Kristen RMS Ancaman Keamanan Umat Islam Maluku, Fakta atau Mitos?

VOA-ISLAM – Keberadaan kelompok separatis salibis RMS (Republik Maluku Sarani=Nasrani) –bukan Republik Maluku Selatan seperti anggapan banyak orang– hingga kini masih eksis dan terus melancarkan programnya.

Meski banyak kalangan Nasrani berusaha menutup-nutupi keberadaan RMS, namun terbantah oleh fakta-fakta di lapangan. Banyak sekali kejadian yang membuktikan masih aktifnya keberadaan RMS dalam pengkaderan dan propaganda. Bahkan RMS telah berhasil merekrut banyak kader dari berbagai kalangan dan profesi.

Hal ini terbukti dengan banyaknya kader RMS yang tertangkap yang memiliki latar belakang profesi bermacam-macam dari pelajar, guru sampai Pegawai Negeri Sipil. Berikut adalah faktanya:

Pertama, pada tahun 2003 aparat kepolisian Polda Maluku menangkap beberapa orang kader RMS yang sedang mengadakan rapat gelap. Dalam penangkapan tersebut disita beberapa dokumen dan bendera RMS. Beberapa kader RMS yang ditangkap antara lain Markus Siwabesy, seorang Pegawai Negeri Sipil di Polda Maluku dan Edward Latuhihin, seorang pegawai Negeri Sipil di Kantor Gubernur Maluku.

Kedua, pada bulan Agustus 2005, aparat kepolisian Polda Maluku menangkap tiga orang kader RMS yang dianggap bertanggungjawab terhadap pengibaran bendera RMS di beberapa tempat di kota Ambon, yaitu: Franky Sahertian (mantan pegawai Telkom yang pensiun dini), Jhony Noya (pelajar SMU PGRI kelas 2), dan Marno Lambatir (tukang ojek).

Ketiga, dalam kasus tarian Cakelele RMS pada tanggal 23 Juni 2007 di hadapan Presiden SBY pada upacara peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) di lapangan Merdeka Ambon. Salah satu dari 40 pelaku yang ditangkap aparat itu bernama Teterisa, berprofesi sebagai Guru Negeri. Lebih dari 40 orang ditangkap dalam insiden tersebut dan mereka divonis antara 2 sampai 15 tahun.

Fakta fakta adalah beberapa bukti bahwa RMS telah berhasil merekrut kader dari berbagai kalangan dan profesi. Dan tidak menutup kemungkinan hari ini mereka lebih gencar dalam melakukan rekruitmen. Karena sampai hari ini RMS masih gencar melakukan propaganda dan kampanye untuk menunjukkan eksistensinya di hadapan publik Maluku dan Dunia internasional, di antaranya:

Pertama, Mengudaranya Radio Mena Moria yang bisa didengarkan di www.menamoria.com. Mena Muria adalah salam perjuangan RMS seperti pekik “Merdeka” bagi pejuang ‘45. Mena Muria yang memiliki arti kurang lebih maju terus pantang mundur, yang biasa diucapkan pada acara-acara RMS atau ketika sesama kader RMS bertemu.

Meskipun belum bisa dipastikan ada keterkaitan antara Radio Mena Moria dengan gerakan separatis RMS namun pengambilan nama mena moria mencurigakan dan ditengarai menjadi ini bagian dari propaganda dengan membiasakan orang mendengar kalimat Mena Muria yang selama ini bagi sebagian orang terutama muslim masih dianggap tabu dan asing untuk mengucapkannya.

Kedua, Kader-kader RMS melakukan propaganda melalui media maya seperti internet. Melalui situs-situs dan jejaring sosial para kader RMS didapat beberapa bukti akan aksi propaganda mereka, di antaranya foto dari para kader RMS dengan latar belakang bendera benang raja (istilah untuk bendera RMS). Bahkan sebagian dari foto-foto RMS tersebut diformat untuk wallpaper telepon genggam.

Jelaslah bahwa keberadaan RMS sebagai organisasi separatis di Maluku masih eksis dengan agenda kaderisasi dan propaganda.

Cukuplah tragedi Idul Fitri berdarah pada 19 Januari 1999 menjadi pelajaran pahit dan berharga bagi kaum muslimin, betapa RMS masih menjadi ancaman bagi eksistensi perdamaian di Maluku. (Arbi)