan serangan bom terhadap pusat-pusat Syiah, yang menimbulkan banyak korban terhadap kelompok Syiah. Kemudian, Perdana Menteri Ali Nur Maliki, yang lama mukim di AS, dan menjadi “binaan” CIA itu, membalas kelompok Sunni, menyisir wilayah yang dihuni Sunni dengan menggunakan pasukan militer, dan membunuh begitu banyak penduduk Sunni dan tokoh-tokohnya.

Agen CIA juga menginfiltrasi jaringan Kurdi, dan memprovokasi terhadap kelompok ini, yang kemudian menyerang basis-basis Syiah. Konflik spiral Syiah, Sunni dan Kurdi ini, tidak akan pernah habis. Selamanya akan dipertahankan oleh AS sampai benar-benar negara Irak, menjadi jajahannya.

Infiltrasi agen-agen CIA terhadap kekuatan-kekuatan politik dan kelompok alliran di Irak merupakan strategi baru dari Direktur CIA Leon Panetta, yang sekarang menjadi Menteri Pertahanan AS, dan dilanjutkan oleh Jenderal David Petraeus. AS tetap mempertahankan kehadirannya di Irak dengan lebih effesien, tanpa harus membiayai ribuan pasukannya lagi.

Minyak Irak sudah dikuasai seluruhnya oleh AS, dan dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan minyak raksasa AS. Presiden Jalal Talabani dan Perdana Menteri Nur Maliki, tak lain, orang “upahan” AS, yang menjalankan semua misi kepentingan AS di Bagdad. Dua orang tokoh dari kelompok Kurdi dan Syiah ini, menjalankan skenario AS, yang melakukan pendudukan terhadap Irak, pasca penarikan pasukan AS dari negeri itu.

Yakinlah. Penarikan pasukan AS dari Irak, hanyalah politik Barack Obama, yang ingin menaikkan pamor namanya, saat menjelang kampanye presiden 2012 ini. Tidak ada yang lain. Obama ingin mengakhiri pendudukan militer terhadap Irak, karena Obama ingin lebih fokus terhadap masa jabatannya yang kedua. Irak sudah tidak diperlukan lagi perhatian yang serius, karena sudah dikuasainya. Tidak perlu mengeluarkan anggaran militer triliun dollar. Karena Irak sudah dapat ditaklukkan.

Para pemimpin Irak Jalal Talabani dan Nur Maliki sudah dibawah kendali AS, dan menjalankan misi kepentingan AS di negerinya. Obama ingin memperbaiki citranya, dan memotong anggaran militer, yang akan dialihkan memperbaiki ekonomi AS, yang sudah bangkrut. Ini semuanya tujuan untuk memenangkan pemilihan presiden nanti.

Obama namanya menjulang dikalangan rakyat AS, pertama berhasil membunuh tokoh yang dianggap menjadi ancaman kepentingan AS secara global, Osama bin Laden, dan kedua menggantung Saddam Husien, dan menghancurkan Irak, dan kemudian Irak menjadi bagian kepentingan AS.

Membebaskan Irak memerlukan waktu yang sangat panjang, dan tokoh yang bukan boneka, seperti Jalal Talabani dan Nur Maliki.

Sekarang AS hanya tinggal menghadapi kelompok Sunni di Falujah, yang masih terus bergejolak melawan kepentingan AS di negeri itu. Semuanya akan dapat diatasi, kerjasama antara agen-agen CIA, yang masih bercokol di Irak dengan mukabarat (intelijen) Irak, dan pasukan khusus Syiah dari kelompok al-Sadr, yang dapat dimanfaatkan menghadapi kalangan Sunni.

Fragmentasi (pengelompokkan) berdasarkan agama dan ideologi ini, terus dipertahankan dan dikelola oleh AS dengan seksama. Ini menyangkut kepentingan jangka panjang AS di kawasan Teluk, yang sangat kaya dengan minyak. Tidak ada kepentingan lain dari AS di kawasan itu, kecuali bagaimana menguasai wilayah yang kaya minyak. Irak merupakan negara penghasil minyak terbesar kedua sesudah Saudi.

Tak ada yang dapat diharapkan dari kepergian pasukan AS dari Irak. Karena hakekatnya Irak tetap di jajah oleh AS dengan menggunakan “tangan-tangannya” yang ada di Bagdad, dan mereka masih tetap setia. Ini akan terus berlanjut, dan bersifat permanen.

Gerakan yang harus dibangun oleh rakyat Irak, menyingkirkan para boneka AS, yang sekarang ini mewakili kepentingan penjajah AS di Irak, yang diwakili oleh Jalal Talabani dan Nur Maliki, yang merupakan orang-orang kepercayaan AS. (Afghn/Arbi)